Pesantren Ini Angkat Warga Desa dari Keterbelakangan
NU Online · Kamis, 17 April 2014 | 00:30 WIB
Probolinggo, NU Online
Pesantren Darul Hasan di Dusun Janti Desa Sentul Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo didirikan oleh KH Kamaluddin pada tahun 1981 silam. Dari sekian tahun berjalan, jumlah santri di pesantren ini terus bertambah. Hal ini disebabkan, keberadaan pesantren ini memegang peranan penting bagi pendidikan warga sekitar pesantren.<>
Sebelum pesantren ini berdiri, pendidikan di Desa Sentul Kecamatan Gading sangat minim, bahkan bisa dibilang terbelakang. Mereka warga desa tidak terlalu memperhatikan pendidikan anak, baik pendidikan agama maupun pendidikan formal. Namun, sejak adanya pesantren tersebut pola pikir masyarakat berubah.
“Pesantren Darul Hasan didirikan karena warga disini pendidikan agamanya sangat minim sekali. Hal ini dikarenakan tidak ada lembaga pendidikan yang dapat menjadi jujugan warga menuntut ilmu agama,” ungkap pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Darul Hasan Kiai Kamaluddin, Rabu (16/4).
Hadirnya pesantren Darul Hasan membuat pendidikan agama dan formal di desa ini mulai bergairah dan berkembang. Anak-anak usia sekolah banyak belajar di lembaga pendidikan pesantren tersebut.
“Sebelum adanya pesantren ini, warga disini sangat susah untuk mendapat pendidikan. Alhamdulillah, dengan adanya pesantren tersebut, kami tidak terlalu jauh untuk menyekolahkan anak kami,” tutur Toniman, warga setempat.
Toniman menuturkan dulu untuk mengaji, anaknya dititipkan ke pesantren yang cukup jauh. Begitu juga ketika ia mau menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, ia harus menyekolahkan ke Kota Kraksaan Kraksaan. Kini setelah adanya Pesantren Darul Hasan, warga desa tidak perlu jauh-jauh untuk menyekolahkan anaknya. (Syamsul Akbar/Anam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat Dzulqadah: Bulan Damai di Tengah Dunia yang Gemar Bertikai
2
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
3
Khutbah Jumat: Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit
4
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
5
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
6
CELIOS: 50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Rakyat, Indonesia Menuju Republik Oligarki
Terkini
Lihat Semua