Rais Syuriyah PWNU Aceh: Nuzulul Qur’an Momentum Membaca Dunia dan Ayat Kauniyah di Era Digital
NU Online · Ahad, 8 Maret 2026 | 20:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh Tgk H Nuruzzahri (Waled NU) menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak boleh dipahami sekadar sebagai peristiwa turunnya wahyu pertama, tetapi harus dimaknai sebagai dorongan untuk membaca dan memahami realitas kehidupan, terutama di tengah perkembangan era digital saat ini.
Menurutnya, perintah iqra yang menjadi wahyu pertama kepada Nabi Muhammad bukan hanya perintah membaca teks, tetapi juga perintah untuk memahami dunia, memikirkan realitas sosial, dan memperbaiki peradaban manusia.
“Perintah iqra dalam Al-Qur’an tidak sekadar mengeja huruf. Ia adalah mandat untuk membaca realitas, memahami kondisi masyarakat, dan membangun peradaban yang lebih adil dan berkeadaban,” ujar Tgk H Nuruzzahri dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan, peristiwa Nuzulul Qur’an yang diperingati setiap 17 Ramadhan merupakan momentum penting dalam sejarah Islam. Pada saat itu, wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril ketika beliau berkhalwat di Gua Hira.
Lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq menjadi awal turunnya Al-Qur’an yang kemudian menjadi pedoman hidup umat manusia. Ayat tersebut menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan, proses belajar, dan tradisi membaca dalam membangun peradaban manusia.
Baca Juga
Makna Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar
Tgk H Nuruzzahri menjelaskan bahwa kata iqra’ dalam ayat tersebut merupakan fi’il amar atau kata kerja perintah. Menariknya, secara kebahasaan kata tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan objek yang harus dibaca.
Menurutnya, objek dari perintah membaca itu dipahami dalam konteks frasa bismi rabbika, yaitu membaca dengan menyebut nama Tuhanmu.
“Karena objeknya tidak disebutkan secara langsung, maka makna iqra’ menjadi sangat luas. Ia tidak hanya berarti membaca teks, tetapi juga membaca segala sesuatu dalam kehidupan dengan kesadaran kepada Allah,” jelasnya.
Karena itu, membaca dalam perspektif Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada membaca ayat-ayat teks Al-Qur’an, tetapi juga membaca ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta dan dalam realitas kehidupan manusia.
Menurut Tgk H Nuruzzahri, pesan utama dari ayat tersebut adalah pentingnya membangun kesadaran intelektual dan moral dalam kehidupan masyarakat.
Ia menuturkan bahwa masyarakat Arab pada masa sebelum Islam sebenarnya bukan masyarakat yang tidak memiliki budaya intelektual. Mereka memiliki tradisi sastra dan retorika yang sangat kuat, terutama dalam bentuk syair.
“Masyarakat Arab pada masa itu memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa. Mereka mengadakan perlombaan syair di pasar-pasar besar, dan karya terbaik bahkan digantung di Ka’bah sebagai bentuk penghormatan,” ujarnya.
Tradisi syair tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Arab memiliki kecerdasan budaya yang tinggi. Oleh karena itu, istilah jahiliyah yang sering dilekatkan pada masa tersebut tidak semata-mata berarti kebodohan intelektual.
Menurutnya, jahiliyah lebih tepat dipahami sebagai kerusakan sistem sosial dan moral yang terjadi dalam masyarakat saat itu.
“Jahiliyah bukan berarti masyarakatnya tidak cerdas. Mereka cerdas secara budaya dan bahasa, tetapi sistem sosialnya tidak adil. Perbudakan, oligarki ekonomi, dan ketidakadilan sosial menjadi bagian dari struktur masyarakat,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, kata Tgk H Nuruzzahri, Al-Qur’an hadir untuk membangun paradigma baru yang menempatkan ilmu pengetahuan, keadilan, dan kemanusiaan sebagai fondasi kehidupan.
Ia menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern, terutama di era digital yang ditandai oleh arus informasi yang sangat cepat.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi saat ini membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar bagi masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan.
Namun di sisi lain, teknologi juga menghadirkan tantangan berupa maraknya informasi yang tidak akurat, hoaks, dan manipulasi opini.
Karena itu, ia mengingatkan umat Islam agar menjadikan pesan iqra’ sebagai landasan dalam menghadapi era digital.
“Di era digital ini, membaca tidak lagi hanya berarti membaca buku. Kita harus mampu membaca informasi, membaca situasi sosial, dan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan umat Islam untuk membaca, tetapi juga untuk berpikir kritis, mencari kebenaran, dan membangun peradaban yang berkeadilan.
Menurutnya, semangat Nuzulul Qur’an harus diwujudkan dalam bentuk penguatan tradisi keilmuan, peningkatan literasi, serta sikap bijak dalam menggunakan teknologi.
“Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat budaya literasi dan berpikir kritis. Kita tidak boleh menjadi masyarakat yang mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas sumbernya,” ujarnya.
Tgk H Nuruzzahri juga mengajak generasi muda untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan zaman, terutama dalam memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif.
“Generasi muda harus menjadi generasi pembaca, generasi yang berpikir, dan generasi yang mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan modern,” katanya.
Ia berharap peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk memperkuat komitmen terhadap ilmu pengetahuan, keadilan sosial, dan kemajuan peradaban.
“Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia agar mampu membaca dunia dan memperbaikinya. Itulah esensi Nuzulul Qur’an yang harus terus kita hidupkan,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menghapus Sekat Sektarian di Tengah Umat
2
Orang Wajib Zakat Fitrah Tapi Juga Boleh Menerima?
3
Kultum Ramadhan: Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi Sesama
4
Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian
5
Standar Ganda Sekutu dalam Perang Israel-AS vs Iran
6
Larangan Menjadikan Orang Meninggal sebagai Bahan Lelucon
Terkini
Lihat Semua