Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Dr. Ali Maschan Musa, mengatakan, dialog antara NU dan Muhammadiyah untuk mencari titik temu penentuan Idul Fitri (1 Syawal) perlu terus dibangun kendati perbedaan pendapat sudah ada sejak dulu karena keduanya menggunakan metode yang berbeda.
"Beda pendapat dalam hal-hal yang masih menjadi perdebatan (furuiyah) memang sulit dihindari tapi harus ada dialog yang terus menerus," katanya.<>
Menurut Ali Maschan Musa yang hari Selasa bertolak ke Canberra setelah Senin malam memberikan ceramah Ramadhan kepada belasan warga Muslim anggota Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB), selama metode yang dipakai kedua Ormas Islam itu berbeda, agak sulit untuk mencari titik temu.
Ia mengatakan, dikenal tiga metode untuk menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawal dengan rukyah internasional atau Makkah, Pemerintah RI dan sejumlah Ormas Islam, termasuk NU, menggunakan metode hisah dan rukyah, sedangkan Muhammadiyah hanya memakai metode hisab.
Perbedaan pendapat yang ada masih bisa ditoleransi selama tetap berhenti pada beda pendapat semata, dan tidak ditarik ke ranah politik, katanya. Dalam perkembangan lain, NU dan Muhammadiyah, Selasa, bertemu di kantor PB NU, Jakarta, untuk kembali bersilaturahmi dan berdialog terkait dengan perbedaan dalam penetapan akhir Ramadhan atau 1 Syawal.
Dalam pertemuan tersebut, NU diwakili Lajnah Falakiah yang dipimpin KH Ghozalie Masroeri, sedangkan Muhammadiyah diwakili Majelis Tarjih yang dipimpin Abdul Fatah Wibisono.
Pertemuan tersebut juga diikuti Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Dirjen Bimas Islam Depag Prof KH Nasaruddin Umar. Kiai Hasyim Muzadi berharap dalam dialog tersebut tidak terjadi debat untuk mempertahankan argumentasi masing-masing dan juga dihindari unsur gengsi.
Sementara itu, Muhammadiyah masih tetap pada pendiriannya bahwa Idul Fitri 1428 H jatuh pada 12 Oktober, sedangkan NU baru menetapkan jatuhnya lebaran setelah sidang isbat yang digelar Departemen Agama pada 11 Oktober 2007.
Ketua LFNU, KH Ghozalie Masroeri menyatakan, pihaknya memakai metode hisab sebagai patokan untuk melaksanakan rukyat (melihat bulan). Keputusan jatuhnya lebaran tergantung hasil rukyat. (ant/sir)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
Terkini
Lihat Semua