Warta KARYA TULIS PESANTREN

Bakat Menulis Bukan Soal Keturunan

NU Online  ·  Kamis, 30 April 2009 | 05:05 WIB

Jepara, NU Online
Dunia tulis-menulis tidak semestinya harus mengandalkan bakat apalagi nasab atau keturunan. Bakat barangkali bisa diunduh dengan mengikuti sebuah komunitas, tentu komunitas yang intens dalam bidang penulisan. Anak atau cucu tak bisa sepenuhnya bisa meniru orang tua maupun kakeknya yang kebetulan seorang penulis.

Demikian disampaikan Isma Kazee, penulis novel “Jerawat Santri” saat kepada siswa MA Walisongo Pecangaan pada kegiatan yang bertajuk Yuk Nulis Yuk Bareng Komunitas Matapena Yogyakarta, Selasa (28/4) lalu.<>

Menurut Isma, bakat bisa diperoleh manakala guyub rukun dengan sebuah komunitas. Sehingga, mulai dari nol pun seseorang akan meniru kebiasaan menulis yang dimiliki oleh kawan yang lain meski harus selangkah demi selangkah.

Dia sendiri mulai menggeluti tulis-menulis saat nyantri di pondok pesantren Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur sejak 1990 silam. Pasca hijrah dari Tambak Beras itulah perempuan Pekalongan 31 tahun silam ini lebih giat bergabung di pelbagai komunitas-komunitas penulisan di kota gudeg Yogyakarta.

Isma menambahkan, soal keturunan dia pun bukan keturunan penulis, melainkan orang tuanya hanyalah pedagang. Namun “Ja’al Jutek” juga menjadi novel lain yang telah diterbitkan oleh Matapena, komunitas yang diikutinya saat ini.

Kegiatan yang disentralkan di aula perpustakaan Pesantren Walisongo ini dihadiri pula Mahbub Jamaluddin. Kang Mahbub penulis novel “Laskar Hizib” dan “Pangeran Bersarung” ini mengungkapkan bakat menulis lahir ketika seseorang mau memulainya.

Dikatakannya, kemauan ingin menjadi penulis bisa dilakukan kapan saja. Maka, lelaki asal Kebumen ini mengajak puluhan peserta untuk memulai menulis mulai saat ini juga. Mahbub pun yakin bahwa setiap orang pasti bisa menulis. 

Sementara itu, Ainun Najib, wakil kepala madrasah bagian kesiswaan mengatakan ungkapan terima kasih atas kerjasama almamaternya dengan komunitas Matapena.

“Kerjasama ini dilakukan untuk menambah wawasan maupun link (jejaring) kepenulisan kepada para aktivis ekstrakulikuler jurnalistik: meski sudah dibina secara intens dalam sepekan sekali,” katanya kepada kontributor NU Online, Syaiful Mustaqim. 

Najib menambahkan, pada Agustus 2008 lalu, madrasah dibawah lingkup LP Ma’arif NU Jepara ini telah menggelar Belajar Menulis bersama Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan antusiasme peserta pun membludak. (qim/nam)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang