Prof Quraish Shihab Ingatkan Bahaya AI Tanpa Kendali Spiritual
NU Online · Selasa, 17 Maret 2026 | 20:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pakar tafsir Prof M Quraish Shihab mengingatkan bahaya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tanpa kendali moral dan spiritual.
Menurutnya, di balik kemudahan yang ditawarkan, teknologi ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi peradaban manusia jika tidak diarahkan dengan nilai-nilai etika.
Gelombang revolusi industri yang membawa AI ke tengah masyarakat tidak hanya dipandang sebagai lompatan teknologi, tetapi juga menyimpan risiko.
Prof Quraish menilai, kecerdasan buatan yang berkembang pesat dapat berubah menjadi palu godam yang menghancurkan peradaban bila lepas dari kendali manusia.
“Jika dahulu roda atau pisau sepenuhnya berada di bawah kuasa pengguna, AI ini memiliki potensi untuk mendikte, bahkan menguasai pembuatnya atau kita manusia ini,” ujarnya dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk AI dan Perkembangan Teknologi yang tayang di kanal Youtube Quraish Shihab, diakses pada Selasa (17/3/2026).
Ia menyebut bahwa kecanggihan algoritma kerap mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pengambilan keputusan.
“Prinsip dasarnya adalah cari yang bermanfaat, hindari yang mudarat. Jika ada manfaat dan mudarat pada sesuatu, maka dahulukan menghindari mudarat,” tegasnya.
Prof Quraish juga mengingatkan kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, yakni mencegah kerusakan harus diprioritaskan daripada mengejar keuntungan. Ia menilai sektor pendidikan menjadi salah satu bidang yang paling terdampak oleh penggunaan AI.
Menurutnya, penggunaan AI oleh anak-anak berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis serta fondasi intelektual. Ketergantungan pada AI sebagai “joki” tugas sekolah dikhawatirkan membuat anak kehilangan pemahaman dasar.
“Kita harus tahu kapan dia membantu proses belajar dan kapan dia sebetulnya menghalangi atau justru memperburuk,” ucapnya.
Selain itu, Prof Quraish memberikan peringatan terkait penggunaan AI untuk mencari fatwa atau hukum agama. Ia menegaskan bahwa agama tidak sekadar kumpulan data yang dapat diolah mesin, melainkan melibatkan pertimbangan hati serta konteks ruang dan waktu.
Baca Juga
NU dan Tantangan Abad Kecerdasan Buatan
“Harus jelas mengikuti ketetapan hukum mazhab ini atau pendapat ulama-ulama ini. Menetapkan hukum itu tidak hanya dengan akal, tetapi dengan hati. Apakah AI punya hati? Tidak punya hati, tidak bisa,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah terjebak pada jawaban instan dari mesin yang belum tentu relevan atau akurat.
“Hati-hati dengan informasi-informasi. Mari kita kritis bersama-sama pada saat menggunakan teknologi AI ini,” pungkas Prof Quraish.
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
3
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
4
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
5
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
6
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Terkini
Lihat Semua