Medan, NU Online
Abdul Mun’im DZ, penulis buku Benturan NU-PKI 1948-1965 mengungkapkan, sejumlah peneliti asing telah melakukan kesalahan dengan mendramatisasi jumlah korban peristiwa G30S PKI sampai jutaan orang.<>
"Pihak asing me-mark-up jumlah korban hingga jutaan korban PKI. Padahal jumlah korban diperkirakan hanya di bawah 200.000," ungkapnya dalam bedah buku itu di gedung rektorat Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Selasa (23/9) kemarin.
Dikatakannya, korban juga tidak hanya berasal dari pihak PKI. “Korban yang berasal dari kalangan NU juga banyak. Apalagi kalau dihitung dari rangkaian pemberontakan PKI sebelum 1965,” katanya.
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU menjelaskan, buka setebal 208 dirilis karena banyak kelompok yang melakukan pembelaan terhadap PKI dan cenderung menyalahkan NU serta TNI.
Lanjutnya, saat ini banyak kalangan NU, terutama generasi mudanya, yang tidak lagi mengenal sejarah NU sehingga mengikuti cara berpikir orang lain, baik akademisi maupun politisi, yang memojokkan NU terkait tragedi 1965.
"Korban dari pihak NU dan TNI banyak sekali. Jadi kenapa NU dan TNI yang dipojokkan, sedangkan selamai ini banyak propaganda membela PKI yang jelas mengancam ideologi bangsa kita," jelasnya.
Hampir semua buku yang terbit membela PKI atas benturan tersebut, tanpa melihat prolog dan penyebab kenapa benturan tersebut terjadi.
"Banyak media yang membuat tulisan tentang benturan NU dengan PKI namun semua hanya membela PKI, sedangkan keganasan PKI tidak mereka soroti," ujarnya.
Ia menambahkan, penerbitan buku Benturan NU-PKI bukan dalam rangkan memperpanjang konfik.
“Kita tidak ingin mengobarkan peperangan, namun kita mau melakukan rekonsiliasi dan perdamaian yanng didasarkan atas fakta yang benar. Bukan hanya pihak kami yang minta maaf, tapi mereka juga harus minta maaf," ujarnya. (Muhammad Safi’i Sitorus/Anam)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua