Nasional

Pegiat Turats: Tahqiq Butuh Analisis Mendalam, Tak Bisa Sepenuhnya Diserahkan ke AI

NU Online  ·  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Pegiat Turats: Tahqiq Butuh Analisis Mendalam, Tak Bisa Sepenuhnya Diserahkan ke AI

Pegiat turats dan peneliti karya-karya ulama Nusantara, Nanal Ainal Fauz. (Foto: NU Online/Amien Nurhakim)

Jombang, NU Online

Pegiat turats dan peneliti karya-karya ulama Nusantara, Nanal Ainal Fauz, mengajak generasi muda pesantren meneruskan tradisi kepenulisan yang diwariskan para ulama terdahulu. Menurutnya, banyaknya karya ulama Nusantara yang masih dapat dijumpai hingga kini menunjukkan kuatnya tradisi intelektual pesantren pada masa lalu.


Hal itu disampaikan Nanal saat ditemui NU Online dalam Pameran Turats yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).


“Ya, di antaranya mungkin dengan kita melihat banyaknya karya tulis para ulama kita dulu. Kita ini bagaimana meneruskan tradisi para ulama kita tersebut. Kita lihat juga di pameran ini, banyak sekali kitab yang ditulis, bahkan ada ratusan kitab karya ulama Nusantara,” kata Nanal.


Ia menjelaskan, karya-karya tersebut tidak hanya hadir dalam satu bentuk penerbitan. Sebagian merupakan cetakan lama yang diterbitkan di berbagai pusat percetakan yang dahulu menjadi bagian penting dari jaringan penyebaran karya ulama Nusantara.


“Ada beberapa cetakan lawas, cetakan lokal, atau cetakan Mumbai, juga cetakan Singapura. Intinya, ketika kita melihat karya-karya tulis kayak gitu, kita harusnya tersadar bahwa ini harus berlanjut. Tradisi menulis ini harus berlanjut, jangan sampai berhenti di kita,” tegasnya.


Menurut Nanal, ikhtiar meneruskan tradisi intelektual ulama Nusantara tidak harus terbatas pada penulisan karya baru. Aktivitas tahqiq atau penyuntingan kritis terhadap karya-karya lama juga merupakan bagian penting dari kerja intelektual yang perlu dilakukan generasi sekarang.


“Terus selain itu, ya, dengan produktivitas kita, selain menulis, kita juga men-tahqiq (menyunting buku atau kitab). Itu nggak perlu dipertentangkan,” ujarnya.


Ia menyinggung adanya anggapan bahwa meningkatnya aktivitas tahqiq justru membuat generasi sekarang lebih banyak menyunting karya lama daripada melahirkan karya baru.


“‘Kok sekarang pada men-tahqiq kitab-kitab? Nggak menulis?’ Menurut saya, karena ini dua hal yang berbeda dan bisa dijamak. Ada ulama yang juga men-tahqiq, juga menulis,” katanya.


Tahqiq Tidak Bisa Diserahkan pada AI

Dalam kesempatan tersebut, Nanal juga menanggapi anggapan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat mengambil alih pekerjaan tahqiq.


Menurutnya, tahqiq bukan sekadar pekerjaan mengumpulkan dan mencocokkan data. Di dalamnya terdapat proses analisis yang membutuhkan pembacaan mendalam terhadap teks, manuskrip, konteks, serta maksud pengarang.


“AI itu kan ngasih jawaban sesuai dengan data yang diunggah ke internet. Sedangkan tahqiq itu memerlukan analisis yang detail gitu,” kata Nanal.


Karena itu, ia tidak sepakat apabila pekerjaan tahqiq sepenuhnya diserahkan kepada AI.


“Gak mungkin. Gak mungkin dikasihkan sama AI itu. Meskipun ada sebagian yang bisa (dikerjakan AI), tapi yang sampai detail-detail AI gak bakal bisa ngasih (jawaban),” ujarnya.


Salah satu persoalannya, lanjut Nanal, adalah banyak sumber primer yang dibutuhkan seorang muhaqqiq (penyunting) belum tersedia secara digital. Bahkan ketika data sudah tersedia di internet, kemampuan analisis tetap menjadi persoalan tersendiri.


“Karena harus merujuk ke manuskrip-manuskrip lawas, yang belum pernah diunggah ke internet. Merujuk ke data-data yang gak ada di internet. Walaupun ada di internet, kemampuan AI dalam tahqiq itu tidak dapat disandingkan dengan kemampuan manusia. Aktivitas analisis dalam tahqiq itu mesti dilakukan manusia, bukan robot. Soalnya tahqiq itu bukan hanya memasukkan data saja, akan tetapi perlu kedalaman analisis,” jelasnya.


Nanal menambahkan, keberadaan data dalam sebuah sistem AI juga tidak otomatis menghasilkan interpretasi yang tepat terhadap sebuah teks.


“Misalnya, AI punya data. Belum tentu AI memiliki analisis yang bagus. Walaupun memiliki analisis, belum tentu analisisnya selaras dengan mafhum yang dimaksud oleh mualif (penulis karya),” terangnya.


Karena itu, menurutnya, pembacaan langsung oleh peneliti tetap menjadi unsur yang tidak dapat digantikan dalam proses tahqiq.


“(Aktivitas) ini butuh orang yang langsung baca. Orang langsung, bukan robot,” tegasnya.


Karya Ulama Nusantara Cukup untuk Bahan Ajar Pesantren

Selain mendorong tradisi menulis dan tahqiq, Nanal sejak lama memiliki gagasan agar karya-karya ulama Nusantara lebih banyak dikaji di lembaga pendidikan Islam dan pesantren di Indonesia.


Menurutnya, jumlah dan keragaman karya yang diwariskan ulama Nusantara memungkinkan penyusunan kurikulum pendidikan yang menggunakan kitab-kitab karya ulama Nusantara untuk berbagai disiplin ilmu.


“Itu sangat memungkinkan. Sebenarnya ide saya ini sudah dari dulu. Saya sudah bikin kurikulum. Meskipun kurikulum ini belum sempat kita praktikkan, tapi bisa pasang-bongkar dengan kitab ulama Nusantara yang lain,” ungkapnya.


Berdasarkan pemetaan yang pernah dilakukannya, Nanal menilai karya ulama Nusantara cukup kaya untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi.


“Kita berkesimpulan bahwa apabila suatu lembaga, mulai dari tingkat paling rendah sampai universitas, memakai kitab-kitab ulama Nusantara saja, itu sebenarnya cukup. Tanpa harus menggunakan karya-karya ulama lainnya,” katanya.


Meski demikian, ia menegaskan bahwa gagasan tersebut bukan berarti menutup akses terhadap khazanah keilmuan ulama dari kawasan lain.


“Meskipun nanti di jam resmi sekolah itu pakai kitab-kitab tersebut [ulama Nusantara], di luar jam resmi kita juga tidak bisa lepas dari kitab-kitab lain (ulama internasional). Ini jangan sampai disalahpahami,” jelasnya.


Menurut Nanal, upaya memberikan ruang lebih besar kepada karya ulama Nusantara tidak dimaksudkan untuk mempertentangkannya dengan karya-karya ulama Timur Tengah. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk lebih mengenalkan khazanah intelektual ulama Indonesia sendiri.


“Kita ingin mengangkat karya-karya Nusantara, tapi bukan berarti menurunkan karya Timur Tengah. Tujuannya adalah memperkenalkan karya-karya ulama kita,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang