Nasional

Melalui Kegiatan Interaktif, Santri Diajarkan Kelola Sampah Mandiri

NU Online  ·  Selasa, 24 Februari 2026 | 14:30 WIB

Melalui Kegiatan Interaktif, Santri Diajarkan Kelola Sampah Mandiri

Eco Pesantren Kilat (Sanlat) di Pusat Studi Qur'an, Pondok Cabe, pada Selasa (24/2/2025). (Foto: NU Online/Suci)

Tangerang Selatan, NU Online

Greenpeace Indonesia bersama platform dakwah Cariustadz.id menggelar kegiatan Eco Pesantren Kilat (Sanlat) di Pusat Studi Qur'an, Pondok Cabe, pada Selasa (24/2/2025).


Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari perwakilan pesantren se-Tangerang Selatan, pengurus DKM masjid, dan santri Bayt Al-Qur’an.


Peserta dibekali workshop pengelolaan sampah dan kegiatan interaktif berupa permainan kartu edukatif yang dibimbing fasilitator.


Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Riska Rahman mengatakan, dari permainan ini, para peserta diajak memahami kondisi darurat sampah di Indonesia, khususnya di Tangerang Selatan.


“Kalau kita terus menunggu langkah pemerintah, masalah sampah nggak akan selesai. Karena itu, kita berinisiatif mengajak pesantren dan masjid untuk mulai mengelola sampahnya sendiri,” ujar Riska ditemui NU Online.


Menurutnya, pesantren dan masjid menjadi target penting karena keduanya memiliki aktivitas padat dan jumlah jamaah besar yang menghasilkan volume sampah cukup tinggi.


“Kalau mereka bisa mandiri kelola sampah, itu bisa sangat mengurangi beban Dinas Lingkungan Hidup,” tambahnya.


Dalam sesi pelatihan, peserta belajar mengolah sampah organik menjadi kompos yang bisa digunakan kembali sebagai pupuk tanaman. 


"Kita ambil hasil bumi, lalu sisa makanannya kita olah lagi jadi tanah subur. Siklusnya kembali ke bumi, itu bagian dari ibadah dan rasa syukur kita,” ujar Riska.


Selain teori, peserta juga diajak praktik langsung membuat kompos dan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai refleksi untuk menahan hawa nafsu konsumtif.


"Di bulan Ramadhan, volume sampah makanan bisa naik 10–20 persen. Karena lapar mata, kita beli semua makanan yang kita lihat. Padahal ajaran Islam mengajarkan kita untuk tidak berlebihan,” jelas dia.


Meski banyak inovasi pengelolaan sampah yang digagas, aktivis Greenpeace menilai pemerintah masih minim kemauan politik (political will) dalam mendukung sistem pengolahan yang berkelanjutan.


"Selama ini kampanye pemerintah sebatas imbauan, belum sampai pada pembekalan teknis. Padahal masyarakat butuh pelatihan konkret, bukan cuma slogan ‘jangan buang sampah sembarangan," ujarnya.


Greenpeace juga mendorong pemerintah agar menekan produsen untuk ikut bertanggung jawab terhadap limbah kemasan. 


"Kita perlu sistem guna ulang dan refill. Sekilas kelihatannya seperti itu murah, tapi dampak lingkungannya mahal,” tegasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang