Nasional

Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi

NU Online  ·  Kamis, 8 Oktober 2026 | 16:00 WIB

Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi

Enam A’wan PBNU 2026–2031 dari kalangan guru besar dan rektor perguruan tinggi. (Foto: NU Online/Aceng Darta)

Jakarta, NU Online

Sejumlah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 yang menduduki posisi A’wan merupakan guru besar dan pimpinan perguruan tinggi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari hukum Islam, manajemen, teknik, hingga bidang sosial dan keagamaan.


Enam tokoh tersebut adalah Prof Asasriwarni, Prof Masnun Tahir, Prof Eduart Wolok, Prof Suharnomo, Prof Muhammad Madyan, dan Prof Sumper Mulia Harahap.

 

Prof Asasriwarni

Guru Besar Ilmu Hukum Islam UIN Imam Bonjol Padang, Prof Asasriwarni, kembali dipercaya menjadi salah satu A’wan PBNU untuk kedua kalinya.


Prof Asasriwarni lahir di Maek, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada 27 Maret 1952. Ia menempuh pendidikan di Pondok Tarbiyah Tabek Gadang selama lima tahun, sejak 1967 hingga lulus pada 1972.


Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, ia melanjutkan pendidikan sarjana di IAIN Imam Bonjol Padang. Pendidikan magister ditempuh di Universitas Ekasakti, sedangkan pendidikan doktoralnya diselesaikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Di lingkungan Nahdlatul Ulama, kiprah Prof Asasriwarni juga cukup panjang. Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Syuriah PWNU Sumatera Barat periode 2005–2010 dan kemudian menjadi Rais Syuriah PWNU Sumatera Barat periode 2010–2015.


“Saya pernah dipercaya sebagai A’wan PBNU pada periode sebelumnya dan kini untuk kedua kalinya masuk dalam jajaran A’wan PBNU era Gus Kikin,” kata Prof Asas, sapaan akrabnya, kepada NU Online, Rabu (7/10/2026).


Prof Masnun Tahir

A’wan PBNU lainnya adalah Prof Masnun Tahir, Rektor sekaligus Guru Besar UIN Mataram. Masnun lahir di Dasan Baru, Lombok Tengah, pada 27 Agustus 1975.


Prof Masnun menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Syariah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1999. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 di kampus yang sama dan lulus pada 2002. Pendidikan doktoralnya juga ditempuh di UIN Sunan Kalijaga dan diselesaikan pada 2011.


Karier akademik Prof Masnun dimulai sebagai calon dosen STAIN Mataram pada 2004. Ia kemudian menjadi Asisten Ahli di Fakultas Syariah, Lektor Fakultas Tarbiyah, hingga Lektor bidang Hukum Islam pada Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Mataram.


Pada 2015, ia dipercaya menjadi Lektor Kepala sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Mataram. Tiga tahun kemudian, ia menjabat sebagai Guru Besar sekaligus Wakil Rektor untuk bidang Mata Kuliah Hukum Perdata Islam pada Pascasarjana UIN Mataram.


Sejak 28 Juli 2021, Prof Masnun tercatat sebagai Guru Besar sekaligus Rektor UIN Mataram.


Di luar kampus, kiprah Prof Masnun juga tidak terlepas dari Nahdlatul Ulama. Ia tercatat menjadi Ketua PWNU NTB pada 2019 dan kembali tercatat sebagai Ketua PWNU NTB pada 2025. Ia juga pernah menjadi Ketua Forum Majelis Warek/Waket 1 PTKIN serta Ketua Forum Rektor/Ketua PTKIN.


Latar belakangnya sebagai akademisi hukum Islam membuat pemikiran Prof Masnun banyak bersinggungan dengan persoalan hukum keluarga, fikih, serta dinamika hukum Islam di Indonesia. Sejumlah karya ilmiahnya antara lain membahas hukum keluarga Islam, fikih muamalah, perlindungan anak dalam perspektif agama dan negara, hingga politik hukum Islam di Indonesia.


Prof Eduart Wolok

Tokoh berikutnya adalah Prof Eduart Wolok, Rektor Universitas Negeri Gorontalo. Pria kelahiran 23 Mei 1976 itu mengawali pendidikannya di SD Negeri 47 Kota Selatan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Gorontalo pada 1989–1992 dan SMAN 3 Malang pada 1992–1995.


Pendidikan tinggi ditempuhnya melalui program S1 Teknik Mesin di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1995. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 di ITS pada 2001 dan meraih gelar doktor bidang Manajemen dan Bisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2014.


