Gus Dur: Haramkan Maulid Berarti Memaki Shalahuddin al-Ayyubi
NU Online · Kamis, 20 Maret 2008 | 01:08 WIB
Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengecam kelompok atau golongan tertentu yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad. Menurutnya, hal itu sama saja dengan memaki atau menghina Shalahuddin al-Ayyubi—Sultan Mesir dan Syria sekaligus muslim pertama yang menyelenggarakan Maulid Nabi.
“Kalau ada yang mengharamkan Maulid, ya sama saja memaki-maki Shalahuddin al-Ayyubi. Ya, silakan saja,” ujar mantan presiden RI itu saat menjadi narasumber pada acara Kongkow Bareng Gus Dur, di Green Radio, Jalan Utan Kayu No. 68 H Jakarta, akhir pekan lalu.<>
Menurut Gus Dur, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang juga pendiri Dinasti Ayyubiyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekah Hejaz dan Diyar Bakr, itu menyelenggarakan Maulid untuk menyemangati kaum muslimin yang tengah berperang melawan pasukan Kristen dalam Perang Salib.
Dengan demikian, katanya, tidak semua yang tidak ada pada masa Nabi adalah bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) dan haram hukumnya. “Kalau begitu (bid’ah dan haram), kita jangan pakai celana. Pada zaman Nabi Muhammad, celana itu nggak ada. Sepatu dan sepeda juga nggak ada. Masa, sih, naik sepeda saja bid’ah?” imbuhnya.
Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu berpendapat, agama memang bersifat mengikat pemeluknya karena menyangkut keyakinan, yaitu keyakinan terkait adanya Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Sedangkan budaya, ujarnya, itu buatan manusia sendiri.
“Saya pakai celana, ini kan budaya saja, bukan agama,” kata Gus Dur. (gdn/rif)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
3
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
Terkini
Lihat Semua