Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) mengadakan pelatihan khusus pemberdayaan tenaga mental dan spiritual dai transmigran melalui pondok pesantren. Pelatihan gelombang pertama diadakan di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur selama 1 bulan diikuti sebanyak 50 dai dari 6 daerah transmigrasi.
Acara pembukaan pelatihan diadakan di masjid Pesantren Tebuireng, Sabtu (13/12), dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, pengasuh Pondok Pesantren KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Dirjen Pembinaan dan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Depnakertrans Joko Sidik Pramono.<>
Keenam darah transmigrasi yang dipilih adalah Sulawesi Selatan, Bengkulu, Natuna, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Selatan dan Lampung. Menurut Sekjen PP LDNU Khoirul Huda Basyir, pelatihan sudah berlangsung sejak awal bulan Desember lalu, dan akan berlangsung hingga akhir bulan. “Acara kali ini hanyalah pembukaan secara resmi,” katanya saat memberikan sambutan.
Dikatakannya, pesantren Tebuireng dipilih sebagai pusat pemberdayaan tenaga mental dan spiritual dai transmigran melalui pondok pesantren karena pesantren yang pernah dipimpin oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim As’ary ini dianggap sebagai induk dari pesantren-pesantren yang ada saat ini.
“Melalui pesantren tebuireng kita akan melatih para dai di wilayah transmigran agar memiliki keterampilan dan keahlian dalam merespon perkembangan dan tantangan zaman,” katanya.
Dirjen P2MKT Joko Sidik Pramono mengatakan, perbedaan gaya dakwah para dai di wilayah transmigran menjadi problem tersendiri di wilayah transmigran, maka kegiatan pelatihan dai di wilayah transmigran diperlukan untuk menyamakan persepsi tentang dakwah.
“Ada da’i yang slow, tengah-tengah, dan ada dai yang sangat keras. Ini kurang menguntungkan pengembangan daerah transmigrasi,” katanya.
Gus Sholah dalam sambutannya berharap para dai diajarkan bagaimana memahami perbedaan yang berkembang di masyarakat masing-masing, juga bagaimana menyelesaikan berbagai perbedaan, terutama terkait persoalan keagamaan.
“NU sendiri memang tak pernah ambil posisi ekstrim, tak pernah menyalah-nyalahkan orang lain. Semua benar, yang salah adalah yang menyalahkan orang lain,” katanya.
Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menambahkan, dakwah harus disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan riil masyarakat setempat. Lebih dari itu, tingkah laku para dai menjadi dakwah terpenting bagi para dai itu sendiri.
“Para kiai dulu juga tidak banyak bicara, tapi mereka menjadi uswatun hasanah, diikuti oleh masyarakat karena mereka berdakwah dengan perilaku. Jadi yang lebih penting bukan hanya metode berdakwah tapi karakteristik dari dai itu sendiri,” katanya. (nam)
Terpopuler
1
Gus Kikin Kenang Perjuangan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid untuk NU
2
Kiai Miftach Ingatkan Pentingnya Wirid hingga Akhir Hayat
3
Data Hilal Awal Bulan Jumadal Ula 1448 H
4
Kemenhaj Cabut Izin KBIHU Al-Fatah karena Palsukan Data Dam dan Badal Haji
5
Status Gunung Anak Krakatau Siaga, Masyarakat Dilarang Beraktivitas dalam Radius 5 Km
6
Material Pemadam Karhutla dari Brasil Diuji di Sumsel, Diklaim 10 Kali Lebih Efektif
Terkini
Lihat Semua