Kandidat ketua Umum PBNU Soroti NU ke Arah Politik Praktis
NU Online Ā· Senin, 2 November 2009 | 03:25 WIB
Halaqah Alim ulama NU Jateng-DIY yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) kudus bekerja sama dengan Majmaā Al-Buhuts An Nahdliyyah, Ahad (1/1), selain memperbincangkan permasalahan terorisme juga menyoroti permaslahan NU secara keseluruhan.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan pembicara dalam acara halaqoh yang digelar di Pondok Pesantren Raidlatuth Thalibin Bendan Kudus itu adalah soal kecenderungan NU masuk dalam ranah politik praktis.<>
Para pembicara yang hadir antara lain Wakil Kepala BIN Asāad Said Ali dan para kandidat ketua umum PBNU antara lain KH Said Agil Siraj, KH Masdar F. Masāudi dan Slamet effendi Yusuf. Selain itu halaqah dihadiri KH Mustofa Bisri dan menantunya Ulil Abshar-Abdalla serta sejumlah tokoh ulama utusan dari PCNU se Jateng dan DIY.
Di depan sekitar 500 ulama itu KH Said Aqil Siraj mengatakan, perjuangan NU mendatang perlu penekanan melakukan advokasi ummat yang sebagian besar kaum lemah.
Selain itu, upaya penyelamatan Ahlussunnah wal jamaah mutlak harus dilakukan. Agar hal tersebut terwujud, menurutnya, NU mendatang harus menghilangkan kesanĀ berpolitik praktis tanpa harus melakukan kegiatan dukung mendukung.
āBagi NU, berpolitik praktis akan membawa risiko yang sangat besar bagi kepentingan ummat. Gara-gara dukungan kalah, terkesan NU seperti dijual murah. Ini yang harus kita perhatikan denganĀ mengembalikan kiprahnya pada politik kebangsaan,ā katanya berseloroh.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Slamet Effendi Yusuf. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan NU seharusnya bukan melalui politik untukĀ memperoleh kekuasaan melainkan dengan politik kenegaraan, kebangsaan dan politik kebajikan.
āMeski begitu, NU tidak boleh meninggalkan politik karena keberadaanya sangat dibutuhkan untuk mewarnai proses perjalanan bangsa ini. Secara tidak langsung NU harus tetap berpolitik tetapi tidak politik praktis,ā tandas mantan ketua umum PP GP Ansor ini.
Sementara Masdar F. Masāudi menyoroti banyaknya garapan NU yang dilakukanĀ tidak sesuai dengan bidangnya salah satunya masuk ke ranah politik praktis. Lebih tegas, Masdar menyatakan penggunaan NU sebagai alat politik merupakan bentuk liberalisasi yang harus diwaspadai.
āMakanya ke depan kita harus menjadikan NU sebagai jangkar penjaga moral bangsa. Selama kita tetap membangun akhlak tidak akan kehilangan kekuasaan,ā tandas Masdar.
Penegasan yang sama juga disampaikan Ulil Absor-Abdalla yang sempat menyatakan akan maju sebagai kandidat ketua umum PBNU. Dikatakannya, NU sebaiknya menitikberatkan pada kaderisasi anak muda. Terlebih lagi pada perguruan tinggi (PT) semacam ITB, UI, IPB dan UGM perlu juga mendapatkan perhatian.
āDari PT yang tergolong besar itu banyak potensi yang belum kesentuh oleh NU. Jadi jangan salahkan bila banyak kader NU yang direbut oleh kelompok lain akibat kurangnya perhatian kita terhadap mereka,ā katanya. (adb/zak).
Terpopuler
1
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
2
Bolehkah Suami Menggunakan Tabungan Istri untuk Membayar Utang?
3
Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
4
BNPB Sebut 639 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi
5
Kemenhaj Imbau Jamaah Umrah Indonesia Waspada, Pastikan Kesiapan Perjalanan
6
Profil KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU Ahli Ushul Fiqih
Terkini
Lihat Semua