Prof Quraish Shihab Jelaskan Konsep Syahadat dan Kepercayaan kepada Nabi Muhammad
NU Online · Sabtu, 1 November 2025 | 20:00 WIB
Prof Quraish Shihab dan Gus Baha dii Masjid Bayt Al-Quran, Pusat Studi Al-Quran (PSQ), Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu (1/10/2025). (Foto: tangkapan layar Bayt Al-Qur'an)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Pendiri Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) sekaligus pengarang Tafsir Al-Misbah, Prof M Quraish Shihab menjelaskan pentingnya memahami konsep kepercayaan untuk meneladani Nabi Muhammad.
Ia menekankan bahwa yang pertama-tama dituntut dari umat Islam adalah kepercayaan atau iman, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 285, yaitu menyuruh untuk beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
Hal itu disampaikannya saat Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tema Keteladanan Rasulullah dan Peran Ulama dalam Menjaga Akhlak dan Ilmu di Masjid Bayt Al-Quran, Pusat Studi Al-Quran (PSQ), Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu (1/10/2025).
Prof Quraish mengajak umat Islam untuk introspeksi, mempertanyakan diri sendiri mengapa mereka mempercayai Nabi Muhammad sebagai rasul. Kemudian, ia memberikan ilustrasi soal kepercayaan dari Imam Al-Ghazali.
Ia menjelaskan bahwa kepercayaan bisa dimulai dari tingkat paling dasar, seperti seorang pemuda yang percaya bahwa gadis yang dicintainya membalas perasaannya, meski tanpa bukti konkret. Menurutnya, itulah tingkat pertama kepercayaan: percaya karena sesuai keinginan hati.
Tingkat kedua kepercayaan, kata Prof Quraish, muncul ketika seseorang memperoleh informasi yang ia amati sendiri. Ia memberi contoh seseorang yang diberitahu bahwa orang yang dibencinya meninggal, kemudian pergi melihat dan mendengar orang-orang menangis di rumah tersebut. Walaupun bukti ini belum tentu valid, katanya, tingkat kepercayaan ini lebih kuat karena didasari pengamatan langsung.
"Tingkat ketiga, misalnya si A meninggal. Siapa yang bilang? 'Guru saya.' Percaya enggak? Kenapa percaya? Karena percaya pada guru. Bisa salah enggak gurunya? Bisa," jelasnya.
Lebih lanjut, Prof Quraish, menekankan bahwa syahadat tidak berhenti pada pengucapan. Setelah seseorang mengucapkan syahadat, ia harus mengenal kepribadian dan ajaran Nabi Muhammad.
"Jadi waktu Anda mengatakan, 'Saya bersaksi Nabi Muhammad itu utusan Allah,' apakah karena Anda kenal kepribadiannya atau kenal ajarannya? Kalau tidak, saksi yang Anda ucapkan itu bohong," katanya.
"Kita dituntut untuk bersaksi," tegasnya.
Lebih jauh terkait manusia menjadi saksi atas kenabian, ia menekankan bahwa, pertama, umat Islam dituntut menjadi saksi (syuhadā’a ‘ala an-nās), yang berarti menyaksikan kebenaran Nabi Muhammad dan memberi teladan kepada orang lain.
"Rasul jadikan dia teladan, atau Rasul akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kamu memang benar umatnya. Itulah makna syahadat," terangnya.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua