Yenny Wahid soal Krisis Energi: Dampaknya Langsung ke Dapur, Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan
NU Online · Kamis, 2 April 2026 | 21:30 WIB
Yenny Wahid saat menyampaikan keterangan pers kepada awak media usai acara Halal Bihalal Perempuan Indonesia di kediaman Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis (2/4/2026). (Foto: NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Direktur Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) menyoroti dampak krisis energi global terhadap kehidupan rumah tangga, khususnya bagi perempuan.
Ia menegaskan bahwa gejolak energi dunia tidak hanya berdampak pada sektor makro, tetapi langsung terasa hingga ke dapur masyarakat dan perempuan menjadi kelompok paling rentan dari dampak tersebut.
“Krisis energi, walaupun tempatnya jauh di Selat Hormus, tapi dampaknya langsung ke dapur ibu-ibu. Ibu-ibu tentu sangat lekat dengan urusan dapur, urusan rumah tangga, tentu berdampak semua,” ujar Yenny saat ditemui NU Online di kediamannya, Ciganjur, Jakarta, pada Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz memberikan efek signifikan terhadap pasokan energi global. Jalur tersebut selama ini menjadi penghubung utama distribusi energi dunia.
“Setelah Selat Hormuz ditutup, efeknya langsung ke dapur masyarakat. Kenapa? Karena 20 persen pasokan energi dunia mengalirnya lewat Selat Hormuz,” ujarnya.
“Otomatis, minyak yang terhambat pasokannya, minyak jadi langka, harganya jadi mahal. Begitu BBM mahal, semuanya ikut mahal,” lanjutnya.
Menurut Yenny, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memiliki dampak berantai terhadap harga kebutuhan pokok. Hal ini menjadi persoalan serius karena kebutuhan dapur merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.
“Harga BBM buat kita tentu sangat signifikan karena ini berdampak besar pada harga-harga barang pokok, harga-harga semua kebutuhan, dan tentunya kebutuhan dapur yang paling utama,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pemerintah harus bertindak tegas dalam merespons situasi ini agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas. Yenny menyinggung contoh negara lain yang telah mengambil langkah ekstrem akibat tekanan energi global.
“Karena kita lihat, ketika tidak ada intervensi pemerintah yang terjadi seperti di Filipina, langsung ada keadaan darurat diterapkan. Kita tentu tidak ingin ada kondisi semacam itu diterapkan di Indonesia,” tegasnya.
Di tengah situasi tersebut, Yenny juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam menghadapi dampak krisis.
“Perempuan-perempuan mampu bergerak bersama-sama, misalnya apa? Misalnya kita bisa bersinergi dengan pemerintah untuk memberikan masukan mengenai solusi-solusi yang harus dihadapi, solusi-solusi yang harus diambil untuk memastikan bahwa dampak dari Perang Iran dan Amerika ini, serangan Amerika ke Iran, tidak kemudian dampaknya terasa begitu besar untuk Indonesia,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
2
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
3
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
4
Zakat Profesi ASN: Antara Standar Nisab dan Legalitas Pemotongan Gaji dalam Perspektif Fiqih
5
Riset Porec: 87 Persen Warga Nilai Program MBG Rawan Korupsi
6
Sambangi Dubes Arab Saudi, Ketum PBNU Harap Konflik Timur Tengah Reda Lewat Diplomasi
Terkini
Lihat Semua