Nasional

Rais Aam PBNU Sebut Kelemahan Ekonomi dan Kebodohan Jadi Akar Kemunduran Umat

NU Online  ·  Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Rais Aam PBNU Sebut Kelemahan Ekonomi dan Kebodohan Jadi Akar Kemunduran Umat

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan khutbah iftitah pada Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). (Foto: NU Online/Rifqi)

​Jombang, NU Online 

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa keterbelakangan ekonomi dan kebodohan menjadi faktor utama yang dapat menghambat kekuatan amar ma'ruf nahi munkar dan kemunduran umat Islam saat ini.


​"Sesungguhnya penyebab utama yang menghambat kekuatan umat untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar serta menegakkan ajaran Islam adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang ekonomi," ujar Kiai Miftah saat menyampaikan Khutbah Iftitah pada Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).


​Kiai Miftach menambahkan bahwa selain lemahnya ekonomi, kemunduran umat akan kian nyata saat kebodohan (al-jahlu) dibiarkan merebak di kalangan masyarakat.


​"Di antara faktor terbesar kemunduran yang telah diperingatkan Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah merebaknya kebodohan (al-jahlu). Dampaknya sungguh berbahaya, hingga sebagian orang tidak lagi mampu membedakan mana perkara yang berharga dan mana yang merusak, bahkan menerima argumen palsu (sufshathah) sebagai sebuah kenyataan," tegas Kiai Miftach.


Selanjutnya, Kiai Miftach mengimbau agar kepemimpinan agama selalu diserahkan kepada pihak yang kompeten. Ia mengingatkan bahaya serius dari fenomena penunjukan pihak yang tidak kompeten untuk memegang urusan keagamaan, diantaranya dapat membuat masyarakat kehilangan daya kritis hingga tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. 


Kiai Miftach lantas mengutip peringatan Nabi Muhammad saw mengenai ancaman wafatnya para ulama dan diangkatnya para pemimpin yang bodoh.


​"Ini adalah peringatan keras bagi para pengambil kebijakan (wulatul umur) agar tidak menyerahkan posisi dan jabatan keagamaan kepada orang-orang yang jahil. Ketika orang bodoh dijadikan pemimpin, fatwa dan kebijakan akan menyesatkan, serta mengikis marwah agama itu sendiri," imbaunya.


Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu juga menyoroti pudarnya peran ulama akibat sebagian kalangan yang tidak lagi menjaga kehormatan ilmunya. Kiai Miftach mengutip kalam sahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud ra, untuk menggambarkan bagaimana ilmu yang disalahgunakan dapat meruntuhkan wibawa para pemiliknya.


​"Seandainya para pemilik ilmu menjaga ilmunya dan menempatkannya pada ahlinya, niscaya mereka akan menjadi pemimpin zamannya. Namun mereka menyerahkannya kepada ahli dunia demi meraih bagian duniawi semata, sehingga mereka menjadi hina di mata pemilik dunia," kutip Kiai Miftach.


​Labih lanjut, Kiai Miftach menekankan pentingnya memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk dakwah amar ma'ruf nahi munkar.


"Maka bersemangatlah untuk melakukan apa yang dimudahkan bagimu, baik berupa kalimat yang engkau ingatkan, artikel yang engkau tulis, atau pesan melalui ponsel maupun internet yang engkau sebarkan," pesan Kiai Miftach.


Menutup amanat khutbahnya, ia mengimbau seluruh warga nahdliyin untuk tidak berputus asa di tengah gelombang fitnah akhir zaman dan agar selalu merapatkan barisan dengan jama'ah. Kiai Miftach lantas mengutip hadits Nabi Saw., tentang anjuran berjam'iyyah.


"Hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanya memangsa domba yang menyendiri (terpisah dari rombongan)," kutipnya. 


"Maka janganlah berputus asa dan jangan ragu-ragu dalam menyebarkan agamamu sesuai kemampuanmu," pungkas Kiai Miftach.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang