Nasional

Psikolog: Fenomena Pengeroyokan Massal Dipengaruhi Dinamika Kelompok

NU Online  ·  Kamis, 30 Juli 2026 | 11:00 WIB

Psikolog: Fenomena Pengeroyokan Massal Dipengaruhi Dinamika Kelompok

Ilustrasi: Pengeroyokan dipengaruhi dinamika kelompok (NU Online/AI Generated)

Jakarta, NU Online

Maraknya kasus pengeroyokan dan kekerasan yang melibatkan banyak pelaku di berbagai daerah menjadi perhatian dari sisi psikologi sosial. Fenomena tersebut dinilai tidak hanya dipengaruhi oleh emosi individu, tetapi juga dinamika kelompok yang dapat mengubah cara seseorang mengambil keputusan saat berada di tengah massa.


Psikolog Klinis dari Biro Welas Asih Semarang, Jawa Tengah, Luluk Nadiyatun Nadziroh, menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia memiliki respons bertahan hidup ketika menghadapi ancaman. Dalam situasi tertentu, ancaman tersebut dapat memunculkan kemarahan atau dorongan agresif. Namun, kemarahan tidak selalu berujung pada tindakan kekerasan.

 

"Perilaku kekerasan umumnya muncul ketika dorongan agresif bertemu dengan lemahnya kontrol impuls, penilaian yang bias terhadap suatu situasi, serta menurunnya kemampuan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan," ujar Luluk diwawancarai NU Online, Rabu (29/7/2026).

 

Menurutnya, aksi kekerasan yang dilakukan secara berkelompok dapat dijelaskan melalui konsep deindividuation, yaitu hilangnya kesadaran sebagai individu ketika seseorang berada dalam kelompok besar. Dalam situasi tersebut, identitas pribadi menjadi kurang menonjol sehingga rasa tanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan ikut menurun.

 

Selain itu, terdapat pula proses diffusion of responsibility, yaitu kecenderungan merasa bahwa tanggung jawab atas suatu tindakan dibagi kepada seluruh anggota kelompok. Emosi dalam kelompok juga dapat menyebar dengan cepat sehingga individu yang awalnya tenang dapat ikut terbawa suasana.

 

"Ketika banyak orang melakukan tindakan yang sama, perilaku yang sebelumnya dianggap tidak dapat diterima menjadi terasa lebih dapat dibenarkan," tambahnya.


Fenomena tersebut dikenal sebagai mob mentality, yakni kondisi ketika perilaku individu berubah akibat pengaruh kelompok. Dalam situasi seperti ini, cara berpikir dan mengambil keputusan tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan pribadi, melainkan lebih dipengaruhi oleh dinamika kelompok.


Luluk mengatakan, hilangnya identitas individu, anonimitas, meningkatnya emosi kelompok, konformitas, serta berkurangnya rasa tanggung jawab pribadi dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang mungkin tidak akan dilakukan ketika sendirian.

 

"Karena itu, perilaku massa bukan berarti seseorang kehilangan kemampuan berpikir sepenuhnya, melainkan keputusan yang diambil menjadi jauh lebih dipengaruhi oleh tekanan dan dinamika kelompok," papar Luluk.


Ia menegaskan bahwa perilaku kekerasan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari karakteristik individu, pengalaman hidup, tekanan situasional, norma kelompok, hingga kondisi sosial yang lebih luas.

 

"Oleh karena itu, upaya pencegahan kekerasan perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui peningkatan keterampilan regulasi emosi individu, tetapi juga dengan membangun lingkungan sosial yang aman, adil, serta mendukung penyelesaian konflik secara konstruktif," jelasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang