Ekonomi BRIC Terus Tumbuh di Tengah Krisis Finansial di Barat
NU Online · Senin, 9 Juni 2008 | 03:18 WIB
Krisis finansial di Barat tidak serta merta membawa akibat buruk bagi semua negara. Empat negara, yaitu Brasil, Rusia, India, dan China, atau disingkat BRIC justru mengalami pertumbuhan ekonomi lebih pesat daripada perkiraan sebelumnya.
JIm O'Neil, ekonom Goldman Sachs, mengatakan, krisis ekonomi yang dimulai dengan kolaps-nya pasar suart berharga yang berhubungan dengan kredit perumahan di AS memungkinkan negara-negara BRIC mengambil porsi produk domestik bruto (PDB) dunia lebih banyak.<>
"Dalam basis relatif, situasi ini memungkinkan BRIC berkembang lebih cepat karena mereka akan mengambil bagian lebih besar dari PDB dunia tidak lama lagi," kata O'Neil, Ahad (8/6), dalam wawancara dengan Reuters pada sebuah forum ekonomi di St Petersburg, Rusia.
Istilah BRIC pertama kali dimunculkan tahun 2003 oleh bank investasi Goldman Sachs untuk menggambarkan betapa empat negara yang pertumbuhan ekonominya tengah menanjak itu mungkin menyaingi, bahkan mengambil alih, berbagai keunggulan ekonomi Barat selama setengah abad ke depan.
"Ini adalah krisis finansial di Barat. KIta tidak boleh lupa bahwa sebagian besar dari 6 milyar penduduk dunia tidak terpengaruh krisis ini," ujar O'Neil.
”Saya berada di India empat pekan lalu dan tak ada tanda-tanda India terpengaruh krisis finansial itu,” kata O’Neill, yang memimpin riset ekonomi global di Goldman. Dia mengatakan, China, India, dan Rusia tumbuh lebih cepat daripada prediksi penelitiannya. ”Ekonomi Rusia, China, dan India tumbuh rata-rata 2 persen lebih besar daripada perkiraan kami. Ini sangat tinggi karena secara kolektif mereka menguasai 16 persen PDB global,” kata O’Neill. Gabungan PDB keempat negara ini bisa mengalahkan kekuatan ekonomi G-7 (Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Jepang, AS, dan Kanada).
Menjadi kekuatan geopolitik
BRIC kini tengah mengupayakan pembentukan kelompok politis untuk mengubah kekuatan pertumbuhan ekonomi mereka menjadi kekuatan geopolitik yang lebih besar. Bulan lalu di Yekaterinburg, Rusia, keempat negara ini meresmikan kelompok BRIC melalui pertemuan para menteri luar negeri.
O’Neill mengharapkan para pemimpin Barat memerhatikan pertemuan itu dan mulai mempercepat proses menggandeng BRIC masuk ke Grup 8 (G-8) dan Dana Moneter Internasional (IMF). ”Saya kira, lambatnya pemimpin G-8 dan Barat untuk berubah berakibat buruk dan menjadi salah satu persoalan terbesar dunia saat ini,” ujarnya.
Namun, kritikus mengatakan, pandangan optimistis soal BRIC mengabaikan hambatan utama perkembangan ekonomi mereka, seperti ketidakstabilan politik, korupsi yang merajalela, dan infrastruktur yang sudah tua. Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengakui, Rusia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, tetapi penegakan hukum harus diperkuat dan korupsi harus diberantas. (reu/kom/dar)
Terpopuler
1
Film Pesta Babi: Antara Pembangunan dan Kezaliman atas Tanah Adat
2
Kemenhaj Tetap Izinkan Jamaah Haji Bayar Dam di Tanah Air
3
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
4
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
5
200 Ribu Anak Terpapar Judol, Komdigi: Peran Tokoh Agama hingga Orang Tua Penting sebagai Benteng
6
LBH Sarbumusi Desak APH Tindak Dugaan Penyelewengan Dana MBG
Terkini
Lihat Semua