Nasional

Update Data Gempa NTT: 91 Meninggal Dunia, 1.505 Luka-Luka, 161 Ribu Warga Mengungsi, 6.409 Gempa Susulan

NU Online  ·  Senin, 24 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Update Data Gempa NTT: 91 Meninggal Dunia, 1.505 Luka-Luka, 161 Ribu Warga Mengungsi, 6.409 Gempa Susulan

Kerusakan rumah warga di Kecamatan Sambi Rampa, Kabupaten Manggarai, NTT akibat gempa bumi M7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). (Dok NU Peduli NTT)

Jakarta, NU Online

Gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB masih diikuti ribuan gempa susulan. Hingga Senin (24/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 6.409 gempa susulan dengan magnitudo M1,1 hingga M6,2. Sebanyak 33 gempa susulan bermagnitudo di atas lima dan 139 kejadian dirasakan masyarakat.

 

“Rangkaian gempa susulan menunjukkan pola temporal yang belum sederhana. Gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar tiga sampai empat minggu sejak gempa utama,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers, Ahad (23/8/2026).

 

“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada akan gempa susulan yang masih berpotensi terjadi,” lanjutnya.

 

Hingga Ahad (23/8/2026) pukul 17.00 WIB, BNPB mencatat korban meninggal dunia mencapai 91 jiwa, bertambah empat jiwa dari hari sebelumnya. Korban tersebar di Manggarai 30 jiwa, Manggarai Timur 31 jiwa, Sikka 8 jiwa, Ende dua jiwa, Manggarai Barat satu jiwa, Nagekeo 14 jiwa, dan Ngada 5 jiwa.

 

“Berdasarkan jenis kelamin, 40 jiwa berjenis kelamin laki-laki, 48 berjenis kelamin perempuan, dan tiga korban lainnya masih dalam dalam tahap tahap identifikasi,” ucap Berton.

 

Ia menyampaikan berdasarkan kelompok umur, 39 korban merupakan lansia, empat batita, 12 anak dan remaja, serta 35 dewasa.

 

“Berdasarkan data yang diterima, 51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sedangkan sisanya sebanyak 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung,” katanya.

 

Berton mengungkapkan bahwa data pengungsian juga terus meningkat menjadi 161.084 jiwa. Tiga kabupaten dengan jumlah pengungsi tertinggi yaitu Manggarai 46.519 jiwa, Nagekeo 34.256 jiwa, dan Manggarai Timur 31.372 jiwa.

 

Untuk korban luka, ia mengatakan sebanyak 1.505 jiwa, dengan tertinggi pada Manggarai Timur 643 jiwa dan Manggarai Barat 504 jiwa.

 

“Saat ini data pengungsi yang ada di pada kami bertambah lagi menjadi 161.874 jiwa. Adapun tiga kabupaten yang paling tinggi adalah Kabupaten Manggarai. Pengungsinya sebanyak 46.519 jiwa. Kabupaten Nagekeo 34.256 jiwa dan Kabupaten Mangkarai Timur 31.372 jiwa,” ungkapnya.

 

Dampak kesehatan turut menjadi perhatian. Berton menyampaikan laporan Kementerian Kesehatan bahwa terdapat kasus ISPA sebanyak 3.721 kasus serta 15 kasus gigitan hewan penular rabies dari Nagekeo dan Manggarai Timur.

 

Ia menambahkan, sebanyak 169 puskesmas terdampak; 101 telah beroperasi penuh, 49 sebagian, dan 19 belum beroperasi. “Kerusakan bangunan didominasi oleh rusak sedang,” ungkapnya.

 

BNPB mulai mendata kerusakan rumah secara paralel dengan penanganan darurat. Tim rehabilitasi dan rekonstruksi telah tersebar di kabupaten terdampak. Data sementara by name by address hingga tingkat desa telah diperoleh untuk Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, dan Sikka, sedangkan Manggarai masih dalam proses penginputan.

 

“Dari total 113 desa, sebanyak enam desa telah berhasil diverifikasi. Proses verifikasi ini telah dimulai sejak Jumat (21/8/2026),” ucap Berton.

 

Ia menjabarkan sebanyak 762 rumah telah diverifikasi, terdiri atas 51 rusak berat, 311 rusak sedang, dan 400 rusak ringan. Sementara total rumah yang rusak saat ini adalah 67.100 unit, dengan rincian 22.366 unit rusak berat, 15.594 unit rusak sedang, dan 29.140 rusak ringan.

 

Berton menyampaikan bagi warga yang rumahnya tidak mengalami kerusakan diimbau kembali ke rumah masing-masing. “Masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tandasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang