Sekira 30 santri dari sejumlah pondok pesantren menyerbu markas Fron Pembela Islam (FPI) di Desa Setu, Weru, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (1/6) malam.
Aksi para santri yang tergabung dalam Aliansi Warga Nahdliyin (AWN) itu dilakukan sebagai reaksi atas penyerangan massa FPI di Jakarta, pada Ahad siang.<>
Mereka datang dengan mengendarai sepeda motor dan sempat dihadang sekitar 4 orang anggota FPI yang sedang duduk-duduk di ujung jalan. Adu mulut pun terjadi di antara kedua kubu.
Anggota FPI itu lantas meninggalkan kantornya. Para santri AWN lalu merobohkan papan nama FPI yang yang berukuran selebar 1 meter. Papan nama itu pun diinjak-injak dan diseret.
Aparat Kepolisian Sektor Waru yang berada di lokasi hanya melihat aksi AWN itu tanpa berusaha mencegah.
Menurut Koordinator AWN, Nuruzzaman, aksi mereka merupakan bentuk kekesalan para santri NU atas penyerangan yang dilakukan FPI di Jakarta. Apalagi, salah satu korban rusuh Monas, Kiai Maman Imanulhaq, adalah tokoh NU di Cirebon yang mengasuh Pesantren Al-Mizan.
"Kita tidak terima dengan aksi FPI yang main hakim sendiri. Inilah pembalasan dari aksi tersebut," imbuh Nuruzzaman.
AWN, lanjut dia, mengancam akan menduduki kantor FPI juga dalam 2 x 24 jam, jika FPI tidak meminta maaf atas penyerangan tersebut.
"Kita akan melakukan aksi lagi dengan massa yang lebih banyak jika FPI tidak meminta maaf atas penyerangan di Monas," pungkasnya.
Kiai Maman Imanulhaq, salah satu korban penyerangan di Jakarta, mengaku diinjak dan dipukuli dengan bambu oleh massa FPI. "Ketika itu antara pukul satu dan setengah dua siang. Kita di Monas untuk aksi damai memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Tiba-tiba massa FPI sambil berteriak bubarkan Ahmadiyah, bubarkan kafir sambil membawa bambu," terangnya.
Setelah itu, kata Maman, ada 10 orang dari massa FPI yang mengeroyoknya. "Mereka memukul muka dan menendang. Setelah itu, saya jatuh diinjak-injak dan dipukuli pakai bambu," ujar Kiai Maman.
Maman mengatakan, saat ini anarkisme masih sangat subur. "Saya tidak dendam tapi seharusnya bisa menghargai keberagaman beragama yang ada dalam UU bukan dengan kekerasan. (rif/dtc)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua