Presiden Terpilih Harus Serius Berantas Korupsi
NU Online · Selasa, 21 September 2004 | 07:20 WIB
Jakarta, NU Online
Pasangan presiden-wakil presiden yang akan terpilih dalam pilpres tahap kedua, Senin (20/9) diminta memfokuskan pemberantasan praktek korupsi yang sudah merusak sendi-sendi kehidupan bangsa.
Pemimpin yang akan datang harus punya tekad yang kuat bahwa korupsi harus mulai dikikis secara serius dan dalam kaitan ini komitmen pemimpin ke depan adalah memberi teladan bagi pemberantasan korupsi serta memberi perlindungan terhadap gerakan anti korupsi.
Demikian disampaikan mantan calon wakil presiden pasangan Wiranto, KH Salahudin Wahid (Gus Sholah) di Cikarang, beberapa waktu lalu, menanggapi prioritas agenda yang patut dikerjakan presiden terpilih 2004-2009 mendatang.
<>"Langkahnya tidak cukup dengan hanya mengadili dan memenjarakan para koruptor, karena korupsi sudah membudaya," tegasnya. Dalam kaitan itu, dia juga meminta presiden dan wakil presiden terpilih tak perlu terlalu repot merumuskan pendekatan dan model pembangunan untuk meyakinkan masyarakat, karena tuntutan rakyat sangat sederhana, yakni pemberantasan korupsi secara menyeluruh.
Korupsi dan KKN, katanya, telah menjadi mantra reformasi yang menjadi alat politik para politikus untuk meyakinkan rakyat. "Tetapi, praktiknya masih jauh panggang dari arang." tegas mantan anggota Komnas HAM ini.
Semakin kencang kita berbicara tentang pemberantasan korupsi, lanjutnya, korupsi malah tetap tumbuh subur. Ini berarti komitmen pemberantasan korupsi masih sebatas retorika. "Karena itu komitmen ini harus di dahulukan, kalau bangsa ini menginginkan perubahan," tandasnya.
Adik kandung Gus Dur ini, mengatakan kegagalan pemberantasan korupsi karena aparat penegak hukum, yakni kejaksaan dan kepolisian menjadi bagian dari korupsi itu sendiri. ''Tidak bisa membersihkan rumah dengan sapu yang kotor,'' tuturnya
Dijelaskan Gus Sholah, selain pemberatasan praktek korupsi, agenda lain yang harus dilakukan adalah penegakan hukum, clean government, menciptakan birokrasi yang bersih. "Siapapun presidennya komitmen itu harus di jalankan, dan rakyat akan menilainya," tegasnya kepada NU Online (cih)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua