Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Pakai Kruk, Anggota Banser Kota Malang Setia Mengabdi di Tengah Keterbatasan Fisik

NU Online  ·  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:00 WIB

Pakai Kruk, Anggota Banser Kota Malang Setia Mengabdi di Tengah Keterbatasan Fisik

Anggota Banser Kota Malang. Muhammad Yusak Arrifan semangat mengandi meski keterbatasan fisik (NU Online/Siti Ratna Sari)

Jombang, NU Online

Perhelatan akbar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung sejak Kamis (27/8/2026) sore sampai Senin (31/8/2026) siang. Acara akbar di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur itu menyisakan banyak cerita haru dan inspiratif yang tak terlupakan.

 

Di balik kemeriahan penyambutan para kiai, ulama, dan tamu dari seluruh daerah, terselip kisah-kisah tentang ketulusan pengabdian yang luar biasa.

 

Salah satu pemandangan menyentuh tertuju pada sosok seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Malang. Dengan gagahnya ia mengenakan seragam loreng kebanggaan lengkap dengan baret hitamnya. 

 

Meski harus menopang tubuhnya menggunakan sepasang alat bantu jalan (kruk), senyum ramah dan semangatnya tidak pernah luntur barang sedetik pun.

 

Ia adalah Muhammad Yusak Arrifan. Dirinya mengaku mendapat panggilan jiwa untuk menjadi bagian dari banom NU itu. Meskipun ia memiliki keterbatasan fisik karena penyakit polio yang dialaminya, ia bertekad bergabung di Ansor pada tahun 2017.

 

 “Saya ini punya kaki 4 kok, malah lebih kuat kan?” selorohnya saat perbincangan dengan NU Online, Senin (31/8/2026)..

 

Pria yang akrab disapa Ifan itu menceritakan mengidap polio sejak usia 7 bulan. Namun, dirinya baru memakai alat bantu jalan baru-baru ini.

 

“Kalau dulu ndak pakai ini (kruk). Dulu mondok di Tambakberas juga ndak pakai, akhir-akhir ini aja,” jelasnya.

 

Ia mengaku tidak ada perbedaan khusus dengan peserta lain terkait kondisi yang dialaminya. Khususnya ketika ia mengikuti diklat untuk menjadi anggota baru Ansor. Ia harus mengikuti kegiatan fisik yang cukup sulit, mulai dari push up, masuk ke kubangan air, dll.

 

“Alhamdulillah saya bisa, yang penting harus ada solidaritas satu sama lain di dalam tim,” paparnya.

 

Ifan teringat saat menjaga keamanan di satu abad NU di Kota Malang. Ia mengaku bersyukur dan terharu, dirinya diberi kesempatan untuk menjaga di area VIP sehingga ia bisa melihat dan menjaga para ulama dan tokoh-tokoh lebih dekat.

 

“Senang sekali saya waktu itu, di sana juga ada teman banser yang pakai kursi roda. Tapi kalau saya ditempatkan dimana pun saya siap, meskipun kondisi saya seperti ini saya siap,” katanya.

 

Ia berharap dengan ikhlaskan dan ketulusannya berkhidmah di NU akan mendapat keberkahan dalam hidupnya dan diakui santrinya Mbah Wahab.



 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang