NU Ibarat Keluarga Besar yang Tak Lagi Ada Semangat Kebersamaan
NU Online · Rabu, 2 Juli 2008 | 02:08 WIB
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Keberadaannya ibarat sebuah keluarga besar yang tinggal di sebuah rumah besar pula. Namun, belakangan muncul fenomena, keluarga besar itu tak lagi ada semangat kebersamaan di dalamnya.
Hal tersebut dikatakan KH Subekhan Makmun, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah, Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, di kediamannya, Selasa (1/7) kemarin. Demikian dilaporkan Kontributor NU Online, Wasdiun.<>
“NU itu ibarat rumah besar, yang di dalamnya penuh dengan kamar-kamar badan otonom. Sayang, kamar-kamar itu mulai membuat tungku sendiri dan makan sendiri-sendiri. Tidak ada acara makan bersama guna menjalin kebersamaan,” ujar Kiai Subekhan—begitu panggilan akrabnya.
Komentar bernada kritik itu disampaikannya menanggapi bakal digelarnya Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah NU Jateng, di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, pada 11-13 Juli mendatang.
Menurut dia, fenomena itu muncul, salah satunya, akibat faktor kepemimpinan yang dijalankan selama ini. Para pemimpin, khususnya di lingkungan PWNU Jateng, tidak memberikan perhatian pada “kamar-kamar” itu.
Namun demikian, ia yakin akan muncul seorang pemimpin yang dapat memperbaiki kondisi di lingkungan NU Jateng dalam konferwil nanti. Syaratnya, seseorang itu harus bersedia menjadi ‘kuli’ (buruh) bagi majikannya, yakni, umat.
“Seorang pemimpin itu ajir, kuli bagi rakyat. Jadi, jangan sok jadi majikan yang pandainya hanya tuding sana-sini tanpa melakukan tindakan nyata,” tandas Kiai Subekhan.
Konferwil nanti tidak hanya memilih ketua baru. Melainkan juga mengagendakan laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya dan merancang program kerja pengurus lima tahun mendatang.
Ia berpesan agar dalam memilih ketua PWNU Jateng nanti harus memenuhi kriteria seorang yang al-qowi dan al-amin. Al-qowi adalah kuat fisik dan memiliki kecerdasan serta mampu menjaga emosi. “Kuat duniawi (harta) tidak masuk dalam kategori al-qowi,” ujarnya.
Sedangkan al-amin, lanjutnya, pemimpin itu harus dapat dipercaya yang dapat dilihat sejak kecil dalam perilakunya. Amanat, jujur, tegas, tanpa rikuh dalam menyampaikan isi hati tentang kebenaran. (rif)
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
5
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
6
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
Terkini
Lihat Semua