Penyebaran Islam di Brazil Terhambat Minimnya Buku-Buku Rujukan
NU Online · Senin, 14 Juli 2008 | 23:51 WIB
Minimnya buku-buku rujukan keislaman dalam bahasa Portugal menjadi penghambat utama atas proses penyebaran Islam di Brazil. Hal ini sekaligus menjadi keluhan besar masyarakat Muslim Brazil, karena di satu sisi semangat mereka untuk mempelajari Islam lebih jauh dan mendakwahkannya terbilang cukup tinggi.
Sebagaimana dilansir situs berita Aljazeera (13/7), beberapa pemuka agama Islam di Brazil memandang kendala ini disebabkan karena dua faktor sekaligus, yaitu faktor eksternal dan internal.<>
Faktor luanya adalah institusi-institusi Islam di beberapa negara Muslim, utamanya di Timur Tengah, semisal Al-Azhar di Mesir, Zaitunah di Tunis, Hawzah di Qom, Majma’ al-Ulama di Saudi, dan lain-lain, yang kurang begitu memperhatikan nasib penyebaran Islam di negeri Samba itu. Hal ini, setidaknya, tampak dari minimnya jumlah buku-buku keislaman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal-Brazil oleh institusi-institusi tersebut, serta minimnya para da’i Islam yang dikirim ke Brazil.
Sementara faktor penghambat dari dalam berpangkal pada sejarah awal mula penyebaran Islam di Brazil sendiri. Orang-orang Muslim yang datang ke Brazil pada awal mula sejarahnya adalah para budak atau pekerja kasar, yang secara intelektual jauh dari tradisi keilmuan dan minim wawasan keislaman. Di paruh abad ke-20, beberapa imigran Arab tercatat datang dan menjadi warga Brazil, namun mereka mempunyai wawasan keislaman yang terbatas.
Sekalipun demikian, seorang penulis dan pengarang Brazil keturunan Arab, Samir Hayek, mengungkapkan, bahwa kaum Muslim Brazil generasi sekarang banyak memiliki tingkat kehidupan yang layak, menempati jabatan publik dan pemerintahan, juga memiliki tingkat pendidikan tinggi. Kesemua ini menjadi utama modal bagi dakwah dan penyebaran Islam di Brazil.
”Namun sayangnya kemampuan dan penguasaan mereka akan bahasa Arab terbilang minim,” kata Hayek.
”Umat Muslim Brazil merasa keberatan ketika dihadapkan pada buku-buku Islam yang menjadi rujukan pokok, yang ditulis dalam bahasa Arab. Mereka merasa kesulitan untuk memahaminya,” tambah Hayek.
Saat ini, umat Muslim Brazil diperkirakan berjumlah sekitar 3.000.000 jiwa, dari 180 juta penduduk Brazil. Agama Islam menjadi agama terbesar kedua di Brazil setelah Kristen.
Besarnya semua kendala di atas akhir-akhir ini sedikit banyak terkurangi, ketika Prof. Dr. Hilmi Nashr, dosen Islamic Studies di San Paulo University Brazil menerjemahkan Al-Qur’an dan menulis ringkasan hadits-hadits Nabi dalam bahasa Portugal-Brazil.
”Saya sangat berharap, negara-negara Muslim dapat membantu usaha Muslim Brazil untuk menyebarkan dan mendakwahkan syi’ar Islam. Di Brazil, buku-buku keislaman yang ditulis dalam bahasa Portugal-Brazil sangat sedikit,” ungkap Hilmi. (jzr/atj)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua