Peringatan hari Ibu tahun 2010 hendaknya menjadi momentum bagi pengembangan kualitas diri dan keluarga. Tinggi rendahnya kualitas keluarga akan ditentukan sejauh mana kualitas ibu. Sebagai pondasi awal, ibu menjadi penentu disegala bidang, termasuk kokohnya negara.
“Wanita, dalam hal ini ibu menjadi tiang negara,” ujar Sekretaris Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kab. Brebes Dra Hj Farikha usai mengikuti upacara hari Ibu di sekretariat Pemkab Brebes Rabu (22/12).<>
Cermin dari kualitas keluarga, kata Farikha, adalah terlahirnya putra putri yang sholeh dan sholeha dari sentuhan tangan-tangan ibu. Bila telah terbentuk anak-anak yang sholeh dan sholeha tentunya akan tercipta keluarga yang sakinah. “Nah dari keluarga yang sakinah itulah, akan menguatkan sendi-sendi bangsa,” terangnya.
Negara, lanjutnya, tidak akan kokoh manakala disetiap keluarga terjadi broken home. Ibu tidak lagi mampu berperan mengendalikan anak-anak maupun suami. Untuk itu seorang ibu harus berperan ganda, yakni sebagai sutradara dan pemeran dalam sinema keluarga. Meskipun peran itu sulit dimainkan, tetapi harus dilakukan secara maksimal, apapun hasilnya.
Seperti dalam peran pergulatan globalisasi, lanjut Farikha, peran ibu sangat penting untuk memback upnya. Sehingga anak-anak tidak terjerumus pada jurang kesesatan akibat salah asuh maupun keliru langkah. Kehadiran teknologi komunikasi yang cepat, justru bisa digunakan oleh seorang ibu untuk mendekatkan pada anak-anak maupun suami. “Bukan malah mengundang kemaksiatan,” ungkapnya.
Termasuk menjadi wanita karier, masih kata Farikha, fungsi seorang ibu jangan sampai ditinggalkan. Sebab ada skat-skat yang harus dipatuhi dan waktu tertentu yang diperuntukan khusus untuk suami dan anak-anaknya. “Istilahnya, jangan lupa diri ketika mencapai puncak prestasi karier,” ujar ibu dari tiga anak ini.
Hal lain yang harus diingat adalah kemuliaan seorang ibu yang harus dipertahankan. Yakni kedudukan ibu, sampai-sampai surga pun berada ditelapak kaki ibu karena kemuliaannya. “Surga itu dibawah telapak kaki ibu,” ujarnya sembari menyitir sebuah hadits.
Artinya, kata Farikha, seorang ibu harus menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya. Kemuliaan dan kehormatan seorang ibu tiada bandingnya. “Termasuk bila disandingkan dengan surga, Ibu jauh lebih mulia,” tandasnya. (was)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Beribadah
2
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
3
MK Sebut Jakarta Masih Berstatus Ibu Kota Negara, Lalu IKN?
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
Jamaah Haji Aceh Terima Uang Baitul Asyi Rp9,2 Juta, Wujud Warisan Ulama yang Terus Hidup
6
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan Modern
Terkini
Lihat Semua