Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi kembali mengkritik kebijakan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dinilainya kerap tidak adil dalam menyikapi berbagai masalah yang terjadi di belahan dunia.
Kritik tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam seminar dengan tajuk Empowering the Indonesian Moderates to Combat Terorism and Extremism, di Universitas John Hopkins, Washington, akhir pekan lalu.<>
Menurut Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP), Amerika Serikat selama ini selalu ingin dimengerti tapi kurang mau mengerti terhadap orang lain.
“Saya berharap agar Amerika siap didengarkan dunia dan siap pula mendengarkan nurani dunia,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta dalam seminar tersebut.
Jika AS mau bersikap adil, katanya, sebenarnya sebagian dari masalah yang dihadapi dunia bisa selesai. Terkait masalah keamanan dunia, katanya, AS memegang peran yang besar, terutama terkait masalah antara Israel dan Palestina.
”Kalau Amerika bersedia berlaku adil dalam masalah Israel dan Pelestina, separuh masalah keamanan dunia akan selesai, tinggal kita selesaikan yang separuh lagi bersama sama,” ungkapnya.
Menurutnya, AS selama ini salah menerapkan strategi pendekatan dalam memerangi ektrimisme di dunia. Karena itu, lanjutnya, yang terjadi ekstrimisme bukan malah habis, tapi tumbuh subur di mana-mana.
”Amerika Serikat selain memerangi ektrimisme juga sekaligus menyuburkan ekstrimisme dunia karena pendekatan yang kasar dan sering tak berkeadilan,” ungkapnya.
Dikatakannya, ektrimisme lahir karena kesalahan dalam memahami agama dan penindasan yang menimbulkan reaksi dengan menggunakan agama. ”Ekstrimisme yang paling banyak oleh jenis yang terakhir ini,” tutur Sekjen ICIS itu.
Soal hegemoni politik dan ekonomi AS, katanya, jika hal itu diteruskan, lambat laun akan membuat bangsa AS terisolir sendiri dari pergaulan global.
”Hegemoni politik dan ekonomi menambah banyaknya perlawanan global. Kalau hal ini diteruskan, dalam jangka panjang justru amerika yang terisolir dari pergaulan etika global,” ungkapnya.
Selain menyoroti kebijakan AS, pengasuh pondok pesantren Al-Hikam, Malang dan Depok itu juga banyak berbicara soal gerakan moderasi yang selama ini dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, moderasi adalah keseimbangan antara keimanan dan toleransi.
“Keyakinan tanpa toleransi menyebabkan ekstrimisme, sedangkan toleransi tanpa keyakinan tidak jelas agama seseorang. Moderasi adalah jalan natural Islam,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, NU akan terus mengusung gerakan Islam rahmatan lil ’alamin dengan berpihak kepada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Karena itu, NU selama ini tak anti terhadap AS, namun tidak sejalan karena berbagai kebijakan yang tak sama dengan misi yang dibawa NU.
“NU akan mengusung Islam rahmatan lil 'alamin tanpa pemihakan kepentingan sesaat, tapi berpihak kepada kepentingan keadilan dan kemanusiaan. NU tidak anti Amerika, namun tidak sama dan sebangun dengan Amerika. NU mempunyai kepribadiannya sendiri yang bertanggungjawab kepada Allah SWT dan kemanusiaan,” katanya. (nam)
Terpopuler
1
Ngantor Perdana, Gus Kikin Mulai Siapkan Susunan Kepengurusan PBNU 2026-2031
2
Gus Kikin Kunjungi Pojok Gus Dur pada Momen Perdana Ngantor di PBNU
3
Anggota Banser Wafat Selepas Tugas di Muktamar, Ketum GP Ansor Takziah dan Beri Santunan
4
Gus Kikin Sebut NU Dukung Program Pemerintah, Fokus pada Pembangunan Manusia
5
Menakar Kapasitas Al-Albani dalam Ilmu Hadits: Benarkah Layak Disebut Muhaddits?
6
PCNU Jombang Harapkan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 Prioritaskan Program Keumatan
Terkini
Lihat Semua