Psikolog Ungkap Penyebab Kecemasan pada Siswa saat Hadapi Ujian dan Cara Mengelolanya
NU Online Ā· Selasa, 7 April 2026 | 17:30 WIB
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Psikolog Klinis Bianglala Andriadewi mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan meningkatnya kecemasan siswa saat menghadapi ujian, serta cara mengelolanya agar tidak berdampak negatif. Salah satu penyebab utama yang disorot adalah paparan media sosial yang berlebihan.
Menurutnya, arus informasi yang begitu deras justru dapat memperparah rasa cemas, terutama pada remaja.
āBelakangan remaja memang lebih cemas. Intinya, Gen Z lebih cemas daripada generasi sebelumnya. Nah, kenapa mereka mudah cemas? Karena pertama, media sosial menjadi faktor utama yang membuat orang makin cemas. Kenapa? Karena kita jadi lebih banyak tahu,ā jelasnya saat dihubungi NU Online, Selasa (7/4/2026).
Bianglala menjelaskan bahwa banyaknya informasi yang diterima dapat memicu perasaan tidak aman. Ia mencontohkan, siswa yang telah belajar seharian bisa merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya masih belajar melalui unggahan di media sosial, meskipun dirinya sedang beristirahat.
āTerus lihat influencer, mungkin influencer pendidikan, studi di mana-mana. Kelihatannya keren dan segala macam. Itu juga bikin cemas, karena kesannya hidup harus seideal itu,ā ujar psikolog dari Welas Asih Consulting tersebut.
Ia menambahkan, perasaan tidak cukup sebenarnya memiliki fungsi positif sebagai pengingat agar seseorang tidak terlena. Namun, jika berlebihan, kondisi tersebut justru dapat membuat individu sulit menghargai diri sendiri, kurang bersyukur, dan berpikir tidak rasional.
Lebih lanjut, Bianglala menekankan bahwa kecemasan yang tidak terkelola dapat mengganggu konsentrasi siswa saat ujian. Hal ini terjadi karena emosi, pikiran, dan perilaku saling berkaitan. Ketika kecemasan meningkat, kemampuan berpikir rasional pun menurun.
āJadi kalau bisa, belajar dengan lembut dan tenang agar pelajaran bisa masuk. Nah, kalau kita lagi belajar tapi cemas memikirkan ini dan itu, akhirnya tidak fokus,ā ungkapnya.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa kecemasan pada dasarnya merupakan emosi yang memiliki fungsi adaptif, yakni sebagai sinyal untuk bersiap menghadapi kemungkinan tantangan.
āNah, sebenarnya cemas itu emosi yang ada untuk mengingatkan kita bahwa di depan mungkin ada bahaya. Jadi bersiap-siap, itu fungsi cemasnya,ā tambahnya.
Dalam konteks ujian, rasa cemas juga dapat menjadi pendorong untuk belajar lebih baik. Ketakutan akan hasil yang tidak maksimal dapat memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri, selama dikelola dengan cara yang tepat.
āSebaliknya, jika kecemasan dihadapi dengan cara yang tidak tepat hingga membuat seseorang terpuruk, maka dampaknya menjadi buruk. Jadi sebenarnya tergantung bagaimana seseorang melihat stresor itu, sebagai tantangan atau ancaman. Kalau dia melihat ujian sebagai ancaman, dia tidak akan belajar karena menjadi down,ā paparnya.
Untuk mengelola kecemasan, Bianglala menyarankan teknik regulasi emosi yang sederhana dan realistis, seperti mengatur pernapasan serta mendekatkan diri secara spiritual.
āTeknik inhale exhale itu salah satu yang paling gampang, karena napas selalu bersama kita. Kalau dengan berdoa bisa lebih tenang, silakan berdoa. Berzikir lebih tenang, silakan berzikir. Yang penting tidak menyakiti dan merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan,ā jelasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mendukung kondisi psikologis siswa. Orang tua diharapkan mampu memahami kebutuhan anak, termasuk memberikan ruang untuk berdiskusi secara terbuka.
āNah, jadi lebih baik orang tua mendengarkan anak secara terbuka. Apa yang membuat kamu memilih jurusan itu? Nadanya juga harus halus, karena di fase ini anak butuh dukungan. Anak juga perlu menjelaskan kepada orang tua tentang pilihan kariernya agar bisa dipahami,ā ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung memotong atau menolak pendapat anak, melainkan mengedepankan komunikasi yang suportif melalui pertanyaan terbuka.
Bianglala menyarankan agar siswa yang mengalami kecemasan tinggi segera mencari bantuan profesional.
āSelain itu, jika seorang siswa sudah mengalami kecemasan tinggi, intervensi paling cepat bisa dilakukan dengan datang ke psikolog atau guru BK. Tapi, tidak semua guru BK cukup suportif. Jadi kalau membutuhkan pertolongan, sebaiknya ke psikolog,ā pungkasnya.
Terpopuler
1
Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru
2
Pleno PP Fatayat NU Tetapkan Dewi Winarti sebagai Plt Ketua Umum
3
Muktamar NU 2026: Antara Idealisme dan Pragmatisme PolitikĀ
4
Korban Meninggal di Lebanon Akibat Serangan Israel Tembus 1.368 Orang
5
Iran Izinkan 15 Kapal Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Pertamina?
6
Kepala Intelijen Pasukan Garda Revolusi Iran Majid Khademi Gugur
Terkini
Lihat Semua