Opini

Riwayat Ompreng

NU Online  ·  Kamis, 4 Juni 2026 | 13:00 WIB

Riwayat Ompreng

Ilustrasi ompreng MBG. (Foto: NU Online/Suwitno)

Ompreng pada mulanya bukan apa-apa. Bukan pejabat, bukan konsultan, bukan relawan, bukan adik ipar orang penting. Tidak punya kartu nama. Tidak pernah ikut pelatihan kepemimpinan. Tidak pernah duduk di ruang tunggu kementerian sambil memegang map. Pagi dicuci, siang diisi nasi, sore dicuci lagi. Begitu saja hidupnya. Kalau penyok sedikit, masih bisa dipakai. Kalau tutupnya hilang, dicari sebentar lalu dimarahi ibu dapur. Nasib ompreng biasanya pendek, tetapi jujur.


Di warung dekat sekolah, orang lebih paham perkara makan daripada banyak rapat resmi. Tukang sayur tahu harga wortel naik sebelum pejabat tahu data inflasi. Ibu dapur tahu beras jelek dari sekali remas. Anak-anak tahu lauk enak dari cepatnya ompreng kosong. Mereka tidak perlu istilah hebat. Perut tidak membaca siaran pers. Perut hanya mengenal dua mazhab. Kosong atau isi.


Republik kita jarang percaya kepada perkara sederhana. Anak lapar tidak cukup diberi makan. Harus ada program. Setelah ada program, harus ada tim. Setelah ada tim, harus ada rapat. Setelah rapat, harus ada paparan. Setelah paparan, harus ada foto. Setelah foto, baru makanan mencari jalan ke perut anak-anak, itu pun kalau tidak tersesat di lorong administrasi. Di negeri ini, nasi tidak hanya dimasak di dapur. Nasi juga harus dimasak di meja rapat, dan meja rapat sering apinya terlalu kecil untuk membuat apa pun matang kecuali alasan.


Begitu ompreng masuk kantor negara, riwayatnya berubah. Semula cuma tempat nasi. Lalu mendapat pangkat baru sebagai bagian dari kebijakan nasional. Orang mulai membicarakannya dengan suara berat. Ada satuan pelayanan, ada dapur produksi, ada yayasan, ada vendor, ada standar, ada monitoring, ada istilah-istilah panjang untuk urusan nasi, lauk, sayur, dan anak yang menunggu bel istirahat. Ompreng pasti bingung kalau bisa berpikir. Selama ini tugasnya cuma membuka mulut, menerima makanan, lalu diam.


Banyak orang mendadak mencintai gizi. Orang yang di rumah tidak bisa membedakan daun seledri dan rumput halaman, kini fasih bicara protein. Orang yang bertahun-tahun sarapan kopi hitam dan rokok kretek tiba-tiba gelisah terhadap masa depan generasi. Gelisah boleh saja. Negara memang perlu orang gelisah. Persoalannya, di belakang kegelisahan nasional sering berdiri orang lain dengan kalkulator di kepala. Mulut bicara kalori. Jari menghitung peluang.


Bahasa resmi selalu sopan kepada kebusukan. Nasi telat disebut kendala teknis. Dapur berantakan disebut perlu pembinaan. Harga janggal disebut penyesuaian. Titipan disebut aspirasi. Orang dekat disebut jejaring. Piring kosong disebut sasaran penerima manfaat. Bahasa semacam itu seperti sarung baru untuk penyakit lama. Dari jauh tampak pantas. Dari dekat, tetap saja gatal. Korupsi jarang datang seperti pencuri ayam tengah malam. Lebih sering datang pagi-pagi, sepatu mengilap, rambut tersisir, membawa map, lalu mengucapkan kalimat tentang pengabdian.


Maka saat Dadan Hindayana, Sony Sanjaya, dan Lodewyk Pusung, tiga bekas petinggi Badan Gizi Nasional, terseret perkara hukum, bangsa ini tidak perlu kaget seperti menemukan cicak berenang di dalam teh manis. Kaget sedikit boleh, asal jangan seperti baru lahir kemarin sore. Dadan, Sony, dan Lodewyk boleh saja menjadi nama dalam berkas perkara. Tetapi ompreng tidak berhenti pada tiga orang. Kalau cerita ini selesai hanya dengan mengganti tokoh, negara sedang mencuci tangan di wastafel yang sama kotornya dengan dapur lama.


