Kunjungi Irak, Ahmadinejad Hapus Sejarah Permusuhan
NU Online · Sabtu, 1 Maret 2008 | 04:19 WIB
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad akan menjadi Presiden Iran pertama yang menginjakkan kakinya di Irak sejak dua negeri itu bertikai pada era 1980-an.
Rencananya dia akan mengunjungi Irak pada Senin (3/3) mendatang. Berbagai pihak berharap kunjungan itu akan menjadi simbol pembaruan persahabatan kedua negara yang telah lama rusak.<>
Iran dan Irak memiliki sejarah permusuhan yang panjang karena perbedaan dominasi kelompok Islam antara Sunni dengan Syiah. Permusuhan panjang berakhir dengan digulingkannya Presiden Saddam Hussein karena invasi Amerika Serikat.
Di bawah kekuasaan Ahmadinejad, Iran dinilai sangat pandai memanfaatkan kedekatan Syiah untuk memulai diplomasi. Apalagi di Irak partai politik saat ini didominasi oleh kaum Syiah.
"Iran ingin memelihara kepentingan nasionalnya di Irak dengan meningkatkan hubungan diplomatiknya. Selain itu, Iran memperkuat hubungan perdagangan dan bisnisnya," Ketua Partai Fadhila Hasan al- Shimmari.
Namun di sisi lain, Hassan menilai, Teheran ingin mendominasi negara-negara tetangga dalam hal politik, ekonomi, dan pengontrolan agama.
"Iran memiliki kemampuan dalam membuat ketidakstabilan situasi politik di Irak dengan mendorong aksi kekerasan dengan mendukung persenjataan para militan. Mau tidak mau kekerasan tersebut akan menjadi permasalahan berat bagi pemerintah Irak," katanya.
Dia juga mengungkapkan, sistem politik di Irak belum matang dan itu memberikan kesempatan bagi Iran untuk mengintervensi kebijakan pemerintah Irak.
Sementara itu para pejabat Amerika Serikat menganggap Iran memanfaatkan pengaruh Syekh Moqtada al-Sadr yang memiliki pengaruh cukup luas di kalangan militan Mahdi. Iran dianggap sebagai dalang di belakang aksi kekerasan yang dilakukan Al Sadr di Irak.
Rakyat Iran secara umum menginginkan agar stabilitas di Irak memberikan keuntungan baik politik dan ekonomi. Namun di sisi lain, ada keinginan lainnya agar militer AS segera meninggalkan Irak. "Kebijakan diplomasi Iran bercabang dua," kata Hasan.
Meskipun ada ketakutan AS dan negara Arab di Timur Tengah dengan keinginan Irak bekerja sama dengan Iran, banyak pakar yang mempercayai Washington dan Teheran akan menemukan jalan yang sama mengenai permasalahan Irak.
"Iran dan AS sama-sama mendapatkan dukungan dari pemerintah dan politisi di Irak. Kedua negara tersebut juga akan berbagi kepentingan," ungkapnya. (ant/okz/nur)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua