Malik Bennabi dan Jalan Kebangkitan Peradaban Islam
NU Online · Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Azmi Abubakar
Kolumnis
Sekitar satu abad lalu, dunia Islam berada dalam fase yang menentukan. Kolonialisme Barat mulai menghadapi perlawanan di berbagai wilayah, sementara bangsa-bangsa Muslim mulai membicarakan kemerdekaan, pembaruan, dan masa depan peradaban mereka.
Pada masa inilah muncul sejumlah pemikir Muslim, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal, Abul A’la al-Maududi, hingga Malik Bennabi dari Aljazair. Masing-masing berusaha menjawab satu pertanyaan besar: mengapa dunia Islam mengalami kemunduran dan bagaimana umat Islam dapat bangkit kembali?
Malik Bennabi mengalami langsung kehidupan di bawah kolonialisme Prancis. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Prancis dan banyak memikirkan persoalan peradaban. Setelah itu, ia tinggal di Mesir dan bersentuhan dengan berbagai arus pemikiran Islam yang berkembang di sana, sebelum akhirnya kembali ke Aljazair setelah negara tersebut merdeka.
Baca Juga
Tiga Tokoh yang Dihormati Gus Dur
Pengalaman hidup di dunia Islam sekaligus di Eropa membuat Malik Bennabi tidak melihat kolonialisme semata-mata sebagai persoalan antara penjajah dan bangsa yang dijajah. Ia justru mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa suatu masyarakat dapat begitu mudah dikuasai oleh bangsa lain?
Hilangnya visi peradaban
Menurut Bennabi, salah satu persoalan besar dunia Islam adalah hilangnya visi dan tujuan bersama. Dalam Syurutun Nahdah, ia menulis:
لقد ظل العالم الإسلامي خارج التاريخ دهراً طويلا كأن لم يكن له هدف، استسلم المريض للمرض، وفقد شعوره بالألم حتى كأنه يؤلف جزءاً من كيانه
Artinya, “Dunia Islam telah lama berada di luar sejarah, seolah-olah tidak mempunyai tujuan apa pun. Ia menyerahkan diri secara pasrah kepada penyakitnya dan kehilangan kesadaran akan rasa sakit, hingga seolah-olah penyakit itu telah menjadi bagian dari eksistensinya.” (Bennabi, Syurutun Nahdah, [Damaskus: Dar al-Fikr, 1986], hlm. 40).
Bennabi melihat bahwa masyarakat Muslim ketika itu menghadapi berbagai penyakit sosial, mulai dari melemahnya tanggung jawab kolektif, berkembangnya korupsi, hingga hilangnya keteladanan. Kolonialisme kemudian datang dan memanfaatkan berbagai kelemahan tersebut.
Baca Juga
9 Tokoh NU Bergelar Pahlawan Nasional
Ia juga mengingatkan bahwa Eropa yang datang ke negeri-negeri Muslim tidak membawa seluruh unsur yang membuat peradabannya maju. Malik Bennabi mengatakan:
رأينا أن أوربا حين اكتشفت العالم الإسلامي لم تؤته روحها، أي إنها لم تؤته حضارتها كلها، وإنما اقتصرت فيما اصطحبت من الأدوات على ما يسهل للمستعمر الحصول على رفاهيته العاجلة
Artinya, “Kita telah melihat bahwa ketika Eropa menemukan dunia Islam, mereka tidak memberikan ruhnya, yakni tidak memberikan seluruh peradabannya. Mereka hanya membawa perangkat yang memudahkan penjajah memperoleh kesejahteraan instan.” (Bennabi, Musykilatul Hadharah: Wijhatul Alamil Islami, [Damaskus: Dar al-Fikr, 2002], hlm. 63).
Dengan kata lain, kolonialisme tidak memindahkan etos ilmu pengetahuan, kedisiplinan, organisasi sosial, dan budaya kerja yang menopang kemajuan Eropa. Kolonialisme hanya membawa berbagai perangkat yang diperlukan untuk mengeksploitasi wilayah jajahan dan memenuhi kepentingan bangsa penjajah.
Namun, kritik Bennabi tidak berhenti pada penjajah. Ia juga mengarahkan kritiknya kepada masyarakat yang membiarkan kelemahan sosial terus berlangsung. Ia menulis:
إن المستعمر يريد منا بطالة يحصل من ورائها يدًا عاملة بثمن بخس، فيجد منا متقاعدين، بينما الأعمال الجدية تترقب منا الهمة والنشاط
Artinya, “Penjajah menghendaki agar kita menjadi penganggur sehingga mereka memperoleh tenaga kerja dengan upah murah. Namun, yang mereka dapati dari kita justru orang-orang yang hanya duduk berpangku tangan, sementara berbagai pekerjaan penting dan serius sedang menanti semangat, kerja keras, dan keaktifan kita.” (Bennabi, Syurutun Nahdah, hlm. 153).
Perubahan harus dimulai dari manusia
Karena itu, jalan keluar dari keterbelakangan, menurut Bennabi, harus dimulai dari manusia. Dalam pembahasannya mengenai gerakan ishlah, ia mengutip firman Allah SWT:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11).
Kemajuan dan kemunduran suatu masyarakat merupakan gejala yang tampak dari luar. Namun, perubahan yang sesungguhnya harus menyentuh manusia sebagai unsur utama pembentuk masyarakat. Bennabi menegaskan:
نجد أن نفس الفرد هي العنصر الجوهري في كل مشكلة اجتماعية
Artinya, “Kita mendapati bahwa jiwa atau pribadi manusia merupakan unsur yang paling mendasar dalam setiap persoalan sosial.” (Bennabi, Musykilatul Hadharah: Wijhatul Alamil Islami, hlm. 53).
Dari sinilah muncul salah satu gagasan Malik Bennabi yang terkenal, yaitu al-qabiliyyah lil isti’mar atau kondisi internal yang membuat suatu masyarakat memiliki kesiapan untuk dijajah. Manusia memang selalu berinteraksi dengan kekuatan dan pengaruh dari luar. Akan tetapi, tidak setiap masyarakat dengan mudah kehilangan kemandirian dan tunduk kepada dominasi bangsa lain.
Karena itu, kemerdekaan bagi Malik Bennabi tidak cukup hanya ditandai dengan hengkangnya penjajah. Sebuah bangsa dapat merdeka secara politik, tetapi masih menggantungkan arah hidup, cara berpikir, dan masa depannya kepada kekuatan asing. Kemerdekaan sejati menuntut pembebasan cara berpikir, penguatan karakter, kemandirian ekonomi, serta kemampuan suatu bangsa untuk menentukan arah peradabannya sendiri.
Abdullah bin Hamd al-Uwaisi mencatat pemikiran Bennabi sebagai berikut:
إذن لكي يتحقق التغيير في محيطنا يجب أن يتحقق أولاً في أنفسنا، وبذلك تتوفر شروط رسالة المسلم في الثلث الأخير من القرن العشرين، وإلا فإن المسلم لن يستطيع إنقاذ نفسه ولا إنقاذ الآخرين
Artinya, “Agar perubahan dapat terwujud di lingkungan sekitar kita, perubahan itu harus diwujudkan terlebih dahulu di dalam diri kita sendiri. Dengan demikian, prasyarat bagi misi seorang Muslim pada sepertiga terakhir abad ke-20 dapat terpenuhi. Jika tidak, seorang Muslim tidak akan mampu menyelamatkan dirinya sendiri maupun orang lain.” (Abdullah bin Hamd al-Uwaisi, Malik bin Nabi: Hayatuhu wa Fikratuhu, [Beirut: asy-Syabakah al-Arabiyyah lil Abhas wa an-Nasyr, 2012], hlm. 221).
Islam sebagai kekuatan sosial
Bennabi melihat masyarakat yang dibangun Nabi Muhammad saw. sebagai contoh perubahan peradaban yang dimulai dari pembentukan manusia baru. Karena itu, ia menekankan pentingnya kembali kepada kekuatan dasar yang pernah membentuk generasi awal Islam:
العودة إلى الفكرة الأصلية في الإسلام: فكرة السلف
Artinya, “Kembali kepada ide dasar Islam sebagaimana dipahami dan diamalkan oleh generasi salaf atau generasi awal Islam.” (Bennabi, Musykilatul Hadharah: Wijhatul Alamil Islami, hlm. 53).
Kembali kepada Islam, dalam pandangan Bennabi, bukan sekadar mengulang simbol dan bentuk kehidupan masa lalu. Islam harus dihadirkan sebagai kekuatan yang membentuk manusia, menggerakkan masyarakat, dan melahirkan peradaban.
Omar Miskawi menjelaskan pandangan Malik Bennabi sebagai berikut:
يقول الأستاذ عمر مسقاوي: وهو يرى أن الإسلام لا يقدم إلى العالم ككتاب، وإنما كواقع اجتماعي يسهم بشخصيته في بناء مصير الإنسانية
Artinya, “Omar Miskawi mengatakan bahwa Malik bin Nabi berpandangan bahwa Islam tidak hadir kepada dunia semata-mata sebagai sebuah kitab, melainkan sebagai realitas sosial yang, melalui karakter dan kepribadiannya, turut berkontribusi dalam membentuk masa depan umat manusia.” (Basyir Dhaifullah, Falsafah al-Hadharah fi Fikri Malik bin Nabi, [Aljazair: Mansyurat al-Majlis al-A’la li al-Lughah al-Arabiyyah, 2005], hlm. 27).
Penekanan terhadap Islam sebagai realitas sosial tidak berarti memisahkan umat Islam dari Al-Qur’an. Justru Al-Qur’an menjadi titik awal pembentukan gagasan dan proyek peradaban Bennabi. Ghazi asy-Syamri menjelaskan:
ومن هنا نفهم سبب إصدار مالك بن نبي أولى بواكير عمله الفكري كان حول القرآن، تلك الرسالة الخالدة وهي آخر تواصل بين السماء والأرض، إنها آخر نداء من السماء إلى البشرية كي تخرج من ديجور المتاهة والضياع
Artinya, “Dari sini kita dapat memahami alasan Malik bin Nabi menjadikan salah satu karya intelektual awalnya berkaitan dengan Al-Qur’an, risalah abadi yang merupakan komunikasi terakhir antara langit dan bumi. Al-Qur’an adalah seruan terakhir dari langit kepada umat manusia agar mereka keluar dari kegelapan labirin, kebingungan, dan kesesatan.” (Ghazi asy-Syamri, Malik bin Nabi: Baina at-Tamatsul wa al-Ibda’, [Damaskus: Dar Ninawa, 2017], hlm. 43).
Dengan demikian, kebangkitan peradaban Islam tidak cukup diwujudkan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai teks yang dibaca dan dihafalkan. Nilai-nilainya harus hadir dalam pembentukan manusia, hubungan sosial, budaya ilmu, etos kerja, tata kelola pemerintahan, dan kehidupan masyarakat.
Hikmah di balik pengalaman kolonialisme
Menariknya, Bennabi tidak hanya melihat kolonialisme sebagai pengalaman buruk. Dalam keadaan tertentu, pengalaman dijajah dapat menyadarkan suatu masyarakat tentang kelemahan yang sebelumnya tidak disadari. Ia menulis:
فلقد يكون الاستعمار أثراً سعيداً من آثار تلك القابلية، لأنه يقلب حينئذ التطور الاجتماعي الذي أوجد المخلوق القابل، فهذا المخلوق لا يدرك قابليته للاستعمار إلا إذا استعمر، وعندئذ يجد نفسه مضطراً أن يتحرر من صفات أبناء المستعمرات بأن يصبح غير قابل للاستعمار
Artinya, “Kolonialisme terkadang dapat menjadi salah satu dampak yang justru membawa hikmah dari adanya mentalitas mudah dijajah. Sebab, kolonialisme membalikkan arah perkembangan sosial yang telah melahirkan manusia yang memiliki kesiapan untuk dijajah. Manusia seperti ini tidak akan menyadari bahwa dirinya memiliki sifat mudah dijajah kecuali setelah benar-benar mengalami penjajahan. Pada saat itulah ia terdorong untuk membebaskan dirinya dari sifat-sifat yang melekat pada bangsa terjajah, yaitu dengan mengubah dirinya menjadi manusia yang tidak lagi memiliki kesiapan untuk dijajah.” (Bennabi, Musykilatul Hadharah: Wijhatul Alamil Islami, hlm. 93).