Program sebesar Makan Bergizi Gratis sejak awal seperti rumah dengan pintu terlalu banyak. Tiap pintu punya gagang. Tiap gagang punya tangan. Tiap tangan, kalau terlalu dekat dengan anggaran dan terlalu jauh dari malu, mudah berubah menjadi sendok. Sendok anak kecil biasanya pendek. Sendok orang dewasa dalam proyek biasanya panjang, dalam, dan susah kenyang.


Ada dua jenis lapar dalam urusan makan bergizi. Lapar pertama milik anak-anak. Bentuknya polos. Perut kosong, kepala berat, mata sayu, pelajaran lewat seperti angin di lapangan upacara. Lapar ini tidak punya konsultan. Tidak punya perusahaan pendamping. Tidak punya akses ke ruang rapat. Lapar ini cuma minta makan hari ini dan berharap besok tidak kosong lagi.


Lapar kedua milik orang dewasa. Jenis ini lebih terpelajar. Bisa memakai batik, bisa memegang mikrofon, bisa mengucapkan masa depan bangsa tanpa tersedak. Ada lapar kontrak, lapar kuota, lapar rekomendasi, lapar jabatan, lapar foto, lapar dekat dengan orang besar, lapar disebut berjasa. Lapar anak selesai dengan sepiring nasi. Lapar orang dewasa tidak selesai dengan satu dapur. Diberi dapur, minta pemasok. Diberi pemasok, minta paket. Diberi paket, minta panggung. Diberi panggung, minta sejarah berterima kasih kepadanya.


Tidak ada orang waras menolak anak makan layak. Soal itu selesai sejak lama, bahkan sebelum pejabat menemukan kata gizi. Masalahnya muncul saat piring anak-anak menjadi jalan tikus menuju perut orang dewasa. Anak menunggu lauk. Orang dewasa menunggu cair. Anak menunggu sayur. Orang dewasa menunggu jatah. Anak menunggu buah. Orang dewasa menunggu kamera. Sesekali kepala anak diusap di depan wartawan, seolah-olah usapan itu bisa menggantikan audit.


Yayasan tidak otomatis busuk. Dapur lokal tidak otomatis maling. Banyak orang bangun sebelum Subuh, mencuci beras, memotong wortel, mengulek bumbu, menghitung porsi, mengejar jam sekolah, lalu tetap disalahkan kalau makanan terlambat. Mereka orang sungguhan. Keringat mereka asli. Bau bawang di tangan mereka asli. Justru orang semacam itu paling mudah dijadikan latar oleh sistem buruk. Di bawah, orang memasak. Di atas, orang mengaduk angka.


Nama anak sering membuat pertanyaan menjadi sungkan. Kata gizi membuat kritik terdengar kurang ajar. Foto makan siang membuat program tampak bersih. Padahal foto tidak bisa mencium nasi basi. Spanduk tidak bisa memeriksa harga telur. Senyum pejabat tidak bisa membedakan beras bagus dan beras yang cuma tampak bagus di laporan. Hidung ibu-ibu di dekat dapur kadang lebih jujur daripada rapat evaluasi. Kalau bau, ya bau. Hidung tidak punya koalisi.


Kalau dapur bersih, buka pintunya. Biar orang tua melihat. Biar guru bertanya. Biar tukang sayur mengernyit kalau harganya tidak masuk akal. Biar warga curiga secukupnya. Curiga warga bukan penyakit. Sering kali justru obat demam bagi negara yang terlalu percaya kepada bedaknya sendiri. Urusan makan anak bukan rahasia perang. Nasi tidak perlu dijaga seperti dokumen intelijen, kecuali ada sesuatu di balik kukusan yang lebih panas daripada uapnya.


Begitulah riwayat ompreng. Berangkat sebagai benda dapur yang lugu, masuk kantor negara, belajar bahasa birokrasi, disalami vendor, dipeluk pejabat, dicurigai aktivis, lalu ikut terbawa ke berita hukum. Ompreng seharusnya pulang membawa bau sayur dan sisa nasi. Kini ompreng pulang membawa bau perkara. Bukan omprengnya mencuri. Ompreng cuma kurang beruntung lahir di negeri tempat anak lapar sering harus antre di belakang orang dewasa yang jauh lebih lapar.


Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik, Nanyang Technological University, Singapura

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang