Mendekati pelaksanaan pemilu legislatif 2009, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan taushiyah di antaranya menegaskan bahwa memilih pemimpin yang memenuhi syarat-syarat ideal dalam Islam merupakan kewajiban.
"MUI melihat bahwa memilih pemimpin dalam Islam sangat menghajatkan syarat-syarat yang sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemashlatan dalam masyarakat," demikian dalam taushiyah yang dibacakan oleh Ketua MUI KH Kholil Ridwan di kator MUI Jakarta, Senin (16/3)<>.
MUI memandang pemilu yang akan diselenggarakan merupakan momentum strategis untuk melakukan perubahan dalam kehidupan berbangsa, katanya.
Oleh karena itu, MUI menyerukan kepada pemilih untuk menggunakan hak pilihnya sesuai kemantapan hati, dengan memilih calon legislatif yang beriman, bertaqwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif, dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan mau memperjuangkan kepentingan umat Islam dan bangsa.
Dalam berkampanye, lanjut Kholil, MUI juga menyerukan kepada seluruh partai politik dan calon anggota legislatif untuk tidak menggunakan praktik-praktik yang tidak terpuji dengan menghalalkan segala cara, seperti politik uang, mencaci maki, dan menjelek-jelekan orang lain.
"Perbuatan tersebut bertentangan dengan ajaran agama dan budaya bangsa," jelasnya.
Dan menghadapi hari pemungutan suara, Kholil mengajak, umat Islam untuk memperbanyak dzikir, doa, dan bermunajat pada Allah SWT, agar pemilu berlangsung lancar, aman, tentram dan damai.
Dalam kesempatan itu, Ketua MUI KH Ma`ruf Amin menjelaskan, salah satu point taushiyah MUI yang mewajibkan memilih pemimpin ideal, dimaksudkan agar masyarakat bisa lebih teliti dan lebih kritis dalam menentukan pemimpin negara ini kedepannya.
"Kita mendorong pemilih untuk memilih pemimpin dengan berhati-hati dan selektif, maka haram kalau memilih pemimpin yang diluar syarat-syarat yang ditentukan," ujarnya.
Beberapa taushiyah MUI ini, katanya, sudah dibicarakan dalam forum Ijtima` Ulama di Padangpanjang beberapa waktu lalu. (nam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
2
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua