Wakil Ketua Lembaga Budayaman dan Seniman Muslim Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) yang juga seorang peneilti sejarah banyak mengungkap sejarah Pasuruan. Berdasarkan penelusurannya terungkap, konon Bangil dan Pasuruan adalah dua daerah yang berbeda. Masing-masing daerah itu mempunyai bupati sendiri.
"Pada 1708 sampai 1740, bupati Bangil yakni Ki Tumenggung Puspo Dirjo. Bupati ini adalah putra dari Bupati Gresik Pusponegoro," ujar Agus dalam Dialog Budaya bertema Sejarah dan Tradisi serta Peran Pesantren dalam Pengembangan Budaya Religi dan Meretas Jejak Sejarah Pasuruan yang digelar Pondok Pesantren Wahid Hasyim, akhir pekan lalu.<>
Menurut Agus, kedua wilayah itu digabung menjadi satu saat Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) masuk ke Indonesia. Alasan penggabungan itu karena, pemberontakan dan angka kriminalitas di Bangil cukup tinggi.
"Penggabungan itu terjadi di tahun 1800-an. Jadi karakter masyarakat Bangil dengan Pasuruan memang berbeda sejak dulu," tandas Agus.
Oleh karena itu, lanjut Agus, masyarakat di Bangil memiliki corak dakwah yang berbeda dengan Pasuruan. Terutama dikarenakan Bangil dikenal sebagai basis masyarakat Arab di daerah tersebut. (min)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah
2
Kapan Lebaran 2026? Berikut Data Hilal 1 Syawal 1447 H oleh LF PBNU
3
Khutbah Jumat: Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan
4
Khutbah Jumat: Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa
5
KPK Resmi Tahan Gus Yaqut atas Tuduhan Korupsi Kuota Haji
6
Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Terkini
Lihat Semua