Para ulama dan warga Nahdliyin berharap agar Nahdlatul Ulama (NU) bisa netral dan tidak terpengaruh untuk bermain pada politik praktis. Para Kiai juga berharap agar warga Nahdliyin tidak mengalami perpecahan karena berbeda dalam mendukung calon di pemilihan presiden mendatang.
Setidaknya, demikianlah harapan yang disampaikan KH Faqih Ustman, Pengasuh Ponpes Al-Qur'an Nurul Huda di Mojokerto, Senin (18/5). Mantan ketua tanfidziyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Mojokerto periode 2004-2009 ini juga aktif mengajak warga Nahdlyiin agar menentukan pilihannya tanpa membawa-bawa jam’iyyah NU.<>
''Kita di daerah, berharap agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bisa netral dan tidak ikut arus untuk mendukung salah satu kandidat dalam perhelatan pilpres ini,'' kata mantan Ketua MUI Kota Mojokerto ini.
Gus Faqih, panggilan akrabnya, melihat potensi perpecahan di antara pengurus NU dan para kiai justru akan muncul apabila PB NU memberikan garis untuk memilih salah satu calon. Sementara kenyataan di lapangan, banyak kiai yang telah memiliki pilihannya sendiri dalam politik.
''Nanti NU sendiri yang akan dirugikan jika para ulama saling bersitegang karena dukung mendukung dalam pilpres. Akan terlihat peta politik di kalangan kiai dan NU, dan ini kurang bagus di mata umat,'' kata Gus Faqih lagi.
“Harus saya sampaikan, bahwa dukung mendukung dapat menjadikan NU terpecah-pecah. Terus terang saya kasihan melihat NU pasca pilgub dan pileg ini,'' katanya lagi. (min)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
2
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
3
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
4
Khutbah Bahasa Jawa: Kautaman Silaturahim lan Cara Nepung Paseduluran
5
Khutbah Idul Fitri: Saatnya Menghisab Diri dan Melanjutkan Kebaikan
6
Khutbah Idul Fitri 2026: Refleksi Makna Kembali ke Fitrah secara Utuh
Terkini
Lihat Semua