Pemikiran tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk membenarkan kolonialisme. Malik Bennabi justru mengajak masyarakat Muslim menyadari bahwa kebebasan yang hakiki menuntut perubahan dari dalam. Masyarakat harus membangun kekuatan ilmu, moral, ekonomi, dan sosial sehingga tidak lagi menyediakan ruang bagi dominasi serupa untuk tumbuh kembali.
Dengan demikian, perjuangan melawan kolonialisme tidak berhenti pada pengusiran penjajah. Perjuangan tersebut harus dilanjutkan dengan menghilangkan sifat-sifat internal yang memungkinkan penjajahan hadir dalam bentuk baru, baik melalui ketergantungan ekonomi, dominasi kebudayaan, subordinasi politik, maupun ketidakmandirian pemikiran.
Menghadapi peradaban teknologi
Dalam Musykilah Afkar fi Alamil Islami, Malik Bennabi kembali mengingatkan tantangan dunia Islam ketika berhadapan dengan kemajuan teknologi dan berbagai pemikiran baru:
فالعالم الإسلامي اليوم تتقاذفه أفكار متناقضة: الأفكار التي تضعه وجهاً لوجه مع مشكلات الحضارة التقنية دون أن تؤصله نماذجه السلفية، رغم جهود مصلحيه المشكورة
Artinya, “Dunia Islam pada hari ini diombang-ambingkan oleh berbagai pemikiran yang saling bertentangan, yaitu pemikiran-pemikiran yang menempatkannya berhadapan langsung dengan berbagai persoalan peradaban teknologi, tanpa mengakarkannya pada model-model warisan generasi salaf, meskipun para pembaru telah mengerahkan berbagai upaya yang patut diapresiasi.” (Bennabi, Musykilah Afkar fi Alamil Islami, hlm. 161).
Bennabi tidak menolak kemajuan teknologi. Persoalannya adalah bagaimana umat Islam menghadapi teknologi dengan dasar pemikiran, nilai, dan tujuan peradaban yang jelas. Tanpa landasan tersebut, masyarakat Muslim hanya akan menjadi konsumen teknologi sekaligus penerima pasif gagasan-gagasan yang lahir dari peradaban lain.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan kolonial selalu memperhatikan dan mengikuti setiap gerakan kebangkitan yang muncul di dunia Islam. Oleh sebab itu, proyek kebangkitan Islam membutuhkan kewaspadaan, kemandirian, dan kemampuan membaca berbagai bentuk dominasi yang terus berubah. (Musykilatul Hadharah: Wijhatul Alamil Islami, hlm. 110).
Membangun kemerdekaan yang hakiki
Puluhan tahun setelah gagasan-gagasan tersebut ditulis, pertanyaan Malik Bennabi masih tetap relevan. Kemerdekaan politik tidak selalu otomatis melahirkan kemandirian pemikiran, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Sebuah bangsa dapat merdeka secara formal, tetapi masih kesulitan menentukan arah peradabannya sendiri.
Di sinilah pemikiran Malik Bennabi penting untuk dibaca kembali. Kebangkitan peradaban tidak cukup dilakukan dengan menyalahkan kekuatan dari luar. Kebangkitan harus dimulai dengan membangun manusia yang memiliki ilmu, tanggung jawab, etos kerja, kesadaran bersama, serta kemampuan menentukan masa depannya sendiri.
Kemerdekaan yang hakiki bukan hanya kebebasan dari penjajahan fisik, melainkan juga kebebasan dari kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, korupsi, kemalasan, dan kehilangan orientasi hidup. Sebuah masyarakat baru benar-benar merdeka apabila mampu mengelola kekuatannya, menyelesaikan persoalannya, dan membangun masa depannya berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya.
Dengan membaca Bennabi, umat Islam tidak hanya diajak mengenang masa kolonialisme, tetapi juga melakukan muhasabah: sudah sejauh mana kemerdekaan mampu melahirkan manusia dan masyarakat yang benar-benar mandiri?
Ustadz Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam asal Aceh.
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Masyarakat Adat Kalimantan Timur Ungkap Penolakan Proyek Karbon Bank Dunia
3
Khutbah Jumat: Makna Kemerdekaan yang Hakiki dalam Islam
4
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
5
Innalillah, Sesepuh Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani Wafat
6
Gus Yahya Lepas Jenazah KH Hasanuddin Kriyani di RSPAD, Kenang sebagai Panutan Umat
Terkini
Lihat Semua