Perhimpunan Masyarakat Pesantren Sukseskan Wajar Dikdas
NU Online · Sabtu, 25 April 2009 | 07:01 WIB
Kesuksesan Wajib Belajar 9 tahun tidak hanya melulu menjadi tanggung jawab pemerintah belaka. Tapi juga diperlukan peran serta masyarakat untuk turut serta mensukseskannya. Wujud dari itu Perhimpunan Masyarakat Pesanteren Indonesia turut terlibat dalam menuntaskan wajib belajar.
“Sebagai sumbangsih turut mencerdaskan bangsa, kami menerjunkan para intelektual santri melakukan pemetaan penuntasan wajib belajar 9 tahun,” ungkap Koordinator operasional Perhimpunan Masyarakat Pesantren Indonesia (PMPI) Pusat Hamim Enha di sela-sela Training of Trainers (TOT) Program Sarjana dan Pemuda Penggerak Wajib Belajar 9 Tahun (SP2WB) Tahun 2009 di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Jateng, Jumat (24/4) siang.<>
Para intelektual santri ini nantinya tergabung dalam Program SP2WB. Tugasnya, antara lain melakukan pendataan, pemetaan, penyuluhan, sosialisasi asistansi dan fasilitasi wajar dikdas 9 tahun. “Di Brebes, sebanyak 72 santri akan dilibatkan sebagai Petugas Lapangan,” tutur Hamim.
Mereka, lanjutnya, akan diterjunkan di tiga kecamatan yakni Wanasari, Tanjung dan Losari yang tersebar ke 36 Desa. “Mereka terjun ke lapangan selama 15 hari dengan memotret angka anak usia wajib belajar yang tidak sekolah, putus sekolah, kondisi sekolah, kondisi sosial budaya, pekerjaan orang tua dan lain-lain yang menghambat program wajar 9 tahun,” tutur Hamim.
“Petugas lapangan akan door to door. Sehingga didapat data yang akurat,” tandas Hamim. Dipilihnya Brebes sebagai pilot program karena terlihat di tiga kecamatan tersebut, angka partisipasi kasar (APK) nya rendah dan angka absolutnya tinggi. “Selain Brebes, PMPI juga menggarap di Kabupaten Majalengka, Cirebon dan Subang,” ungkap Hamim lagi.
ToT SP2WB yang digelar PMPI kerja sama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Depdiknas ini, dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Dr H Munthoha Nasuha MPd.
Dalam sambutannya, Munthoha menyayangkan pola pikir masyarakat kita yang masih pragmatis. Dalam dunia pendidikan, masih dibanding-bandingkan untung-ruginya dengan menggembala sapi.
“Dalam tiga tahun, kalau anak lulus SD bisa menggembala sapi maka akan didapatkan tiga ekor sapi pula. Dan ini riil dalam pandangan masyarakat kita. Sehingga anak lulus SD lebih condong untuk bekerja,” ungkapnya.
Sementara, lanjutnya, kalau sekolah apa yang bisa didapatkan dalam bentuk materi? Padahal, ukuran keberhasilan pendidikan tidak bisa terlihat secara nyata. Tapi bisa terbaca pada perubahan pola pemikiran manusia untuk beberapa tahun mendatang.
“Saya yakin, para santri bisa membantu untuk merubah pola pikir masyarakat yang masih pragmatis terhadap pendidikan,” puji Munthoha.
Bertindak sebagai narasumber dalam ToT, antara lain Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Dr H Munthoha Nasuha, Kepala Kantor Departemen Agama Brebes H Mughni Labib, Ketua Komisi D DPRD Kab. Brebes Drs Rosikhin Abdul Gani dan dari BAPPEDA Kab. Brebes Iwang Gumawang SE. (was)
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Khutbah Jumat: Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri
3
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
4
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
Terkini
Lihat Semua