Opini

Lompat Lari Arab Saudi

Rabu, 26 Februari 2025 | 20:27 WIB

Lompat Lari Arab Saudi

Bendera Arab Saudi (Foto: widewallpapershd)

Ibarat lomba lari, posisi Arab Saudi selama ini bisa dibilang cukup “tertinggal” terkait dengan perannya dalam persoalan regional Timur Tengah maupun global, mulai dari persoalan Perang Gaza hingga Peran Ukraina. Padahal Arab Saudi sudah melakukan beberapa inisiatif sebagai cerminan dari peran dan tanggung jawab yang dilakukan selama ini (seperti pertemuan OKI dan pertemuan negara-negara Arab pada November 2023). Namun, insiatif-inisiatif yang ada belum mampu mendorong dan memperbaiki posisi Arab Saudi untuk mengejar ketertinggalannya.


Keberhasilan pertemuan petinggi Rusia dengan petinggi Amerika Serikat (AS) di Arab Saudi tidak lama ini (18/02) berdampak signifikan atas perbaikan posisi Negeri Dua Tanah Suci itu. Perbaikan posisi yang ada bisa terus memuncak bahkan bisa menjadi nomor satu bila pertemuan antara Donald Trump sebagai Presiden AS dengan Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia benar-benar terlaksana di negara itu, terlebih lagi bila perdamaian antara Ukraina dan Rusia benar-benar tercapai.


Persamaan karakter
Dalam hemat penulis, keberhasilan pertemuan antara petinggi AS di bawah kepemimpinan Trump dan peinggi Rusia di bawah kepemimpinan Putin tidak terlepas dari persamaan karakter dari pucuk pimpinan tiga negara AS, Rusia dan Arab Saudi (khususnya Muhammad Bin Salman yang dikenal dengan sebutan MBS). Paling tidak karakter perlawanan terhadap “nilai-nilai Barat” yang selama ini kerap diterapkan oleh para pemimpin AS dari partai Demokrat seperti Presiden Joe Biden. 


Bahkan karena nilai-nilai yang ada, tak jarang AS di bawah kepemimpinan presiden AS “yang ideolog”  bersitegang dengan negara yang selama ini memiliki hubungan strategis seperti Arab Saudi terkait dengan persoalan pembunuhan Jamal Kashoggi yang membuat hubungan AS-Arab Saudi di bawah kepemimpinan Joe Bden terlihat sangat canggung. Pendekatan yang sempat dilakukan Arab Saudi dengan para pesaing AS seperti Tiongkok dan tentu saja Rusia bisa dipahami sebagai upaya perlawanan dan juga perimbangan yang coba dilakukan oleh Arab Saudi selama ini.


Pada tahap tertentu, perang Rusia terhadap Ukraina yang dikobarkan oleh Putin bisa dibaca sebagai perlawanan Rusia terhadap nilai-nilai yang coba “dipaksakan” oleh negara-negara Barat di bawah pimpinan AS. Terlebih lagi terkait dengan kemungkinan Ukraina bergabung dengan NATO yang menjadi garis merah bagi Putin.


Sementara dari AS sendiri, Trump selama ini melakukan perlawanan yang sempurna terhadap “nilai-nilai Barat” yang ditampakkan oleh Joe Biden. Terlebih lagi AS di bawah kepemimpinan Joe Biden mendukung Ukraina dalam melawan perang yang dikobarkan oleh Putin. Terutama juga karena AS di bawah kepemimpinan Joe Biden mendukung Israel yang diserang oleh Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023, di satu sisi, dan mendukung gencatan senjata antara Israel dengan Hamas, di sisi yang lain. 


Terkait kedua perang besar ini, Joe Biden mencoba untuk menerapkan “nilai-nilai Barat” yang selama ini lebih mendukung perdamaian global ketimbang kebijakan perang seperti yang pernah dilakukan AS di bawah kepemimpinan mantan Presiden Bush Junior dari partai Republik. 


Tapi sikap Putin yang terus menyerang Ukraina dan Israel yang terus membombardir Gaza membuat citra Biden seakan mendukung kedua perang yang ada sekaligus dianggap tidak konsisten dengan nilai-nilai Barat yang selama ini dikampanyekan. 


Bahkan pada tahap tertentu, perang Gaza tak ubahnya “pasir isap” bagi Joe Biden dan Kamala Harris yang didukungnya; semakin bergerak maka semakin dalam Joe Biden dan Harris tersedot ke dalam jurang inkonsistensi. Hingga akhirnya Kamala Harris benar-benar kalah dan Trump menjadi pemenang Pilpres AS 2024.


Di samping persamaan karakter perlawanan terhadap nilai-nilai Barat, ketiga pemimpin Trump, Putin dan MBS sama-sama memiliki karakter “pebisnis” dengan logika saling menguntungkan dan membahagiakan. Dan pertemuan di Arab Saudi hampir pasti diyakini menguntungkan bagi tiga pihak sekaligus, baik pertemuan antar-Menlu yang telah dilakukan kemarin ataupun pertemuan antara kepala negara yang diperkirakan akan berlangsung akhir bulan Februari ini.


Penyelesaian dua perang
Pada bagian tertentu, pertemuan antara petinggi Rusia dan petinggi AS di Arab Saudi tak hanya berpotensi menyelesaikan perang yang berkobar antara Rusia melawan Ukraina. Lebih jauh, pertemuan tersebut juga berpotensi menyelesaikan perang yang terjadi antara Israel dengan Hamas di Gaza. 


Hal ini bisa terjadi melalui peran Arab Saudi yang sangat strategis di Timur Tengah secara umum dan dunia Arab secara khusus, terlebih apa bila Arab Saudi benar-benar berhasil mendamaikan antara AS, Rusia dan Ukraina. Sementara di sisi lain Rusia yang juga mulai didekati oleh Hamas bisa menggunakan pengaruhnya untuk mendorong faksi perlawanan tersebut agar menerima solusi yang ditawarkan.


Di sinilah terlihat sisi “strategis lain” di balik persetujuan dan kesepakatan pertemuan antara petinggi AS dan petinggi Rusia di Arab Saudi, khususnya dari perspektif Trump dan MBS. Dari perspektif Trump, pertemuan di Arab Saudi bisa digunakan untuk meyakinkan negara kaya minyak tersebut terkait “solusi perdamaian” ala Trump dalam perang Israel-Hamas, yaitu mengusir warga Gaza keluar dan menjadikan Gaza sebagai Riviera Timur Tengah. 


Sejauh ini Arab Saudi sudah menyetujui separuh dari pemikiran Trump, yaitu menjadikan Gaza sebagai Riviera Timur Tengah. Terkait dengan pengusiran warga Gaza, Arab Saudi sejauh ini bersikeras menolaknya.


Di luar yang telah disampaikan, pertemuan di Arab Saudi bisa digunakan oleh Trump untuk meyakinkan negara kerajaan itu untuk segera menormalisasi hubungan dengan Israel. Isu normalisasi hubungan antara Arab Saudi (dan beberapa negara Arab Teluk lain) dengan Israel sempat berhembus kencang pada masa pemerintahan Trump periode pertama, walaupun yang melakukan normalisasi dengan Israel ternyata baru Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA). 


Isu normalisasi hubungan antara Arab Saudi dengan Israel semakin hilang setelah terjadinya serangan 7 Oktober 2023 oleh Hamas yang dilanjutkan dengan perang membabi buta di Gaza oleh Israel. Sejauh ini Arab Saudi menegaskan bahwa tak akan ada normalisasi tanpa kemerdekaan Palestina.    


Saat ini, ide pembangunan Gaza pascaperang berada pada fase yang sangat menentukan. Isu ini bisa menentukan apakah gencatan senjata sementara akan berubah menjadi perdamaian permanen atau justru memicu perang pecah kembali? 


Pun demikian, isu ini bisa semakin menguatkan hubungan antarnegara seperti antara AS-Israel dengan Mesir-Yordania atau justru membuka krisis bahkan perang baru antara Israel dengan Mesir-Yordania. 


Sejauh ini ada dua gagasan besar terkait pembangunan Gaza pascaperang. Pertama, gagasan Trump yang meminta warga Gaza dikeluarkan ke Mesir dan Yordania. Kedua, gagasan Mesir (dan dunia Arab secara umum) yang ingin merekonstruksi Gaza tanpa mengusir warganya. 


Nah, di sinilah letak posisi dan peran strategis Arab Saudi ke depan. Saat ini Arab Saudi sangat berpengaruh di dunia Arab secara umum, khususnya dalam konteks Mesir dan Yordania. Dalam perkembangan terbaru, Negara-negara Arab Teluk menggelar Pertemuan Persaudaraan di Riyadh pada hari Jumat kemarin (21/02) yang juga mengundang Presiden Mesir dan Raja Yordania. 


Pada waktu yang bersamaan, Arab Saudi kembali mendapatkan pengaruhnya di jajaran pemerintahan AS yang bisa dibuktikan dengan pertemuan antara petinggi AS dan Rusia. Inilah posisi istimewa Arab Saudi saat ini yang tak dapat dilakukan oleh negara lain, baik dalam konteks Timur Tengah secara umum maupun dunia Arab secara khusus. 


Inilah lompatan jauh Arab Saudi yang dilakukan sambil berlari dan membuatnya berada dalam posisi terdepan terkait upaya negara-negara global dan regional untuk mendamaikan Rusia-Ukraina dan juga Israel-Hamas. 


Hasibullah Satrawi, pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam.