Jakarta, NU Online
Salah satu maksud memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT terhadap perintah shalat lima waktu, sembari memperbaiki kembali shalat yang telah dilaksanakan, serta merenungi berbagai hikmah dari perintah shalat itu.<>
Menurut KH Ahmad Ghazalie Masroeri, peringatan Isra’ Mi’raj yang deimikian itu bukanlah bid’ah. “Justru yang tidak mau memperingati Is’ra’ Mi’raj itulah yang bid’ah,” katanya Ketua Lajnah Falakiyah di kantor PBNU Jakarta, Rabu (5/6).
Katib Syuriyah PBNU era KH Abdurrahman Wahid itu menyitir satu riwayat, ketika itu Nabi Isa AS diminta umatnya untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan makanan dari langit untuk menambah keyakinan mereka.
“Nabi Isa berdoa dan akhirnya diturunkanlah makanan. Lalu setiap hari turunnya maidah (makanan) saja, waktu itu, selalu diperingati sebagai ungkapan rasa syukur. Lha untuk peringatan turunya shalat kog dituduh bid’ah,” katanya menyitir perumpamaan yang disampaikan seorang penceramah.
Kiai Ghazali menyesalkan pihak-pihak yang gemar menuding bid’ah terhadap berbagai tradisi keagamaan dan kepercayaan umat Islam. Misalnya lagi, terkait penghormatan umat terhadap tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Disampaikan, Nabi Muhamad SAW sendiri sering berkunjung ke Betlehem, tempat kelahiran Nabi Isa. Beliau mampir dan melakukan shalat di tempat itu. Nabi memberikan belajaran betapa pentingnya mengingat generasi terdahulu.
“Nah lebih istimewa mana tempat lahir Nabi Isa dengan tempat lahir Nabi Muhammad? Jawabannya mesti lebih istimewa tempat lahir Nabi Muhammad. Nah kalau begitu kenapa mengunjungi dan menghormati tempat lahir nabi Muhammad dikatakan bid’ah? Orang Wahabi yang menghancurkan tempat lahir nabi itu yang bid’ah,” katanya geram.
Penulis: A. Khoirul Anam
Terpopuler
1
PWNU Jateng Deklarasikan Muktamar Ke-35 NU yang Jujur, Bersih, Terbuka, Beradab
2
Ini Jadwal Lengkap Agenda Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
3
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
4
KH Ma’ruf Amin: Calon Ketua Umum PBNU Harus Punya Kapasitas Manajerial dan Teknokratis
5
Muktamar NU: Absennya Tema Besar dan Agenda Kerakyatan
6
Hukum Karnaval Menutup Jalan Umum dalam Islam, Bolehkah?
Terkini
Lihat Semua