Kitab Ulama ’Jawi’ Jadi Rujukan Umat Islam Kamboja
NU Online · Kamis, 13 Maret 2008 | 07:19 WIB
Secara kultural dan emosional umat Islam di Kamboja sangat dekat dengan umat Islam di Indonesia. Beberapa kitab karangan ulama Nusantara atau dalam literatur Arab disebut sebagai ”ulama Jawi” dikaji oleh umat Islam di sana.
Bahkan saat NU Online berkunjung ke Provinsi Kampong Cham, Kamboja, pekan lalu, Haji Sholeh bin Buchori, Imam Masjid Champa menyatakan, hingga saat ini madrasah-madrasah di sana masih mengajarkan para santri menulis bahasa Jawi atau kalangan pesantren di Indonesia menyebutnya aksara Arab pegon.<>
Sebagaimana umat Islam Indonesia, umat Islam di Kamboja mengaku mengikuti mazhab Syafi’i dalam bidang fikih, sementara dalam bidang tauhid mereka mengikuti mazhab Imam Abu Hasan Al Asy’ari.
Dalam bidang amaliah atau peribatan, mereka juga sama dengan kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang ada di Indonesia. Karena itu mereka sangat toleran dan bisa hidup berdampingan dengan komunitas Budha sebagai agama mayoritas.
Menurut Haji Sholeh, umat Islam di sana memerlukan bantuan dari Indonesia baik dalam hal tenaga pengajar atau kitab-kitab keislaman, juga biaya pembangunan masjid dan madrasah.
Selama ini bantuan memang sudah diberikan beberapa pihak termasuk dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan bebarapa lembaga dakwah di Indonesia. “Tetapi masih kalah intensif dengan pihak pemerintah Malaysia,” kata Haji Kholeh
Ustaz Umar bin Ahmad, salah seorang guru Kampong Cham mengatakan, para ustadz di Kamboja kesulitan mendapatkan kitab-kitab rujukan.
”Kitab-kitab Jawi seperti Tuhfatur Roghibin kita dapatkan dari Patani. Sementara kitab fiqah (fikih) Sabilul Muhtadin karya Syekh Arsyad Al Banjari (Banjar Kalimantan Selatan), saat ini tidak diajarkan karena kitabnya tidak tersedia,” katanya.
Bagi masyarakat Indonesia Muslim Kamboja, terutama dari Etnis Champa, sebab para wali di Indonesia, termasuk Sultan Demak Pertama Raden Fatah adalah berdarah Champa.
Bahkan hubungan masyarakat Jawa dengan Kamboja ini telah terjadi ribuan tahun yang lalu, sebab raja Sanjaya dari Mataram pada abad VIII telah mengembangkan kekuasannya sampai ke wilayah Indocina ini. (mdz)
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
3
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
4
Gempa M7,7 di Mindanao Filipina, BMKG: Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
5
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
6
Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak
Terkini
Lihat Semua