Di luar dunia akademik, Prof Eduart Wolok juga aktif dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Pengurus Pusat PBSI.


Pada 2018, ia dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Gorontalo dan kembali memimpin ISNU pada periode 2024–2029.


Prof Suharnomo

A’wan PBNU lainnya adalah Prof Suharnomo, Rektor Universitas Diponegoro (Undip). Ia lahir di Grobogan pada 22 Juli 1970.


Sebelum menjadi bagian dari jajaran A’wan PBNU, Prof Suharnomo pernah menjabat sebagai Dewan Pakar Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.


Prof Suharnomo menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Undip pada 1996. Ia kemudian menempuh pendidikan S2 Sains Manajemen di Universitas Gadjah Mada pada 2003 dan S3 Ilmu Manajemen di Universitas Padjadjaran pada 2009.


Ia kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar Undip dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dan Perilaku Organisasi.


Dalam perjalanan kariernya, Prof Suharnomo pernah mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip selama dua periode. Ia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Semarang serta Komisaris Utama PTPN IX pada 2016–2020.


Namanya dikenal secara lebih luas di tingkat nasional ketika ditunjuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai salah satu panelis dalam Debat Calon Wakil Presiden pada rangkaian Pemilu 2024.


Prof Muhammad Madyan

Selanjutnya, terdapat Prof Muhammad Madyan yang merupakan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Madyan lahir di Martapura pada 1971.


Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga pada 1997. Pendidikan magister ditempuh di Universitas Airlangga pada 2003 dan University of Wollongong, Australia, pada 2006. Pendidikan doktoralnya ditempuh di bidang Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya, Malang, dan diselesaikan pada 2013.


Prof Madyan merupakan dosen sekaligus profesor di bidang manajemen dan keuangan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair. Selain menjalani karier akademik, ia juga pernah menduduki sejumlah posisi struktural di kampus.


Pada 2014, ia menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia Universitas Airlangga. Pada periode yang sama, ia kemudian dipercaya sebagai Direktur Keuangan Unair hingga 2015.


Setelah itu, ia menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia untuk periode 2020–2025.


Prof Sumper Mulia Harahap

A’wan PBNU dari kalangan pimpinan perguruan tinggi lainnya adalah Prof Sumper Mulia Harahap, Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan, Sumatera Utara.


Prof Sumper Mulia Harahap lahir di Padangsidimpuan pada 13 Maret 1972 dari pasangan Abdul Rahman Harahap dan Sity Aisyah Siregar.


Selepas menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada 1985–1991, ia melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 1992–1996.


Setelah itu, ia menempuh pendidikan S2 di IAIN Sulthan Syarif Qasim, Pekanbaru, Riau, pada 1999–2001 dan S3 di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta pada 2002–2009.


Prof Sumper memulai karier sebagai akademisi dengan menjadi dosen di IAIN Padangsidimpuan pada 2004. Setelah itu, ia berturut-turut menjabat sebagai Sekretaris Senat STAIN Padangsidimpuan dan Ketua Jurusan Syariah STAIN Padangsidimpuan pada 2010–2013.


Ia kemudian menjadi Sekretaris Senat Institut IAIN Padangsidimpuan pada 2013–2017, Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan pada 2013–2017, serta kembali menjadi Sekretaris Senat Institut IAIN Padangsidimpuan pada 2017–2021.


Di tingkat nasional, ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Forum Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama se-Indonesia pada 2018–2020 dan 2020–2022. Pada 2017–2021, ia menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Padangsidimpuan.


Di bidang keumatan, Prof Sumper pernah aktif sebagai pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tapanuli Selatan. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia pernah menjadi Ketua Lajnah Bahtsul Masail pada 2011–2012 dan Katib Syuriah pada 2012–2017.


Sementara di MUI, jabatan yang pernah diembannya antara lain Sekretaris pada 2011–2016 dan Ketua MUI pada 2016–2021.


Beragam Latar Keilmuan

Kehadiran enam guru besar dan pimpinan perguruan tinggi tersebut menambah warna dalam jajaran A’wan PBNU masa khidmah 2026–2031.


Latar belakang mereka beragam, mulai dari hukum Islam, manajemen, teknik, pendidikan tinggi, hingga organisasi keagamaan. Keragaman tersebut menjadi bagian dari komposisi kepengurusan PBNU pada periode baru.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang