Raja Abdullah II Nilai Bush Penting dalam Proses Damai Timteng
NU Online · Selasa, 13 Maret 2007 | 10:28 WIB
Amman, NU Online
Raja Yordania Abdullah II, Senin (12/3) kemarin, menilai bahwa dirinya menemukan adanya "janji" dari Presiden Amerika Serikat (AS), George W Bush, mengenai pentingnya memulai kembali perundingan perdamaian di Timur-Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.
"Saya merasakan adanya komitmen dari Presiden George Bush dan pejabat tinggi pemerintahan AS mengenai pentingnya memulai kembali proses perdamaian dengan solusi dua-negara," kata Abudllah II, merujuk pada didirikannya negara Palestina yang berdampingan secara damai dengan Israel.
<>Ia mengemukakan hal tersebut kepada para mantan perdana menteri dan politikus senior di istana saat menjelaskan hasil perjalanan ke AS pekan lalu, demikian pernyataan Istana Yordania, seperti dikutip AFP.
Abdullah II mendapat dukungan "mutlak dan sepenuhnya" dari parlemen dalam pidatonya ke kongres, kata Ketua parlemen Yordania, Abdul Hadi Majali.
Selama kunjungannya, ia berbicara di hadapan kedua parlemen kongres AS, dan dia menekankan pentingnya Washington memimpin usaha menyelesaikan solusi konflik Arab-Israel.
"Pendirian negara merdeka dan berdaulat penuh Palestina di atas tanah bangsa Palestina merupakan kepentingan Yordania, sebagaimana kepentingan Bangsa Palestina," kata raja kepada para politikus tinggi negara tersebut.
Dia memperingatkan "pencegahan solusi atas persoalan bangsa Palestina serta pencegahan pembentukan negara Palestina yang berdampingan dengan Israel, berarti tidak ada keadilan dan stabilitas yang sesungguhnya di kawasan tersebut dan semua pihak akan menanggung akibatnya."
Abdullah II meminta para pemimpin Arab, yang akan mengadakan konferensi tingkat tinggi di Riyadh pada 28 Maret mendatang, untuk menghasilkan "Posisi Arab yang bersatu-padu yang memberi momentum untuk proses perdamaian dan memungkinkan berbagai pihak membangun pencapaian dari bulan-bulan terakhir."
Ia secara khusus minta para pemimpin Arab untuk "menghidupkan kembali" Prakarsa Perdamaian Arab yang pertamakali diterimai pada KTT Arab di Beirut 2002.
"Memulai kembali proses perdamaian harus berdasarkan prakarsa ini termasuk peta jalan (kuartet) dan resolusi PBB," kata Abdullah II.
Prakarsa Perdamaian Arab, yang awalnya diusulkan oleh Pangeran Abdullah dari Saudi Arabia, akan memberikan pengakuan terhadap Israel oleh semua negara Arab asalkan Israel menarik diri dari semua tanah Arab yang diduduki dalam perang Arab-Israel 1967.
Abdullah II mengemukakan, Yordania, Mesir dan Saudi Arabia berusaha keras untuk menghentikan blokade ekonomi yang dilakukan terhadap wilayah Palestina setelah Hamas memenangkan Pemilu pada Januari 2005. (ant/rif)
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
4
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
Terkini
Lihat Semua