Pakar Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Inkonsistensi Kebijakan di Era Digital
NU Online · Sabtu, 2 Mei 2026 | 20:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Persoalan di sektor pendidikan dinilai masih belum terselesaikan. Pengamat pendidikan menegaskan masih adanya ketimpangan serta ketidakselarasan kebijakan yang berisiko dalam jangka panjang, mulai dari keterbatasan sarana prasarana, penurunan karakter siswa, hingga ketidakpastian arah kurikulum.
Konsultan pendidikan sekaligus pakar pendidikan luar negeri lulusan Royal Melbourne Institute of Technology University (RMIT), Ina Liem, menilai transformasi digital dalam pendidikan saat ini masih bersifat campuran, terlihat modern secara tampilan, tetapi belum menyentuh substansi.
“Kita masih sering menyamakan digitalisasi dengan perangkat, laptop, smart TV, platform. Padahal yang paling substansial adalah digitalisasi tata kelola, bagaimana anggaran dilacak, keputusan berbasis data, dan transparansi meningkat,” ungkap Ina kepada NU Online, Sabtu (2/5/2026).
Ia menegaskan, digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya mengganti papan tulis menjadi layar tanpa perubahan dalam metode pengajaran dan pengelolaan sistem.
“Kesenjangan kualitas pembelajaran sangat berpotensi melebar jika digitalisasi tidak berbasis data,” kata Founder dan Direktur Utama Jurusanku.com tersebut.
Menurutnya, sekolah yang telah memiliki akses internet memadai dan guru yang siap akan berkembang lebih cepat. Sebaliknya, sekolah yang belum siap berisiko semakin tertinggal. Meski demikian, digitalisasi tetap dapat menjadi alat pemerataan jika dimanfaatkan secara tepat, misalnya untuk distribusi konten pembelajaran berkualitas dan pemetaan ketimpangan secara real-time.
Ia menekankan bahwa perbaikan pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pendidikan, infrastruktur, hingga kebijakan sosial. Tanpa kesiapan yang merata, digitalisasi justru berpotensi memperlebar kesenjangan.
Lebih jauh, Ina menyoroti pentingnya tata kelola anggaran pendidikan di tingkat daerah. Menurutnya, kualitas pendidikan sangat bergantung pada akuntabilitas dan transparansi pengelolaan anggaran.
“Di daerah dengan tata kelola baik, anggaran yang sama bisa menghasilkan kualitas pendidikan yang jauh lebih baik. Sebaliknya, jika terjadi kebocoran atau salah prioritas, sekolah tetap tertinggal meskipun dananya ada,” ujarnya.
Ia menilai akar ketimpangan pendidikan bukan semata kekurangan sumber daya, melainkan bagaimana sumber daya tersebut dikelola secara tepat sasaran.
Selain itu, faktor sosial-ekonomi juga turut memengaruhi capaian pendidikan. Anak dari keluarga prasejahtera kerap menghadapi keterbatasan nutrisi, lingkungan belajar yang kurang kondusif, hingga tekanan ekonomi keluarga, sehingga tertinggal sejak awal sebelum memasuki ruang kelas.
“Kesenjangan ini akan terus melebar jika kebijakan pendidikan tidak terintegrasi dengan kebijakan sosial,” terangnya.
Kurikulum dan Tantangan Dunia Kerja
Dari sisi kurikulum, Ina menilai Kurikulum Merdeka secara desain cukup adaptif karena memberi fleksibilitas dan mendorong pembelajaran berbasis pemahaman.
Namun, kehadiran Tes Kemampuan Akademik (TKA) dinilai berpotensi menimbulkan kontradiksi. Banyak sekolah kembali pada pola teaching to the test karena fokus pada capaian nilai ujian.
“Ini berisiko menggerus semangat awal kurikulum yang ingin membangun kemampuan berpikir dan eksplorasi. Problemnya bukan pada arah kurikulum, tetapi pada inkonsistensi kebijakan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan utama pendidikan saat ini adalah penguatan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills), bukan sekadar kemampuan teknis.
Menurutnya, dunia kerja kini membutuhkan individu yang mampu memahami persoalan kompleks, berpikir kritis, serta menemukan solusi baru.
“Namun, sistem pendidikan kita masih banyak melatih siswa mencari jawaban benar, bukan mengajukan pertanyaan yang tepat,” ujarnya.
Akibatnya, kemampuan seperti pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan inisiatif belum berkembang optimal, padahal keterampilan tersebut menjadi kunci adaptasi di tengah perubahan yang cepat.
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Khutbah Jumat: Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri
3
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
4
Kontroversi Gerbong Perempuan, Menteri PPPA Klarifikasi dan Sampaikan Permohonan Maaf
5
Respons Wacana Penutupan Prodi yang Dinilai Tak Relevan, LPTNU Tekankan Kebijakan Komprehensif
6
Data Terbaru Kecelakaan Kereta: 16 Orang Meninggal Dunia
Terkini
Lihat Semua