Dialog Antar-Agama Bukan untuk Mengakui Agama Lain
NU Online Ā· Senin, 12 Mei 2008 | 08:06 WIB
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dialog antar-umat beragama sangat penting dilakukan. Namun, dialog itu bukan berarti untuk mengakui ajaran agama lain. Melainkan bentuk penghormatan kepada pemeluknya sebagai sesama mahluk Tuhan.
Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, Cirebon, KH Husein Muhammad pada workshop bertajuk bertajuk āMemperkuat Pemahaman Keberagaman, Otonomi Daerah dan Good Governance Melalui Pesantren di Jawa Baratā di Pesantren Al-Mizan, Majalengka, Jabar, Ahad (11/5) kemarin.<>
Menurut Kiai Huseinābegitu panggilan akrabnyaāsikap saling menghargai terhadap pemeluk agama lain dalam Islam berarti sikap hormat kepada orang non-muslim dan kepada keadilan, kebaikan serta kebenaran.
āAdalah kekeliruan besar bahwa dialog antaragama adalah pengakuan terhadap orang lain (beragama lain) dan penerimaan terhadap agamanya. Bukan pula membenarkan atau merestui cara-cara ritual mereka. Tetapi ia adalah menghargai keyakinan atau agama orang lain dan tidak merendahkannya,ā terang Kiai Husein seperti dilaporkan Kontributor NU Online, M. Zaenal Muhyidin.
Ia menjelaskan, dialog antaragama dalam rangka kemanusiaan adalah suatu keutamaan dalam Islam. Islam mengharuskan pemeluknya untuk bekerja sama secara damai dengan semua kalangan.
Islam, ujarnya, merupakan agama dialog, agama saling memahami, agama damai, toleran dan cinta. āIslam tidak pernah menjadi agama perang atau agama pedang. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan hal-hal seperti ini,ā pungkasnya.
Ia juga mengungkapkan, keberagaman dalam kehidupan merupakan kenyataan yang tak dapat ditolak siapa pun. Perbedaan-perbedaan, imbuhnya, adalah sesuatu yang niscaya. āKeberagaman adalah hukum alam semesta atau Sunnatullah. Dengan kata lain, keberagaman merupakan kehendak Allah dalam alam semesta,ā tandasnya.
Workshop itu diikuti 54 peserta utusan sejumlah pesantren mitra Al-Mizan se-Majalengka, organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat.
Selain Kiai Husein, hadir juga sebagai narasumber pada acara itu, di antaranya, Pengasuh Pesantren Al-Mizan KH Mama Imanulhaq Faqieh dan Program Officer The International Centre for Islam and Pluralism, Fuad Fanani. (rif)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
2
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
3
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
4
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
5
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
6
Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama
Terkini
Lihat Semua