Daerah

Banjir Bandang Aceh Tenggara Meluas, PWNU Minta Mitigasi dan Penanganan Sungai Diperkuat

Senin, 11 Mei 2026 | 10:00 WIB

Banjir Bandang Aceh Tenggara Meluas, PWNU Minta Mitigasi dan Penanganan Sungai Diperkuat

Seorang warga Aceh Tenggara membersihkan rumahnya yang berlumpur akibat banjir bandang, Ahad (10/5/2026) (Foto: BPBD Aceh Tenggara)

Banda Aceh, NU Online
Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara, kembali menambah daftar bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dalam beberapa pekan terakhir. Musibah yang terjadi pada Sabtu malam (9/5/2026) itu tidak hanya merusak puluhan rumah warga, tetapi juga sempat melumpuhkan akses Jalan Nasional Kutacane–Medan akibat tertutup lumpur, kayu gelondongan, dan bebatuan yang terbawa arus sungai.


Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara mencatat banjir meluas ke dua desa, yakni Desa Lawe Tua Gabungan dan Desa Lawe Tua Makmur. Sedikitnya 41 rumah warga terdampak dengan kondisi berbeda-beda, mulai dari rusak berat hingga dipenuhi lumpur tebal. Empat rumah dilaporkan mengalami rusak berat, 15 rumah rusak sedang, tujuh rumah rusak ringan, dan 15 rumah lainnya dipenuhi lumpur akibat terjangan banjir bandang.


Selain kerusakan rumah, bencana tersebut berdampak terhadap 41 kepala keluarga atau sekitar 155 jiwa. Beruntung dalam kejadian itu tidak terdapat korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi. Meski demikian, masyarakat masih dihantui kekhawatiran akan potensi banjir susulan mengingat intensitas hujan di wilayah Aceh Tenggara masih cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.

 

Sekretaris PWNU Aceh, Tgk H Asnawi M Amin, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Aceh Tenggara. Ia juga mengapresiasi gerak cepat BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat yang langsung turun membantu proses evakuasi serta pembersihan material banjir di lokasi terdampak.

 

“Kita menyampaikan rasa prihatin kepada masyarakat yang terdampak banjir bandang ini. Di sisi lain, kita juga mengapresiasi seluruh petugas dan relawan yang bergerak cepat membantu warga serta membuka kembali akses jalan nasional yang sempat lumpuh,” ujar Tgk H Asnawi M Amin, Ahad (10/5/2026).


Menurutnya, bencana yang terus berulang di sejumlah wilayah Aceh harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun seluruh pihak terkait. Ia menilai penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi harus dibarengi dengan langkah mitigasi jangka panjang yang lebih terukur dan berkelanjutan.


Tgk Asnawi menyoroti pentingnya normalisasi sungai, perbaikan drainase, serta pengawasan terhadap kawasan hulu dan daerah aliran sungai yang dinilai semakin rentan terhadap kerusakan lingkungan. Ia menyebut sedimentasi sungai dan tumpukan material kayu yang terbawa arus menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak banjir bandang.


“Curah hujan memang tinggi, tetapi kita juga harus melihat faktor lingkungan. Ketika sungai mengalami pendangkalan atau daerah hulu tidak terjaga dengan baik, maka risiko banjir bandang akan semakin besar,” katanya.

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan serta tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak kawasan hutan maupun aliran sungai. Menurutnya, kesadaran bersama sangat penting agar dampak bencana dapat diminimalisir di masa mendatang.


“Persoalan banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua pihak harus ikut menjaga alam dan lingkungan karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.


PWNU Aceh, lanjut Tgk Asnawi, berharap pemerintah dapat mempercepat proses pemulihan rumah warga serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi dengan baik. Ia juga meminta masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan longsor dan banjir susulan mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah Aceh.


Sementara itu, BPBD Aceh Tenggara hingga kini masih terus melakukan pembersihan material lumpur menggunakan alat berat excavator bersama tim reaksi cepat dan petugas gabungan. Akses Jalan Nasional Kutacane–Medan yang sempat lumpuh total kini telah kembali dapat dilalui kendaraan, meski pengendara diminta tetap berhati-hati karena kondisi jalan masih licin dan rawan longsor.