Malaysia Hentikan Semua Persembahan Kesenian Asal Indonesia
NU Online · Selasa, 4 Desember 2007 | 04:20 WIB
Kuala Lumpur, NU Online
Kementerian Pelancongan Malaysia minta semua promosi pariwisata yang menampilkan kebudayaan yang berasal dari Indonesia seperti tarian Barongan dan Endang dihentikan menyusul kontroversi oleh para aktivis kebudayaan Indonesia.
Menteri Pelancongan Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan langkah itu diambil guna meredakan kontroversi dan pembahasan atau perundingan yang akan dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan, kesenian dan warisan Malaysia dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, demikian harian Utusan Malaysia, Selasa.
"Tarian Barongan memang ada di Johor. Kalau lihat sejarah nenek moyang kita menjelajah dari satu pulau ke pulau dengan membawa budaya dan cara hidup seperti tarian tradisional dari Indonesia yang kini menjadi bagian seni budaya Malaysia," kata Adnan.
Zaman dulu mana ada batas antara Malaysia dan Indonesia, mana ada paspor dan tidak ada sistem imigrasi," katanya kepada para wartawan.
Ia mengatakan pula, ketika delegasi Malaysia mempersembahkan tarian Endang di Osaka, Jepang, Departemen Luar Negeri dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI mengirim surat protes yang berisi mengingatkan bahwa tarian tersebut berasal dari Indonesia.
Kementerian pelancongan dan kementerian kebudayaan, kesenian dan warisan Malaysia sudah mengatakan kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan ini.
Selain itu, Utusan Malaysia juga membuat karikatur percakapan dua laki-laki, "Barongan, tarian Endang dalam promosi pelancongan dihenti," "Tempe masih bisa di makan".
Sementara Berita Harian menurunkan berita bahwa kementerian pelancongan dan kementerian kebudayaan, kesenian dan warisan akan duduk satu meja dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI untuk membahas kontroversi kesenian dan kebudayaan Indonesia-Malaysia.
Ketika Menteri Jero Wacik dan Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Rais Yatim bertemu, Sabtu (10/11) di Kuala Lumpur mengatakan, "Indonesia dan Malaysia itu satu rumpun. Kebudayaan dan kesenian relatif sama. Tidak masalah kesenian Indonesia dipentaskan Malaysia dalam forum internasional tapi harus jujur dikemukakan bahwa asalnya dari Indonesia". (ant/ddi)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua