Jakarta, NU Online
Tewasnya Cliff Muntu, Praja Madya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), menurut mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) disebabkan kampus tersebut masih memelihara praktik-praktik kekerasan. Ia meminta agar para pelaku penganiayaan tersebut dihukum seberat-beratnya.
"Kalau kekerasan dibiarkan, jadinya seperti ini. Mereka yang saling membunuh adalah sesama praja dan harus dikenakan hukuman yang berat," ujar Gus Dur usai membuka Halaqah Kebangsaan dan Temu Wicara Hukum Acara Mahkamah Konstitusi RI, di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (6/4).
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menegaskan, pihak kampus yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) itu juga mempunyai tugas yang harus diselesaikan dalam mencari siapa pelakunya. "Pimpinan IPDN harus segera mencari siapa otak penganiayaan," imbuhnya.
Namun demikian, Gus Dur yang juga Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu menolak usulan banyak pihak yang meminta agar IPDN dibubarkan. "Bukan dibubarkan, tetapi diperbaiki," tukasnya.
Cliff Muntu, praja madya, ditemukan tewas di kampus IPDN tepatnya di Barak DKI atas, Senin (2/4) malam. Awalnya pihak IPDN membantah Cliff meninggal akibat tindak kekerasan. Namun belakangan ada informasi yang menyatakan Cliff tewas akibat dianiaya para seniornya.
Tewasnya Cliff bukan kejadian satu-satunya. Sejak 1990-an hingga 2005 tercatat 35 praja tewas. Namun dari total praja yang tewas, hanya 10 kasus saja yang terungkap di media massa. (rif)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua