Daerah

1 Abad NU, Nahdliyin Papua Barat Doa Bersama untuk Warga Terdampak Bencana

Ahad, 1 Februari 2026 | 15:00 WIB

1 Abad NU, Nahdliyin Papua Barat Doa Bersama untuk Warga Terdampak Bencana

Doa bersama untuk warga terdampak bencana di Indonesia dalam peringatan 1 Abad NU di Papua Barat, Sabtu (31/1/2026). (Foto: PWNU Papua Barat)

Jakarta, NU Online

Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) versi Masehi dimaknai secara reflektif oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Barat. Di tengah-tengah situasi bangsa yang masih diliputi duka akibat berbagai bencana alam, PWNU Papua Barat menggelar doa dan zikir bersama sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan bagi warga terdampak.


Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus PWNU Papua Barat, lembaga dan badan otonom NU, organisasi masyarakat Islam lainnya, serta Wakapolda Papua Barat, Sulastiana yang berlangsung khidmat di Masjid Jami Merdeka Borarsi, Manokwari, Sabtu (31/1/2026).

 

Wakil Ketua PWNU Papua Barat, Hasyim Rahakbauw menyampaikan bahwa peringatan 1 Abad NU tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga ruang empati dan keprihatinan terhadap masyarakat yang terdampak bencana, seperti di Aceh, Sumatra, dan Jawa.

 

"Mereka yang terdampak ini sedang berduka, sedih karena kehilangan anak, keluarga, harta jadi kita bantu dalam bentuk doa dan zikir, sekaligus kita mohon kepada Allah Swt agar mereka bisa diberikan kesabaran dan kekuatan,” ujar Hasyim kepada NU Online, Sabtu (31/1/2026).

 

Menurutnya, memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, peringatan satu abad NU dijadikan sebagai ruang refleksi dan muhasabah agar NU tetap relevan, solid, dan berdaya guna bagi umat dan bangsa.


"Kami berharap bahwa NU hingga hari ini masih berdiri di tengah perubahan zaman dan waktu. Dengan bersyukur dan memohon kepada Allah agar NU ke depan semakin besar, kuat, jaya, terus berkhidmat untuk Indonesia dan masyarakat yang ada di dunia itu harapan masyarakat Nu di Papua Barat,” ucapnya.


Pihaknya juga menyampaikan bahwa kondisi sosial masyarakat Nahdliyin di Papua Barat yang mayoritas tinggal di wilayah pesisir, sehingga rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam.


"Memasuki abad kedua, semoga NU tetap solid, kuat dan memberikan kebermanfaatan kepada umat dan bangsa. Di Papua Barat hampir 70 persen kaum Nahdliyin ada di pesisir pantai, sehingga kita berharap ke depan kalau orang NU di Papua Barat jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya” ujarnya.


Usai doa dan zikir bersama, kata Hasyim, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi 1 Abad NU yang disampaikan oleh Katib PWNU Papua Barat, H Khumaidi. Dalam refleksinya, Khumaidi menekankan empat prinsip dasar Nahdlatul Ulama yang harus terus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari Nahdliyin.

 

"Beliau kutip empat prinsip dasar yang harus dipegang oleh Nahdliyin yaitu tawadhu (rendah hati), tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), dan tawazun (seimbang),” ujar Hasyim.

 

Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi NU untuk terus berperan sebagai perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk, baik dari sisi agama, etnis, maupun latar belakang sosial.

 

"Beliau bicara tentang toleransi, perbedaan. Artinya bahwa kita ada di tengah masyarakat yang  latar belakang berbeda, multi agama, etnis, latar belakang sosial yang berbeda, kemudian perbedaan-perbedaan itu harus dijadikan  untuk memperkuat, mempererat persaudaraan,” ujarnya.