Said Wiratmana Hassan (SWARHA): Orang Terkemuka Pemimpin NU Cabang Bandung
NU Online · Selasa, 22 September 2026 | 10:00 WIB
Potret Said Wiratmana Hassan atau SWARHA dalam Sipatahoenan edisi 16 Mei 1936 (Foto: Atep Kurnia/NU Online)
Atep Kurnia
Kolumnis
Mari berkenalan dengan ketua Nahdlatul Ulama Afdeling Bandung antara 1931-1942, Said Wiratmana Hassan yang kerap disingkat SWARHA. Biodatanya tersedia dalam buku Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa (1944: 259-260). Di situ disebutkan dia dilahirkan sekitar tahun Jepang 2555 atau 1895, dan sempat menempuh pendidikan pesantren serta “beladjar sendiri ilmoe dagang dan bahasa”. Untuk meluaskan pengetahuannya SWARHA pernah “beladjar praktek dagang” di London, Brussel, Berlin, Weene, Budapest, Istanbul, Syria, Kairo, Manila, Tiongkok dan Jepang.
Karena berkaitan dengan perdagangan, SWARHA menjabat sebagai direktur N.V. Bouw & Handel Mij Soenda di Bandung sejak 1922. Sementara di bidang keorganisasian, ia pernah menjadi Ketua NU Afdeling Bandung sejak 1931, kemudian menjadi konsul NU pada 1942, Ketua Oemat Islam Bandoeng (1939-1940), Ketua Comite Moekimin Bandoeng (1939-1942), Ketua Roemah Sakit Tjiparaj dan Ketua Pendirian Roemah Sakit Islam di Bandung pada 1939.
Dari fakta-fakta itu, kita mafhum SWARHA adalah tokoh Islam Bandung yang menggabungkan dunia pesantren, perdagangan, dan kepemimpinan sosial. Dengan pengalaman dagang internasional, ia memimpin NU Afdeling Bandung serta aktif dalam berbagai organisasi Islam dan sosial. Namun, dari beberapa aspek kehidupan SWARHA di atas, ada yang perlu kita gali lebih lanjut di antaranya meliputi siapa orang tua dan keluarganya? Apakah SWARHA berasal dari keluarga pedagang, ulama, atau birokrat? Bagaimana ia berkenalan dengan NU? Lalu, bagaimana kepemimpinannya selama menjadi ketua NU Afdeling Bandung?
Keturunan Saudagar Arab
Bila menelusuri koran-koran lawas dari akhir abad ke-19, kita akan bersua dengan nama Sech Abdul Rachman bin Abdullah Hassan, seorang saudagar Arab di Bandung. Ia baru saya temukan dalam Java-bode edisi 24 Oktober 1891, dalam kasus penipuan yang dialami dirinya. Di situ disebutkan JAGP ditahan di penjara Weltevreden karena memasuki rumah Sech Abdul Rachman bin Abdullah Hassan, yang tinggal di Kampung Kaum, di ibu kota Bandung, pada 24 April 1891.
JAGP mengaku-aku sebagai anak mantan Residen Priangan Van der Moore dan menjabat sebagai kapitein-kwartiermeester. Ia menawari Sech untuk bekerja sama dalam leveransir barang-barang pemerintah, seperti pengiriman tembakau dan buah pinang. Setelah Sech mengiyakan, JAGP berpura-pura harus membeli delapan lembar perangko dan meminta Sech itu uang sebesar f. 12, yang kemudian diberi tanda terima dengan tanda tangan palsu.
Selang beberapa tahun, Sech Abdul Rachman dilaporkan melelang sejumlah asetnya pada 15 Desember 1894. Di antaranya ia akan menjual rumah di Kampung Suniaraja, Distrik Ujungberung Kulon; lahan di Kampung Kaum, Distrik Ujungberung Kulon; dan tanah di Kampung Kajaksaan Girang. Konon, hasil penjualannya akan dijadikan sebagai modal satu usaha (Java-bode, 11 dan 17 November 1894). Anehnya, dalam De Locomotief edisi 22 Mei 1895 diwartakan Sech Abdul Rachman pailit dan diperintahkan untuk likuidasi (“Arabier Sech Abdulrachman bin Abdullah Hassan, koopman, wonende te Bandoeng”).
Dua dasawarsa lebih kemudian, Said Wiratmana A. Rachman Hassan membuat pengumuman dari Bandung dengan titimangsa “6 December 1919” bahwa tadi malam ayahnya tercinta telah meninggal dunia dengan damai pada usia 78 tahun (“ouderdom van 78 jaar onze innig geliefde vader de heer S ABDUL RACHMAN HASSAN”). Pengumuman tersebut dimuat dalam De Preanger-bode edisi 6 Desember 1919.
Dari kabar itu, tentu saja kita mendapatkan titik terang bahwa Said Wiratmana A. Rachman Hassan (SWARHA) adalah seorang keturunan Arab di Bandung. Ayahnya Sech Abdul Rachman meninggal dunia pada 5 Desember 1919 dalam usia 78 tahun, yang berarti lahirnya sekitar 1841. Sementara ibunya bumiputra dari Sumedang (Sinar Pasoendan, 4 Juni 1934), sehingga namanya memakai “Wiratmana” yang terkesan diambil dari nama menak Sunda. Saat ayahnya meninggal, SWARHA baru berumur 24 tahun.
Dengan kabar-kabar di atas, kita juga mafhum mengapa SWARHA menempuh pendidikan pesantren, “beladjar sendiri ilmoe dagang dan bahasa”, dan “beladjar praktek dagang” ke luar negeri. Ayahnya seorang Arab, Islam, dan pekerjaannya berbisnis, sehingga SWARHA mengikuti jejak langkahnya. Ia mulai terekam berbisnis pada 1917. Dalam De Preanger-bode (12 Mei 1917) dikatakan SWARHA yang beralamat di Kopoweg menyewakan dua toko di seberang Kantor Pos Bandung.
Dengan warta singkat itu, kita mendapatkan gambaran bahwa sudah lama keluarga SWARHA memiliki lahan di sekitar Alun-Alun Bandung yang sejajar dengan Masjid Agung, yang kemudian pada tahun 1950-an menjadi SWARHA Building dan SWARHA Stores. Betapapun, dalam De Preanger-bode (25 Agustus 1917) ia mengajukan dispensasi kepada pemerintah Kota Bandung dari garis bangunan fasad untuk bangunannya di Residentsweg. Sementara itu, hingga awal April 1919, bangunan toko dan kantor di pusat Kota Bandung masih diiklankan untuk disewakan oleh SWARHA (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 1 April 1919).
Selanjutnya, bila di dalam Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa dikatakan SWARHA menjabat sebagai direktur N. V. Bouw & Handel Mij Soenda sejak 1922, padahal pendirian perusahaan itu sudah dilakukan setahun sebelumnya. Buktinya di dalam De Preanger-bode edisi 20 September 1921 diwartakan bahwa Said Wiratma (sic!) Abdul Rachman Hassan, seorang saudagar dan istrinya Nji Raden Siti Ningroem, di Bandung, baru saja mendirikan N.V. Bouw- en Handel Maatschappij Soenda. Modal usahanya sebesar f. 150.000, yang sembilan saham seharga f. 5000 telah diambil dan dibayar penuh oleh para pendiri. Direkturnya SWARHA dan komisarisnya Nji Raden Siti Ningroem.
Momen Muktamar NU di Bandung
Soalnya kemudian, bagaimana SWARHA berkenalan dengan NU dan sejak kapan terlibat di NU? Di dalam Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa disebutkan dia mulai menjadi ketua NU Bandung sejak 1931. Apakah hal ini ada hubungannya dengan proses pemerkenalan NU ke Jawa Barat?
Bisa jadi demikian. Karena misalnya dalam hasil penelitian Budi Sujati (Eksistensi Nahdlatul Ulama Jawa Barat, 1931-1967, 2019) disebutkan “Berdirinya NU di Jawa Barat terjadi pada 1931 dengan diadakannya Congres NU ke-6 di Cirebon dan mulai dikenal oleh masyarakat Jawa Barat (Tatar Sunda) dengan diadakannya Congres NU ke-7 di Bandung 1932”.
Muktamar NU di Cirebon itu berlangsung antara 25-27 Agustus 1931. Sementara pada 1930, SWARHA berangkat ke Eropa. Warta pertama yang saya temukan di Sinar Deli (8 Mei 1930) yang menyatakan SWARHA akan berangkat ke Eropa pada 12 Mei 1930 mendatang dengan menggunakan Kapal Derffinger dari Singapura. Untuk usahanya di Bandung, ia kuasakan kepada Tjen Djin Tjong dan Mr. J.L.L. A. Visser. SWARHA diperkirakan akan berada di Eropa selama setahun. Sementara dalam Bintang Timoer (12 Juli 1930) dikatakan “beliau bersama familienja telah berangkat ke Europa, sekarang telah bertempat di Cairo (Mesir)”.
Selanjutnya di dalam Swara Publiek (15 Oktober 1930) ditulis, “Di Bandoeng ada ditrima kabar, jang toean S.W.A.R. Hassan Wiraatmana, directeur dari NV Bouw Maatschappij Soenda, salah satoe Indonesier di Bandoeng jang terkenal kaja dan tiada asing lagi bagi doenja perdagangan pada tanggal 12 Mei telah berangkat ke Singapore, dari mana dengen kapal Derffinger telah berangkat ka Europa, dan sekarang berada di Leipzig”.
Konon, selama bepergian itu, SWARHA pernah mengunjungi Mesir, Belanda, Inggris, Belgia, Prancis (Paris), Jerman (Berlin), dan beberapa negeri lainnya di Eropa. Kemungkinan kata koran SWARHA akan berada di Eropa hingga akhir tahun 1930. Ini berarti perjalanan yang dimaksudkan oleh SWARHA sebagai “beladjar praktek dagang” itu berlangsung antara Mei-Desember 1930.
Namun, selama ini belum nampak komitmen SWARHA terhadap Islam. Saya baru menemukannya dari kabar De Koerier edisi 6 Februari 1929 dengan tajuk “De Ianah-school”. Di situ dikabarkan dewan De Ianah-school yang diketuai S.W.A.R. Wiratmana akan menyelenggarakan imtihan pada Sabtu malam, 9 Februari 1929, di gedung di Poengkoerweg (Parapatan Ijan), yang sebelumnya digunakan Societeit Pasamoan Pasoendan. Acara imtihannya berkaitan dengan Puasa. Ini saya pikir menjadi penanda penting bahwa komitmen SWARHA terhadap Islam memang kuat, karena melihat latar belakangnya yang keturunan Arab serta berlatarbelakangkan pesantren, sehingga ia turut pula mendirikan sekolah bernafaskan Islam di Bandung: De Ianah-school.
Saya juga belum mendapatkan keterangan ihwal kehadiran SWARHA dalam Muktamar ke-6 NU di Cirebon pada 1931. Oleh karena itu, meskipun besar kemungkinan dia menghadirinya dan bahkan menjadi momentum dia terpilih menjadi ketua NU Afdeling Bandung, saya belum dapat memastikannya. Saya hanya dapat memastikan SWARHA hadir dan menjadi pembicara di dalam Muktamar NU ke-VII di Bandung antara 15-19 Agustus 1932.
Dalam laporan berjudul “De Islamietische Beweging” (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26 Agustus 1932) disebutkan salah satu pokok bahasan dalam muktamar adalah ihwal “Miltpunctie” (tusuk limpa atau suntik mayat) bagi muslim yang meninggal akibat wabah pes. Kendati ada pernyataan pemerintah dan penjelasan beberapa ulama terkemuka di Priangan, Jawa Timur, bahkan ulama Mesir tentang penggunaan dan perlunya suntik mayat demi kepentingan umum, karena Islam tidak menentangnya, perkumpulan itu tetap berpegang pada pendirian yang diambil dalam kongres di Cirebon, yakni suntik mayat terhadap orang yang sudah meninggal itu haram. Namun, karena pemerintah menolak permohonan NU untuk tidak melakukan suntik mayat, atas usulan Kiaji Hadji Wiratmana (SWARHA) muktamar mengajukan mosi kepada pemerintah bahwa suntik mayat boleh dilakukan pada mayat perempuan dan gadis oleh dokter-dokter perempuan, segera setelah meninggal dan tidak hanya pada bangsa bumiputra melainkan meliputi semua bangsa, tanpa pandang ras.
Isu mengenai bantuan bagi saudara setanah air yang sedang kesusahan di Tanah Suci juga menjadi pokok pembahasan selama berjam-jam. Mulanya NU tidak akan berpartipasi pada upaya itu, karena membutuhkan biaya untuk propaganda, tetapi setelah ceramah hebat seorang ulama, diputuskanlah NU akan menyediakan bantuan keuangan, seperti yang dilakukan Al Irsyad dan lain-lain. Dalam kesempatan itu, Kiaji Hadji Wiratmana bertanya apakah Kongsi Tiga (kapal laut dan perusahaan), yang sudah mendapatkan demikian banyak keuntungan dari dari para jemaah haji ke Mekkah, tidak dapat membawa orang-orang dari Jeddah ke Indonesia secara gratis? Bila mereka enggan, maka harus diboikot, karena masih banyak perusahaan yang mau menyediakan alat transportasi haji. Akhirnya disepakati untuk mengirim delegasi dari dua anggota NU, yaitu Hadji Abdoel Wahab dan Wiratmana yang akan mengontak Kongsi Tiga agar mau berdiskusi demi kepentingan para jemaah haji yang terlantar.
Dalam laporan berikutnya (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16 September 1932) dikatakan Muktamar NU di Bandung membentuk komite khusus untuk mengurus jemaah yang terlantar di Tanah Suci. SWARHA dari Bandung dan Kiaji Hadji Abdulgani dari Surabaya terlibat dalam komite itu. Mereka baru tiba di Batavia untuk berdiskusi dengan direktur-direktur perusahaan kapal laut terkait transportasi haji ke Hindia. Perusahaan pertama yang mereka kunjungi adalah Kongsi Tiga, yang manajemennya sepakat mau membawa haji yang terlantar dengan ongkos yang sangat besar dikurangi, yaitu f. 60/orang. Karena ada 1360 jemaah haji yang harus ditolong, berarti harus ada f. 81.600 biaya yang dibutuhkan. Sementara pemerintah hanya mau berkontribusi sebesar f. 29.000.
Namun, perusahaan kapal Inggris mau menerima uang f. 29.000 untuk membawa pulang 1360 jemaah, asalkan tidak usah dibebani biaya pengurusan keberangkatan dan kepulangan, keperluan kesehatan, dan biaya karantina. Komite itu kemudian menemui Adviseur voor Inlandsche Zaken untuk memohon arahan lebih lanjut. Penasihat urusan bumiputra sepakat dengan usul itu dan persetujuan dengan perusahaan kapal Inggris dilanjutkan sesegera mungkin. Komite sekaligus membicarakan ongkos naik haji dengan perusahaan tersebut. Perusahaan itu mau dibayar f.55/orang asalkan jumlah jemaah hajinya lebih dari 1000 orang, di luar biaya pengurusan keberangkatan-kepulangan, medis, dan karantina yang jumlahnya bisa sebesar f. 35/orang. Komite menimbang-nimbang untuk menggunakan kapal perusahaan Inggris itu untuk musim naik haji berikutnya.
Sangat Aktif dalam Pergerakan NU
Untuk menggambarkan betapa aktifnya SWARHA di NU, saya memperoleh gambarannya dari berita dalam Soeara Oemoem edisi 8 Februari 1937. Pada paragraf pertama tertulis begini: “Pendoedoek di Bandoeng seoemoemnja tentoe sadja kenal pada toean Hasan jang terkenal djoega dengan nama Toean SWARCHA, karena di Bandoeng toean terseboet ada sangat actief sekali dalam pergerakan, toelis pembantoe MH di sana. Paling actief ia bekerdja dalam kalangan Nahdatoel Oelama, soeatoe perkoempoelan Igama”.
Salah satu bentuk betapa aktifnya itu, SWARHA terlibat dalam memajukan dan memberdayakan Nahdlatoel-Oelama Isteri, sehingga dalam laporan di atas ditulis lagi begini: “Berhoeboeng dengan diadakannja conferentie Volkenbond di Bandoeng, Toean Hasan soedah berdaja oepaja djoega soepaja wakil-wakil Nahdatoel Oelama Isteri dapat kesempatan bitjara dalam conferentie itoe goena mengoetarakan keinginan dan pikirnnja terhadap soal jang akan dibitjarakan dalam conferentie itoe jaitoe soal memberantas perdagangan perempoean”.
Lalu, bagaimana aktivitas SWARHA di NU sebelum dan setelah tulisan itu muncul? Tentu saja banyak. Saya akan memetik beberapa di antaranya dari berbagai surat kabar yang terbit hingga 1941. Seperti dari Sipatahoenan edisi 11 Maret 1935, SWARHA hadir dalam acara Openbare Vergadering Nahdlatoel Oelama di Ciparay, pada 10 Maret 1935 dan menjelaskan maksud-maksud eksistensi NU.
Dalam Sipatahoenan edisi 1 April 1935, diwartakan pada Malam minggu kemarin, NU Afdeling Bandung mengadakan pertemuan di clubhuis mereka, di Kopoweg atau berarti tidak jauh dari rumah SWARHA. Peserta pertemuan datang dari cabang-cabang NU di Cicalengka, Ciheulang, Ciparay, Babakan Ciparay, Batujajar, Cihampelas, Cicendo, Gandok, Sukajadi, Nyengseret, Andir, dan lain-lain. Pertemuan tersebut dipimpin SWARHA dan dihadiri tidak kurang dari 600 orang. Di antaranya yang dibahas adalah pentingnya NU punya perwakilan di Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat). Untuk calonnya yang banyak disetujui adalah Soetsen (Soetisna Sendjaja).
Pertemuan NU Afdeling Bandung juga diselenggarakan di Masjid Agung Bandung. Dalam Sipatahoenan (18 November 1935) dijelaskan tadi malam (17/11), NU Afdeling Bandung menyelenggarakan pertemuan (taswir) di Masjid Agung di Alun-Alun Bandung. Hadirin yang datang sebanyak 3000 orang. Dalam sambutannya, Camat Kota Bandung Raden Bey Soedibjo Arijana Singasari mengatakan Bupati Bandung memberikan izin kepada NU untuk menyelenggarakan pertemuan di masjid tersebut.
Menariknya dalam kunjungan ke luar negeri, SWARHA masih membawa misi Islam. Misalnya kala dua bulan berkunjung ke Filipina dan Jepang pada 1936, ia juga meneliti keadaan Islam di kedua negara tersebut. Kata penulis berita dalam Sipatahoenan edisi 15 Mei 1936, sebab SWARHA adalah ketua NU Afdeling Bandung. Dalam Sipatahoenan tertulis: “Kaajaan di doea nagara anoe kaseboet di loehoer, koe lantaran Djoeragan Wiratmana di dieuna djadi Voorzitter Nahdatoel Oelama, atoeh andjeunna naloengtik oge kana kaajaan agama Islam anoe aja di eta tempat”.
Catatan perjalanan SWARHA itu kemudian ditulis dan dimuat berseri sejak 16 Mei 1936 hingga 22 Agutus 1936 di Sipatahoenan. Judulnya “Ngadjadjah ka Tatar Wetan” dan “Perdjalanan ka Tatar Wetan” yang ditulis oleh wartawan Sipatahoenan berdasarkan wawancara. Selain itu, hasil perjalanannya disampaikan SWARHA dalam bentuk ceramah di depan para undangan, anggota NU Afdeling Bandung, dan masyarakat umum pada 22 Agustus 1936 malam di Clubhuis Nahdatoel Oelama di Kopoweg (Sipatahoenan, 20 dan 24 Agustus 1936).
Memasuki 1937, kegiatan NU Bandung terbilang banyak. Di antaranya saya mencatat ada aktivitas Vergadering Nahdoh Istri Bandoeng di Gedung Hassanijah School di Kopoweg yang dihadiri sekitar 1200 perempuan. Di antara pokok bahasan dalam acara itu adalah pendirian Madrasah Istri yang akan dibuka pada 18 Januari 1937 (Sipatahoenan, 6 Januari 1937). Untuk membantu kalangan miskin, SWARHA menyelenggarakan Armenzorg Moeslimin di Kopoweg (Sipatahoenan, 27 Januari 1937). Untuk Congres Indonesia Moeda ke-VII di Bandung pada Desember 1937, SWARHA terpilih menjadi salah seorang anggota panitianya, khususnya berkaitan dengan kebendaharaan (Pemandangan, 19 Oktober 1937). Kemudian dalam Conferentie Nahdatoel Oelama bagian Djawa Koelon yang berlangsung pada 24 Desember 1937, SWARHA menjadi salah seorang pembicara yang menyampaikan materi mengenai pendidikan dan ekonomi (Sipatahoenan, 27 Desember 1937).
Dalam Openbare Vergadering ANO (Ansor) Cabang Bandung pada 18 Juni 1938 di Clubhuis NO di Kopoweg yang di antaranya menghadirkan K.H. Tohir Bakry dari Surabaya yang membacakan ayat suci Al-Qur’an, K.H. Abdullah Oebeyd propagandist officieel dari ANO dan NO di Surabaya, serta K.H. Nasichoen dari Semarang itu, SWARHA yang menjamu para tamu setelah acara selesai. Dalam Sipatahoenan (20 Juni 1938) dikatakan, “Kira poekoel 12.30 kakara vergadering ditoetoep kalawan kagoembiraan sarta sanggeusna boebaran, tamoe2 ti noe djaoehna dihormat soesoegoeh di boemina Djoeragan SWARHA”.
Di sisi lain, Nahdoh Moeslimat Bandung terus memperlihatkan aktivitasnya. Di antaranya dalam Sipatahoenan (29 Desember 1938) dikabarkan mengenai rencana Nahdoh Moeslimat akan mengadakan pengajian di Clubhuis NO di Kopoweg 17. Para pesertanya adalah para kiai perempuan dari Garut dan Cirebon (“Noe baris ngaraosna kiai2 istri ti Garoet djeung Tjirebon”).
Kemudian dalam Muktamar NU ke-XIV di Magelang, di antaranya ada Nyonya Djoewaesih Danoeatmadja dari Moeslimatoen Nahdoh Bandung yang disebutkan “telah terkenal di kalangan moeslimat ahli pidato” (Pemandangan, 5 Juli 1939). Untuk persiapan mengikuti muktamar di Magelang itu NU Bandung mengadakan pertemuan umum di Clubgebouw NO di Kopoweg pada 12 Agustus 1939. Pertemuan yang dipimpin SWARHA tersebut menghadirkan tujuh pembicara, di antaranya Ajengan Hamzah Hamid (bagian agama) dari Cicalengka, Rd. Ihwan dan Rd. Danoe (bagian masyarakat umum), Djenal Arifin (Consul NO Pasoendan) dari Batavia, H. Siti Fatimah dan H. Achmad, keduanya mualaf bangsa Belanda yang tinggal di Ciparay (Sipatahoenan, 10 Agustus 1939).
Dalam Sipatahoenan (29 Agustus 1939) diberitakan Nahdoh Bagian Poetri di Bandung akan membuka sekolah baru pada 1 September 1939 serta diberi nama Bruid, Vak, en Frobelschool. Untuk keperluan tersebut, di tempat tablig perempuan di Gang Hasan, Nyonya Soemawiria sudah menyampaikan pidato mengenai rencana pendirian sekolah itu.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, perhatian SWARHA terhadap pendidikan Islam memang besar. Sejak awal 1930-an dia mendirikan Ianah-School, kemudian Hassanijah School atau Hassanijah Al Islam School di Kopoweg. Terbukti hingga 1940, sekolah tersebut masih eksis, seperti yang terekam dari Sipatahoenan (23 September 1940). Di situ diwartakan mengenai imtihan di sekolah tersebut yang diisi antara lain oleh pagelaran tunil dan berbagai ujian yaitu mengaji Al-Qur’an, ilmu Fikih, Tajwid, Tauhid, Nahu, Qiraah, Mufradat dan Tarikh.
Nama Hassanijah pada sekolah berikut Gang Hasan tempat Clubhuis NO berada di sekitar Kopoweg jelas diambil dari salah satu nama SWARHA, yang terkenal sebagai orang kaya di sana dan perhatian terhadap Islamnya sangat tinggi, sehingga sangat wajar bila namanya diabadikan menjadi nama jalan.
Satu lagi, dalam Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa dikatakan SWARHA pernah menjadi Ketua Roemah Sakit Tjiparaj. Nah, rumah sakit yang disebut “Polikliniek dan Hulp-Hospital NO” itu dibuka resmi pada Minggu, 16 Maret 1941. Dalam Pemandangan (20 Maret 1941) dan Pewarta Oemoem (19 Maret 1941) dilaporkan pembukaan tersebut dihadiri sekitar 1000 orang, di antaranya Wedana Ciparay, atas nama Bupati Bandung, Dokter Poerwo, Dokter Moerdjani, Mr. Soeparan, dan lain-lain. SWARHA yang memimpin acaranya antara lain mengucapkan terima kasih kepada Dokter Moerdjani dan istrinya, Dokter Soemini, yang akan memimpin dan menjadi dokter-dokter yang bertugas di poliknik itu.
Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda
Terpopuler
1
Ngaji Al-Hikam, Kiai Miftach Ungkap Makna Keramat dalam Perjalanan Spiritual
2
Tanah Wakaf NU di Yogyakarta Dikembangkan Jadi Kampung Reforma Agraria Berbasis Wakaf Produktif
3
Pengumuman 50 Mahasantri Ma'had Aly Penerima Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35
4
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami?
5
Pelatihan Manajemen Bencana NU Care-LAZISNU Tidak Sekadar Mengejar Jumlah Relawan
6
Maulid Nabi di Masjid Istiqlal, Muslimat NU Tekankan Penguatan Perempuan
Terkini
Lihat Semua