Warta

PMII Diminta Ikut Waspadai Islam Transnasional

NU Online  ·  Selasa, 9 Desember 2008 | 00:22 WIB

Brebes, NU Online
Terhadap gerakan yang merongrong paham Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) diminta untuk ikut waspada. Pasalnya Islam Transnasional yang datang dari Timur Tengah itu pergerakannya sangat sistematis dan terstruktur dengan baik.

“Sebagai kader Nahdlatul Ulama, PMII harus ikut waspada,” pinta pengasuh Ponpes Modern Al Falah Desa Jatirokeh Kec. Songgom Brebes HM Nasrudin saat diskusi dengan tema mewaspadai gerakan Islam Transnasional di Aula RSPD Kab. Brebes Jateng, Sabtu (6/12) lalu.<>

Nasrudin mengakui, akidah Aswaja yang menjadi keyakinan sebagian besar umat Islam di Indonesia, saat ini mulai mendapat perlawanan yang serius dari paham lain. Maka NU yang memegang teguh prinsip Aswaja harus mewaspadai gerakan tersebut.

Melaui metode yang sistematis dan terstruktur, mereka mudah merasuk dalam struktur masyarakat, termasuk di lingkungan NU. Tidak mustahil, lambat laun para penganut Aswaja di kalangan NU sendiri akan terjebak dan justru memusuhi NU.

"Orang NU harus waspada, termasuk PMII,” ungkapnya. Pergerakan mereka terlihat begitu sempurna dan baik. Karena memang jumlahnya mereka masih sedikit. Sehingga kesan baik dan sempurna masih dimilikinya.

"Yang jelas, apapun mereka, kalau sudah menyangkut aqidah, harus kita pertahankan," ajak Nasrudin pada peserta diskusi.

Munculnya NU pada 1926 oleh sejumlah Ulama Besar Indonesia, adalah langkah nyata untuk menyelamatkan aqidah Aswaja. Sehingga masuknya gerakan Islam transnasional tersebut, diantaranya gerakan Wahabi sampai kini bisa dicegah. “PMII harus di garda depan untuk menyelamatkan Aswaja,” tandasnya.

Diskusi itu, kata Ketua PMII Cabang Brebes Afifudin El Jupri, merupakan salah satu upaya untuk mengingatkan kembali tentang aqidah Aswaja. PMII sebagai bagian dari penganut dan pengamal Aswaja, mempunyai kewajiban untuk mempertahankan Aqidah tersebut.

"Salah satu ciri dari gerakan Islam transnasional itu antara lain anti tahlil, anti ziarah, anti barzanzi dan menganggap aqidah yang kita pegang selama ini salah," pungkas Jupri. (was)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang