Pemudik Lebaran Terus Menyusut, Tekanan Ekonomi Bikin Jutaan Perantau Tidak Bisa Pulang Kampung
NU Online · Jumat, 20 Maret 2026 | 13:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Jumlah pemudik menjelang Lebaran 2026 kembali menunjukkan tren penurunan. Hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan menyebutkan, faktor ekonomi masih menjadi alasan utama masyarakat menahan diri untuk tidak pulang kampung seperti tahun-tahun sebelumnya.
Penurunan ini bukan fenomena baru. Sejak 2025, jumlah pemudik telah mengalami penyusutan signifikan. Saat itu, angka pemudik menurun hingga hampir 50 juta orang setelah sempat melonjak drastis pada 2024 dengan asumsi sekitar 193 juta pemudik. Tren tersebut berlanjut pada 2026, dari 146,4 juta orang pada 2025 menjadi 143,9 juta orang pada 2026.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, tetap optimistis mobilitas masyarakat berpotensi melampaui angka survei.
“Angka ini memang menurun 1,75 persen dibandingkan survei tahun 2025 sekitar 146 juta. Namun, pada realisasi 2025 justru mencapai 154 juta. Artinya, mobilitas masyarakat pada masa Lebaran cenderung melampaui angka survei,” ujarnya, dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara, Jumat (20/3/2026).
Optimisme tersebut berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami sebagian perantau. Tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, hingga mahalnya biaya transportasi menjadi faktor yang memaksa mereka mengurungkan niat mudik.
Dara Latifah (25), perantau asal Padang, Sumatra Barat, yang kini menetap di Sleman, DI Yogyakarta, menjadi salah satu yang terdampak. Ia baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak awal Februari 2026. Kondisi ini membuatnya harus berpikir ulang untuk menjalankan tradisi mudik yang selama ini dinantikan.
“Saya sebenarnya sudah rindu pulang. Tapi kondisi sekarang tidak memungkinkan. Uang yang ada harus dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (20/3/2026).
Dara sebelumnya bekerja di sektor pertanian sebagai asisten laboratorium. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan efisiensi dengan merumahkan sejumlah karyawan. Sejak kehilangan pekerjaan, ia mengaku masih berusaha mencari pekerjaan baru, tetapi belum ada kepastian.
Ia pun memilih berhemat dan menunda rencana mudik yang membutuhkan biaya besar. “Kalau dipaksakan pulang, nanti setelah Lebaran saya bingung lagi untuk bertahan di sini. Jadi lebih baik saya tahan dulu,” katanya.
Senada, Mochamad Rasta Ari Sukma (26), pekerja asal Kediri, Jawa Timur, yang kini bekerja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga memutuskan tidak pulang kampung tahun ini. Ia menilai kondisi ekonomi yang belum stabil serta lonjakan harga tiket pesawat sejak awal Ramadhan menjadi pertimbangan utama.
“Keinginan pulang pasti ada, apalagi sudah lama tidak bertemu keluarga. Tapi kondisi keuangan lagi tidak stabil, sementara harga tiket pesawat sudah sangat mahal sejak awal Ramadhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, harga tiket pesawat rute Banjarmasin, Surabaya serta tiket kereta Surabaya, Kediri yang biasanya masih terjangkau kini melonjak drastis. Kenaikan tersebut membuat biaya mudik jauh lebih besar dari perkiraan.
“Kalau dipaksakan, bisa habis untuk tiket saja. Sementara kebutuhan setelah Lebaran juga harus dipikirkan,” katanya.
Menurut Rasta, kondisi ini tidak hanya dialami dirinya, tetapi juga banyak rekan sesama perantau. Mereka memilih tetap bertahan di kota demi menjaga kestabilan finansial. Lonjakan harga tiket yang terjadi setiap tahun pun menjadi beban tambahan, terutama bagi pekerja dengan penghasilan terbatas.
Rasta berharap pemerintah dapat lebih serius mengendalikan harga tiket transportasi, khususnya pesawat, agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Harapannya, pemerintah bisa membantu mengontrol harga tiket mudik, terutama pesawat. Jadi masyarakat kecil seperti kami masih punya kesempatan untuk pulang,” ujarnya.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
2
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri: Hari Kemenangan untuk Kebebasan Masyarakat Sipil
Terkini
Lihat Semua