Perdamaian bisa diciptakan apabila kelompok mayoritas mampu merangkul minoritas sebagai satu kekuatan yang utuh. Tidak merasa superior dan berlaku sewenang-wenang kepada orang lain. Kelompok mayoritas harus berinisiatif untuk menjalin kerukunan dan perdamaian serta melindungi kelompok minoritas.
Untuk itu, dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki potensi menjadi pemimpin perdamaian di masa depan.
"Semoga pemimpin itu ada di ruangan ini (kader-kader NU)," tukas putri Gus Dur, Alissa Wahid saat menjadi narasumber dalam acara Nusantara Millenial Summit, yang digelar oleh Pimpinan Pusat IPPNU, di The Media Hotel and Tower, Jakarta, Sabtu (22/6).
Alissa pun mengajak hadirin untuk berpikir bagaimana cara menjadi pemimpin? Bagaimana pula bangsa Indonesia mampu memulai sebuah gerakan untuk melahirkan seorang pemimpin dan menjadi pelopor perdamaian. Untuk itu, Alissa menukil doa yang diungkapkan seorang tokoh non Muslim.
"Ya Allah berikanlah kepada saya keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa saya ubah. Berikanlah kepada saya kedamaian hati untuk bisa mengikhlaskan hal-hal yang tidak bisa saya ikhlaskan. Berikanlah saya kearifan supaya saya bisa membedakan sesuatu yang bisa diubah dan sesuatu yang mana yang tidak bisa diubah," tukasnya.
Menurut Alissa, doa tersebut sesungguhnya menjadi pekerjaan rumah bagi para pemimpin. Sebab, siapa pun orangnya, seorang pemimpin pasti akan bertemu dengan hal-hal yang demikian.
"Seorang pemimpin akan dihadapkan pada sesuatu yang membingungkan. Sesuatu yang harus diubah atau tidak. Kalau tidak bisa diubah berarti bagaimana? Kalau bisa diubah tetapi berat, saya harus bagaimana? Maka, syarat pemimpin adalah keberanian dan kearifan," tegas Alissa.
Karenanya, seorang pemimpin yang sekaligus pelopor perdamaian, pasti memiliki karakter yang baik. Pasalnya, selama ini banyak orang (pemimpin) enginkan perdamaian, tetapi tidak melakukan apa-apa.
"Maka para pelopor perdamaian perlu mengasah keberanian, supaya bisa menjadi pemimpin yang lebih baik," sambung Alissa, yang berbicara dalam sesi galawicara bertema, Kita Ingin Perdamaian: Mengkampanyekan Perdamaian Menurut Saya. (Aru Elgete/Aryudi AR).
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober
6
PWNU Jakarta Jadwalkan Pembukaan Konferwil XXI di Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Terkini
Lihat Semua