Akses ke Bener Meriah Berangsur Pulih, tapi Harus Lalui Jalan Rusak dan Jembatan Darurat
Rabu, 31 Desember 2025 | 11:30 WIB
Kondisi terkini akses jalan utama Bireuen-Bener Meriah masih rusak parah akibat banjir bandang sejak November 2025 lalu. Gambar ini diambil pada 30 Desember 2025. (Foto: NU Online/Lukman)
Bener Meriah, NU Online
Akses menuju wilayah terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mulai berangsur pulih. Namun, perjalanan menuju lokasi masih harus melewati jalan rusak dan sejumlah jembatan darurat yang kondisinya belum sepenuhnya aman.
Relawan dari PWNU Jawa Tengah menjalankan misi kemanusiaan ke Bener Meriah. Rombongan berangkat dari Banda Aceh pada pukul 05.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB, Selasa (30/12/2025), setelah menempuh perjalanan panjang melewati sejumlah titik terdampak banjir dan longsor.
Sepanjang perjalanan dari Bireuen menuju Bener Meriah, kondisi infrastruktur di beberapa titik masih dalam tahap pemulihan. Meski banjir telah surut, lumpur masih terlihat menumpuk di bangunan-bangunan yang terdampak. Warga tampak bergotong royong membersihkan sekolah serta fasilitas umum yang masih memungkinkan untuk diperbaiki. Di sepanjang jalur utama, tenda-tenda darurat juga terlihat berdiri di pinggir jalan.
Beberapa jembatan penghubung menuju wilayah terdampak masih dalam proses perbaikan. Akses jalan memang sudah dapat dilewati, tetapi kendaraan harus melintas secara bergantian dengan sistem buka-tutup, sehingga antrean panjang kerap terjadi.
Sopir yang mengantar Tim NU Peduli Jawa Tengah, Misdar, mengungkapkan bahwa kerusakan infrastruktur di jalur menuju Bener Meriah masih cukup parah. Ia menyebutkan bahwa terdapat lima jembatan di jalur Bireuen-Bener Meriah yang mengalami kerusakan berat.
“Ada 5 jembatan di daerah Bireuen arah Bener Meriah rusak parah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kelima jembatan tersebut sempat tidak bisa dilalui secara normal.
“Jembatan 5 itu parah semua terakhir saya lewati itu. Sekarang sudah bisa dilewati dengan buka-tutup secara bergantian,” katanya.
Misdar menjelaskan bahwa waktu tempuh menuju lokasi bencana sangat bergantung pada jalur yang digunakan.
“Kalau dari kota mau ke titik bencana, kalau berangkat jam 8 bisa lewat tol tanggap bencana. Kalau di bawah jam 8 lewat jalan bisa, titik pertama Sigli satu jam, kalau ke Bireuen dua jam. Kalau lewat tol 40 menit sampai Sigli,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi jalan menuju wilayah terdampak belum sepenuhnya stabil dan masih rawan gangguan.
“Jalan akses ke bencana itu kadang masih buka-tutup karena kadang ada longsor atau kerusakan jalan,” ujarnya.
Dalam perjalanan, rombongan juga harus melewati jalur alternatif dengan kondisi yang memprihatinkan.
“Ini jalan alternatif lain yang dialihkan dari jembatan yang ketiga karena rusak parah, mungkin sedang diperbaiki. Ini jalan dulunya pemukiman tetapi sekarang sudah menjadi jalan lewat,” tutur Misdar.
Ia mengaku bahwa jalur menuju Bener Meriah menjadi salah satu rute paling berat yang pernah dilaluinya selama mengantar relawan.
“Yang mau ke Bener Meriah ini, Mas. Ini agak parah, karena kita yang dulunya di atas jembatan, ini di bawah jembatan lewatnya,” ungkapnya.
Misdar menambahkan bahwa arus lalu lintas relawan juga mengalami perubahan setelah beberapa akses darurat mulai dibuka.
“Sekarang saya hari-hari ini sering ke sini. Kalau dulu kemarin, Pidie Jaya terus karena lebih dekat, satu jam setengah, dua jam sudah kita bisa PP lah. Dua jam tuh udah bisa PP, Banda Aceh-Pidie Jaya. Terus sekarang setelah dibuka akses jembatan darurat satu lagi, sudah ramai juga yang ke Tamiang. Ini kan darurat juga nih, ini baru terakses nih dalam semingguan ini baru terakses,” jelasnya.
Melihat kondisi jalan yang masih rawan, Sekretaris NU Peduli Jawa Tengah, Cucun Supredi, mengingatkan bahwa risiko bencana susulan masih mengintai.
“Ini jalan kalau ada banjir lagi hilang ini,” ujarnya saat melintasi salah satu akses jalan yang rusak parah.