Terpilih Jadi Anggota AHWA, Ini Profil Teungku Nuruzzahri Yahya
NU Online · Ahad, 30 Agustus 2026 | 20:22 WIB
Teungku Nuruzzahri Yahya terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) (Foto: NU Online)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jombang, NU Online
Teungku Nuruzzahri Yahya terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Penetapan tersebut hasil dari penghitungan suara di dalam Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 NU, Ahad (30/8/2026).
Teungku Nuruzzahri Yahya, yang akrab disapa Waled NU, merupakan ulama asal Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Ia lahir pada 1951 dari pasangan Tgk H Yahya dan Sa’diyah.
Dilansir dari laman YPI Ummul Ayman, Nuruzzahri tumbuh dalam keluarga yang disiplin sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk menentukan pilihan hidup. Sang ayah mempersilakan putra-putrinya memilih jalan masing-masing setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama di lingkungan keluarga.
Pendidikan keagamaan Nuruzzahri kemudian berlanjut di Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) yang saat itu dipimpin Tgk H Abdul Aziz Shaleh. Pendidikan tersebut ditempuh setelah sebelumnya mendapat pembelajaran agama dari keluarga. Bersamaan dengan itu, ia juga mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat 3 Samalanga.
Pada 1974, Nuruzzahri bertolak ke Jombang, Jawa Timur, untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (sekarang Universitas Hasyim Asy’ari). Namun, pendidikan tersebut tidak diselesaikannya. Ia kemudian melanjutkan pendalaman ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hadits, Jombang, yang kala itu diasuh Dr Abdullah bin Faqih.
Jejak pengabdiannya di dunia pendidikan kemudian diwujudkan dengan mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990. Lembaga pendidikan keagamaan yang menaungi anak-anak yatim tersebut mengambil nama Ummul Ayman, salah seorang pengasuh Nabi Muhammad ﷺ setelah wafatnya sang ibu, Aminah.
Di bidang organisasi sosial-keagamaan, Nuruzzahri juga memiliki rekam jejak panjang. Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PWNU Aceh pada 1970, Ketua Tanfidziyah Wilayah NAD pada 1995, Ketua II Himpunan Ulama Dayah Aceh pada 1999, serta anggota Dewan Paripurna Ulama NAD pada 2006.
Selain kiprahnya dalam pendidikan dan organisasi, Waled NU dikenal memiliki perhatian terhadap kesiapan kaum santri untuk berkiprah di ruang publik. Menurut pandangannya, kapasitas santri perlu dipersiapkan secara optimal agar aspirasi pesantren tidak terpinggirkan oleh kekuatan politik dari luar.
Kini, ia menjadi salah satu anggota AHWA Muktamar ke-35 NU, bersama sejumlah ulama yang dipercaya untuk menjalankan peran dalam proses penentuan kepemimpinan Syuriyah NU.
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
3
LPJ PBNU 2021–2026 Diterima Aklamasi, Gus Yahya Sampaikan Terima Kasih dan Minta Maaf
4
Gus Yusuf Maju sebagai Caketum PBNU, Klaim Tak Langgar AD-ART NU
5
Dijual Setan Muktamar
6
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
Terkini
Lihat Semua