Warta

Hasyim Hadiri Pelantikan PCNU dan PC Ansor Brebes

NU Online  ·  Kamis, 30 April 2009 | 22:30 WIB

Brebes, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PCNU) menghadiri acara pelantikan dan Rakercab PCNU dan PC Ansor Kab. Brebes di lokasi Madrasah Tsanawiyah Assalafiyah Sitanggal Larangan Brebes, Kamis (30/1) sore.

Pengurus NU yang dilantik adalah hasil Konfercab NU Brebes, Sabtu (26/7/08) lalu di pondok pesantren modern Al Falah Sofwaniyah Desa Jatirokeh Kec. Songgom Brebes. Dalam konfercab tersebut terpilih sebagai ketua Tanfidiyah H. Athoillah dan Rois Suriah KH. Amin Mashudi. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Tanfidiyah PWNU Jateng H Moh. Adnan MA.<>

Sedangkan dari pihak Ansor, sebagai ketua terpilih H. Agus Mudrik hasil Konfercab Ansor pada Ahad (15/3) lalu ditempat yang sama. Pengurus Ansor periode 2009-2013 banyak terlihat wajah-wajah baru dengan latar belakang profesi yang berbeda dan strategis. Sedang pengurus PC Ansor Brebes dilantik Wakil Ketua PW Ansor Jateng Mufidz Rahmat.

Dalam kesempatan itu Hayim memngingatkan, setiap orang pada hakekatnya adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Namun ditengah hiruk pikuknya pemilihan pemimpin di negeri ini, dari tingkat pemilihan kepala daerah, pemilihan gubernur, anggota legislatif, terlihat menjadi pemimpin sepertinya dijualbelikan. Tidak terdorong oleh keikhlasan. Sehingga amat langka pemimpin yang ikhlas.

“Maka untuk menjadi pemimpin itu jangan meminta, apalagi dengan cara membeli agar dirinya diangkat jadi pemimpinan. Kalau pemimpin bisa diperjualbelikan maka yang menjadi pemimpin itu hanya orang-orang yang berduit saja. Dan bisa menghimpit kita,” ungkapnya.

Acara Pelantikan dan Raker yang diwarnai dengan 'insident' amblesnya panggung saat proses pelantikan Pengurus PC Ansor itu, menjadi catatan hikmah tersendiri. Menurut Ketua Tanfidiyah PCNU Brebes H Athoillah peristiwa tersebut memberi makna kalau Ansor Brebes semakin berbobot. “Bagaimana tidak berbobot wong pengurusnya mencapai 60 orang. Terang saja karena bobotnya sampai 4 ton maka ambles,” selorohnya.

Dalam kata sambutannya, Athoillah berharap kepengurusan NU maupun Ansor Brebes ke depan mampu membentengi paham anti aswaja. Bukan hanya untuk jajaran pengurusnya saja tapi juga seluruh nahdliyin untuk saling bahu membahu mempertahankan aqidah ahlussunah wal jamaah.

Disamping itu, NU siap membantu pemerinta memerangi kemiskinan. Pasalnya, mayoritas Nahdliyin adalah kelompok masakini. Yang kalau dihilangkan huruf i diakhir kata masakini menjadi masakin (miskin). “Lewat program-program pengentasan kemiskinan dan usaha produktif dari NU setidaknya akan mengangkat warga NU dari jurang kemiskinan,” tandasnya.

Sementara, Wakil Bupati Brebes H. Agung Wisnu Widyantoro mengikuti organisasi tak perlu mengedepankan mencari jenang (kue) dulu. Tapi utamakan mempertahankan jeneng (nama) yang harum.

“Kalau mengutamakan jenang, maka akan timbul permasalahan yang akibatnya tidak mendapatkan jenang. Tapi lihatlah, para Kiai, akibat terkenal namanya akan dipanggil ke sana kemari untuk memberi tausiyah dan disitulah jenang akan melekat dengan sendirinya,” tutur Agung.

Bisa kita buktikan, lanjutnya, ketika ingin menjadi ustadz cukup bermodalkan satu juta saja sedangkan untuk menjadi anggota dewan yang cuma 5 tahun bermodalkan samilyar. “Ustadz modalnya satu juta yakni sabar, tulus, jujur dan takwa. Tapi anggota dewan Samilyar yaitu Siapa milih saya bayar,” kelakar Agung. (was)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang